Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cara Membedakan Butuh dan Ingin, Stop FOMO Belanja!

Cara Membedakan Butuh dan Ingin, Stop FOMO Belanja!
ilustrasi belanja (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Share Article

Scroll media sosial sebentar, tiba-tiba muncul barang yang sedang viral. Gak lama kemudian, muncul video review, rekomendasi influencer, sampai promo dengan tulisan “stok terbatas” atau “tinggal beberapa lagi”. Rasanya seperti harus segera membeli sebelum kesempatan itu hilang. Padahal, tidak jarang barang tersebut sebenarnya tidak ada dalam daftar kebutuhan.

Fenomena ini berkaitan dengan Fear of Missing Out (FOMO), yaitu rasa takut ketinggalan tren, pengalaman, atau sesuatu yang sedang dimiliki orang lain. Dalam konteks belanja, FOMO bisa membuat keinginan terasa seperti kebutuhan, terutama ketika konsumen terus-menerus melihat produk populer dan promosi yang menciptakan rasa urgensi.

  1. 1. Kenali dulu ini benar-benar butuh atau cuma lagi pengin?

    ilustrasi belanja perabot (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)
    ilustrasi belanja perabot (pexels.com/Antoni Shkraba Studio)

    Cara paling sederhana membedakan kebutuhan dan keinginan adalah bertanya: “Kalau tidak membeli barang ini hari ini, apa ada masalah nyata yang akan terjadi?” Kebutuhan biasanya berkaitan dengan sesuatu yang memang diperlukan untuk menjalani aktivitas, menjaga kesehatan, bekerja, belajar, atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Sebaliknya, keinginan lebih banyak berkaitan dengan rasa senang, tren, kenyamanan tambahan, atau ketertarikan terhadap sesuatu yang sebenarnya masih bisa ditunda. Panduan finansial resmi MoneySense Singapura juga memberikan definisi sederhana.

    "Kebutuhan adalah hal-hal pokok dalam hidup, sedangkan keinginan adalah hal-hal yang kamu idamkan. Sebagai pedoman, kamu sebaiknya memprioritaskan pengeluaran untuk kebutuhan dibandingkan keinginan," demikian penjelasan MoneySense, sebuah program literasi keuangan pemerintah Singapura, dikutip dari laman MoneySense.

    Masalahnya, keinginan sering kali terasa sangat mendesak ketika FOMO muncul. Riset dalam Journal of the Academy of Marketing Science menunjukkan bahwa pembelian impulsif bukan hanya dipengaruhi faktor internal, tetapi juga berbagai stimulus dari lingkungan pemasaran.

    "Perilaku pembelian impulsif oleh konsumen telah mendapat perhatian besar dalam penelitian perilaku konsumen. Fenomena ini menarik karena tidak hanya dipicu oleh berbagai faktor psikologis internal, tetapi juga dipengaruhi oleh stimulus eksternal yang terkait dengan pasar," demikian laporan studi Impulse buying: a meta-analytic review dalam Springer Nature.

  2. 2. Waspadai “stok terbatas”, flash sale, dan tren media sosial

    ilustrasi belanja (pexels.com/Tim Douglas)
    ilustrasi belanja (pexels.com/Tim Douglas)

    Salah satu cara FOMO bekerja adalah membuat seseorang merasa kesempatan membeli hanya tersedia sekarang. Kalimat seperti “tinggal satu”, “limited edition”, “flash sale berakhir 10 menit lagi”, atau “semua orang sudah punya” dapat membuat keputusan terasa harus dilakukan secepat mungkin.

    Padahal, rasa terburu-buru tersebut belum tentu berasal dari kebutuhanmu, melainkan dari cara produk dipasarkan. Penelitian yang diterbitkan di Information & Management menemukan bahwa promosi dengan jumlah terbatas maupun waktu terbatas dapat meningkatkan perceived arousal atau gairah emosional konsumen, yang kemudian mendorong pembelian impulsif.

