Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Salah Jika Orangtua Merasa Lelah Mengurus Anak?

ilustrasi orang tua bersama anaknya
ilustrasi orang tua bersama anaknya (freepik.com/lifestylememory)
Intinya sih...
  • Lelah adalah respons alami tubuh dan pikiran
  • Tekanan sosial membuat orangtua sulit jujur
  • Rasa bersalah sering muncul tanpa alasan yang adil
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi orangtua umumnya dinilai sebagai peran paling membahagiakan dalam hidup, penuh momen manis dan cerita hangat. Namun di balik semua itu, ada realitas yang jarang diungkap secara jujur, yaitu orangtua merasa lelah mengurus anak. Rasa lelah yang datang tanpa permisi ini bukan hanya capek fisik, melainkan juga mental serta emosional. Banyak orangtua merasa bersalah saat rasa itu muncul, seolah lelah berarti kurang cinta. Padahal, mengurus anak adalah proses panjang yang wajar jika membuat kamu kehabisan tenaga.

Rasa lelah ini biasanya dipendam karena takut dianggap gak bersyukur. Ada standar tak tertulis yang membuat orangtua harus selalu kuat, sabar, dan bahagia. Akibatnya, banyak yang memilih diam meski sebenarnya butuh didengar. Padahal, mengakui lelah bukan berarti menyerah. Justru dari kejujuran itulah orangtua bisa belajar merawat diri sendiri.

1. Lelah adalah respons alami tubuh dan pikiran

ilustrasi orang tua bersama anaknya
ilustrasi orang tua bersama anaknya (freepik.com/freepik)

Mengurus anak melibatkan energi yang gak sedikit, baik secara fisik maupun emosional. Rutinitas harian yang berulang, kurang tidur, dan tanggung jawab tanpa jeda membuat tubuh memberi sinyal lelah. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan reaksi alami manusia. Tubuh dan pikiran punya batas, dan batas itu wajar. Kamu tetap orangtua yang baik meski merasa capek.

Masalahnya, banyak orangtua memilih mengabaikan sinyal ini. Rasa lelah dianggap hal sepele yang harus ditahan. Padahal, jika terus dipendam, kelelahan bisa berubah menjadi stres berkepanjangan. Saat itu terjadi, emosi jadi lebih mudah tersulut. Mengakui lelah sejak awal justru membantu menjaga keseimbangan emosi.

2. Tekanan sosial membuat orangtua sulit jujur

ilustrasi orangtua dan anak
ilustrasi orangtua dan anak (Pexels.com/RODNAE Productions)

Lingkungan sekitar sering membentuk gambaran bahwa orangtua harus selalu bahagia. Media sosial memperkuat narasi ini lewat potret keluarga yang terlihat sempurna. Tanpa sadar, kamu mulai membandingkan diri sendiri dengan apa yang tampak di layar. Saat realitas tak seindah itu, rasa bersalah pun muncul. Padahal, apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kenyataan.

Tekanan sosial ini membuat banyak orangtua ragu untuk bercerita. Takut dicap mengeluh atau dianggap tak siap menjadi orangtua. Akhirnya, semua beban disimpan sendiri. Padahal, berbagi cerita bisa menjadi bentuk pelepasan emosi yang sehat. Kamu berhak jujur tentang apa yang kamu rasakan.

3. Rasa bersalah sering muncul tanpa alasan yang adil

ilustrasi orangtua dan anak
ilustrasi orangtua dan anak (Pexels.com/Ksenia Chernaya)

Banyak orangtua merasa bersalah karena menganggap anak adalah pilihan hidup. Karena itu, rasa lelah dianggap gak pantas untuk dirasakan. Padahal, memilih menjadi orangtua gak menghapus hak untuk merasa capek. Tanggung jawab besar tetap membawa konsekuensi emosional. Kamu bisa mencintai anak sepenuh hati dan tetap merasa lelah.

