Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Bawa Bekal ke Kantor: Benarkah Bisa Menghemat Banyak Uang?

Bawa Bekal ke Kantor: Benarkah Bisa Menghemat Banyak Uang?
ilustrasi bawa bekal (pexels.com/MART PRODUCTION)
Share Article

Makan siang menjadi salah satu pengeluaran rutin yang sering tidak terasa besar karena dibayar sedikit demi sedikit setiap hari. Sekali membeli makan siang di sekitar kantor mungkin hanya Rp20 ribu–Rp30 ribu, tetapi jika dilakukan hampir setiap hari kerja, jumlahnya bisa menjadi ratusan ribu rupiah dalam sebulan. Belum lagi godaan membeli kopi, camilan, atau makanan tambahan setelah melihat menu yang menarik.

Salah satu cara yang sering dianggap sederhana untuk memangkas pengeluaran adalah membawa bekal dari rumah. Namun, apakah benar membawa bekal selalu lebih hemat?

  1. 1. Selisih harga satu porsi bisa jadi besar dalam sebulan

    ilustrasi bekal (pexels.com/katerinaholmes)
    ilustrasi bekal (pexels.com/katerinaholmes)

    Cara paling mudah melihat manfaat membawa bekal adalah menghitung pengeluaran secara keseluruhan. Misalnya, kamu mengeluarkan Rp25 ribu untuk makan siang setiap hari kerja. Jika diasumsikan 22 hari kerja, pengeluaran makan siang saja mencapai Rp550 ribu per bulan.

    Dengan membawa bekal yang biaya bahan makanannya sekitar Rp12 ribu per porsi, pengeluarannya menjadi sekitar Rp264 ribu. Ada selisih sekitar Rp286 ribu yang bisa dialihkan ke tabungan atau kebutuhan lain. Logikanya bukan sekadar 'makanan rumah pasti murah', tetapi karena kamu memiliki kendali lebih besar atas bahan dan porsinya.

    "Aturan pertama untuk berhemat adalah menyiapkan makanan sendiri untuk setiap waktu makan, alih-alih makan di restoran (termasuk restoran cepat saji). Makanan yang disiapkan sendiri hampir selalu jauh lebih murah. Agar lebih praktis, cobalah memasak dalam jumlah lebih banyak sehingga kamu bisa mengolah sisa makanan tersebut menjadi hidangan lain di kemudian hari dalam minggu yang sama," demikian laporan laman edukasi nutrisi dari Harvard T.H. Chan School of Public Health dalam The Nutrition Source.

  2. 2. Kunci hematnya bukan sekadar membawa bekal

    ilustrasi bekal makan (unsplash.com/chenpitu)
    ilustrasi bekal makan (unsplash.com/chenpitu)

    Ada satu kesalahan yang sering terjadi: membawa bekal, tetapi membuat menu yang justru mahal. Misalnya, membeli bahan khusus hanya untuk satu atau dua porsi, menggunakan banyak produk premium, atau membuat menu yang membutuhkan berbagai bahan yang akhirnya tidak terpakai.

    Dalam kondisi seperti ini, bekal belum tentu jauh lebih murah dibandingkan membeli makanan di luar. Oleh karena itu, strategi paling efektif adalah membuat menu berdasarkan bahan yang sudah ada di dapur.

    "Salah satu cara paling efektif untuk menghemat biaya belanja bahan makanan adalah dengan merencanakan menu sebelumnya. Dengan meluangkan waktu setiap minggu untuk menyiapkan bahan makanan, kamu bisa membuat proses belanja menjadi lebih efisien dan meminimalkan limbah makanan," saran ahli gizi Claire Edgemon dalam Baylor College of Medicine Blog Network.

  3. 3. Masak sekali untuk beberapa hari agar lebih efisien

    ilustrasi masak (pexels.com/Vlada Karpovich)
    ilustrasi masak (pexels.com/Vlada Karpovich)

    Bagi pekerja kantoran, tantangan terbesar membawa bekal sering kali bukan soal biaya, melainkan waktu. Setelah pulang kerja, memasak untuk keesokan harinya mungkin terasa melelahkan. Akibatnya, seseorang kembali membeli makanan di luar karena dianggap lebih praktis. Di sinilah konsep meal prep dapat membantu.