    "Dengan mengacu pada model competitive arousal dan model kelangkaan, makalah ini mengembangkan model penelitian untuk menunjukkan pengaruh kelangkaan berbasis kuantitas terbatas (limited-quantity scarcity atau LQS) dan kelangkaan berbasis waktu terbatas (limited-time scarcity atau LTS) terhadap pembelian impulsif melalui mekanisme mediasi berupa gairah yang dirasakan (perceived arousal). Kami melakukan eksperimen lapangan yang melibatkan 182 partisipan untuk menguji model penelitian kami. Hasil penelitian memberikan bukti kuat bahwa baik LQS maupun LTS meningkatkan gairah yang dirasakan konsumen, yang kemudian mendorong terjadinya pembelian impulsif," demikian laporan studi How does scarcity promotion lead to impulse purchase in the online market? A field experiment ScienceDirect.

    Penelitian tersebut menemukan bahwa kesan 'kelangkaan' dapat menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan pembelian impulsif. Psikolog Susan Albers, PsyD, dari Cleveland Clinic, menjelaskan bahwa perilaku belanja berlebihan juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi emosional.

    “Kebiasaan belanja kompulsif sangat berkaitan erat dengan emosi dan kesehatan mental. Hal ini sering kali menjadi cara untuk mengatasi stres, kecemasan, dan depresi. Berbelanja adalah salah satu cara kita mengisi kekosongan emosional, melarikan diri dari emosi negatif, serta mendapatkan dorongan rasa senang sesaat dalam hidup kita," jelasnya.

    Oleh karena itu, ketika melihat barang viral, jangan hanya bertanya “bagaimana kalau aku kehabisan?”, tetapi juga “kalau barang ini tidak sedang viral, apakah aku tetap menginginkannya?” Jika jawabannya tidak, kemungkinan besar yang bekerja adalah FOMO, bukan kebutuhan.

    "Perbedaan antara belanja kompulsif dan pembelian yang sehat terletak pada niat serta konsekuensinya. Dalam belanja yang sehat, kita membeli barang yang kita butuhkan dengan cara yang tenang dan terencana. Sebaliknya, belanja kompulsif dilakukan dengan rasa urgensi. Ada pemicu emosional yang mendasarinya, dan hal ini sering kali berujung pada tekanan emosional atau masalah keuangan," tambah Susan.

  3. 3. Pakai jeda sebelum checkout dan buat aturan belanja

    ilustrasi belanja dengan kartu debit (freepik.com/Jcomp)
    ilustrasi belanja dengan kartu debit (freepik.com/Jcomp)

    Salah satu cara efektif menghentikan FOMO adalah menciptakan jarak antara munculnya keinginan dan keputusan membeli. Jangan langsung memasukkan barang ke keranjang lalu checkout dalam hitungan menit. Masukkan ke wishlist, catat harganya, kemudian tunggu setidaknya 24 jam.

    Untuk barang yang mahal atau tidak terlalu mendesak, kamu bahkan bisa memberi waktu beberapa hari sampai beberapa minggu. Psikolog klinis dan terapis keuangan Traci Williams, PsyD, CFT, menjelaskan bahwa pembelian impulsif sering kali terjadi dalam keputusan yang sangat cepat.

    “Kamu melihat sesuatu yang kamu rasa kamu inginkan, lalu langsung membelinya, namun belakangan baru sadar bahwa barang itu mungkin tidak sepadan dengan harganya atau sebenarnya kamu tidak benar-benar menginginkannya,” kata Traci Williams kepada SELF.

    "Itulah sebabnya setiap ahli yang kami ajak bicara menyarankan untuk menunggu setidaknya 24 jam sebelum benar-benar melakukan pembelian. Jeda waktu itulah yang membedakan antara pengambilan keputusan yang impulsif dan keputusan yang didasari pertimbangan matang," lanjutnya.

    Kamu juga bisa membuat aturan sederhana sebelum belanja: cek apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan. Lihat apakah sudah punya barang dengan fungsi serupa, tentukan batas anggaran, dan tanyakan apakah pembelian itu tetap masuk akal tanpa embel-embel diskon atau tren.

    Berhenti FOMO belanja bukan berarti kamu tidak boleh membeli barang yang kamu suka. Kamu tetap boleh membeli sesuatu yang menyenangkan selama keputusan tersebut memang sesuai kebutuhan, kemampuan finansial, dan prioritasmu. Kuncinya adalah memberi jeda sebelum checkout dan berani membedakan “aku butuh ini” daripada “aku takut ketinggalan kalau tidak punya”.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More