Rasa bersalah yang berlebihan justru memperberat kondisi mental. Alih-alih beristirahat, pikiran malah sibuk menyalahkan diri sendiri. Hal ini membuat kelelahan terasa berlipat ganda. Padahal, menerima keterbatasan diri adalah bentuk kedewasaan emosional. Mengasihi diri sendiri sama pentingnya dengan mengasihi anak.

4. Lelah yang dipendam bisa berdampak panjang

ilustrasi orangtua dan anak
ilustrasi orangtua dan anak (Pexels.com/monstera)

Ketika rasa lelah terus diabaikan, dampaknya gak hanya dirasakan oleh orangtua. Emosi yang tertekan bisa muncul dalam bentuk mudah marah atau menarik diri. Hal ini sering terjadi tanpa disadari. Kamu mungkin merasa berubah, tapi gak tahu penyebabnya. Padahal, itu adalah sinyal tubuh yang minta diperhatikan.

Anak pun bisa merasakan perubahan suasana emosional di rumah. Meski gak selalu mengerti, mereka peka terhadap ekspresi dan nada bicara orangtua. Lingkungan yang penuh tekanan membuat anak kurang merasa aman. Karena itu, menjaga kesehatan mental orangtua adalah bagian dari menjaga anak. Mengurus diri sendiri bukan tindakan egois.

5. Meminta bantuan bukan berarti gagal

Ilustrasi orangtua dan anak
Ilustrasi orangtua dan anak (pexels.com/@berendey/)

Ada anggapan bahwa orangtua harus mampu mengurus semuanya sendiri. Padahal, gak ada manusia yang kuat sendirian sepanjang waktu. Meminta bantuan adalah bentuk kesadaran akan batas diri. Bantuan bisa datang dari pasangan, keluarga, atau orang terdekat. Dengan berbagi peran, beban terasa lebih ringan.

Sayangnya, banyak orangtua ragu untuk meminta tolong. Ada rasa takut merepotkan atau dianggap gak mampu. Padahal, pengasuhan adalah proses kolaboratif. Anak pun bisa belajar bahwa meminta bantuan adalah hal wajar. Kamu gak harus selalu kuat sendirian.

6. Istirahat adalah kebutuhan, bukan kemewahan

ilustrasi orangtua bermain bersama anaknya
ilustrasi orangtua bermain bersama anaknya (freepik.com/freepik)

Istirahat biasanya dianggap hal yang bisa ditunda. Banyak orangtua merasa gak pantas beristirahat karena tanggung jawab belum selesai. Padahal, tubuh dan pikiran butuh jeda agar bisa berfungsi dengan baik. Tanpa istirahat, kelelahan akan terus menumpuk. Kamu berhak mengambil waktu untuk diri sendiri.

Istirahat gak selalu berarti liburan panjang atau waktu luang berjam-jam. Hal sederhana seperti tidur cukup atau menikmati waktu tenang sudah sangat berarti. Yang penting, kamu melakukannya tanpa rasa bersalah. orangtua yang lebih tenang akan lebih hadir secara emosional. Dari situlah pengasuhan yang hangat bisa tumbuh.

Orangtua merasa lelah mengurus anak bukanlah sebuah kesalahan. Itu adalah bagian alami dari peran besar yang kamu jalani setiap hari. Mengakui lelah bukan tanda menyerah, melainkan tanda kamu peduli pada diri sendiri. Pengasuhan gak menuntut kesempurnaan. Yang dibutuhkan adalah kejujuran dan keseimbangan.

Dengan memberi ruang pada diri sendiri untuk merasa lelah, orangtua bisa menjalani peran dengan lebih sehat. Kamu boleh berhenti sejenak, bernapas, lalu melanjutkan kembali. Anak gak membutuhkan orangtua yang selalu kuat, tetapi yang tulus dan hadir. Dari orangtua yang terawat, lahir keluarga yang lebih hangat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

5 Tips Mengatur Desain Ruangan yang Mengutamakan Kenyamanan

09 Jan 2026, 17:12 WIBLife