    Gantina Setiawati, MS, RD, LDN, ahli gizi di Northwestern Medicine, menggambarkan meal prep sebagai creating ‘shortcuts’ for future meals. Menurutnya, makanan yang sudah disiapkan membuat seseorang lebih mudah konsisten memilih makanan ketika jadwal sedang padat.

    "Anggaplah persiapan makanan sebagai cara membuat ‘jalan pintas’ untuk hidangan di waktu mendatang. Meal prep dapat mendukung lebih dari sekadar pola makan sehat. Hal ini juga dapat membantu mengurangi stres terkait pemilihan makanan, meningkatkan kesadaran akan porsi, serta membuat jadwal makan menjadi lebih terencana dan pasti," jelasnya dalam Northwestern Medicine.

    "Kegiatan ini tidak harus dilakukan pada hari tertentu atau mengikuti prinsip 'semua atau tidak sama sekali' (all-or-nothing). Bahkan, menyiapkan satu atau dua jenis makanan sebelumnya saja sudah bisa memberikan dampak yang berarti sepanjang minggu,” lanjut Setiawati.

    Jadi, kamu tidak harus memasak lima menu berbeda dalam satu hari. Cara yang lebih realistis adalah memasak beberapa komponen dasar sekaligus. Misalnya, masak nasi, protein, dan dua jenis sayuran untuk beberapa porsi, kemudian kombinasikan dengan bumbu atau lauk berbeda.

  4. 4. Bekal bisa membantu mengurangi pengeluaran kecil-kecil

    ilustrasi bekal makan siang (pexels.com/cottonbro studio)
    ilustrasi bekal makan siang (pexels.com/cottonbro studio)

    Masalah pengeluaran makan di kantor sebenarnya tidak selalu berasal dari menu utama. Sering kali ada pengeluaran tambahan seperti es kopi, minuman manis, dessert, gorengan, atau camilan setelah makan siang. Masing-masing mungkin terlihat murah, tetapi jika dilakukan berulang kali, jumlahnya bisa cukup besar.

    Membawa bekal juga dapat membantu membuat anggaran makan lebih mudah diprediksi. Misalnya, kamu menetapkan anggaran belanja bahan makanan mingguan dan menentukan berapa porsi makan siang yang bisa dihasilkan dari bahan tersebut.

  5. 5. Tetap harus menghitung biaya bekal agar benar-benar hemat

    ilustrasi bekal spaghetti (pexels.com/Greta Hoffman)
    ilustrasi bekal spaghetti (pexels.com/Greta Hoffman)

    Membawa bekal memang berpotensi menghemat, tetapi bukan berarti semua biaya otomatis menjadi lebih rendah. Kamu tetap perlu memperhitungkan harga bahan makanan, bumbu, minyak, gas atau listrik untuk memasak, serta kemungkinan bahan makanan terbuang.

    Jika kamu membeli banyak bahan yang akhirnya rusak di kulkas, penghematan yang diharapkan justru bisa hilang. Karena itu, ukuran keberhasilan membawa bekal bukan sekadar berapa rupiah yang dikeluarkan untuk satu kotak makan.

    Coba bandingkan total biaya makan siang selama sebulan sebelum dan sesudah membawa bekal. Misalnya, jika membeli makan siang rata-rata Rp25 ribu selama 22 hari kerja, totalnya Rp550 ribu. Jika bekal rata-rata Rp12 ribu per porsi, total bahan sekitar Rp264 ribu.

    Selisih Rp286 ribu per bulan berarti sekitar Rp3,4 juta dalam setahun, dengan asumsi jumlah hari kerja dan biaya per porsi tetap sama. Jadi, semakin terencana belanja dan masaknya, semakin besar kemungkinan bekal benar-benar menjadi strategi hemat.

    Membawa bekal ke kantor bukan sekadar tren hidup hemat, tetapi bisa menjadi kebiasaan sederhana untuk mengontrol pengeluaran harian. Penghematannya paling terasa ketika kamu merencanakan menu, menggunakan bahan secara maksimal, dan memasak dalam jumlah beberapa porsi.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More