Ilustrasi merasa bahagia (pexels.com/Photo by Eyüpcan Timur)
Salah satu perubahan pola pikir yang mulai berkembang di kalangan Gen Z adalah melihat kesuksesan sebagai sebuah perjalanan jangka panjang, bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat atau paling terkenal. Media sosial memang sering menampilkan pencapaian orang lain dalam hitungan detik, tetapi kehidupan nyata tidak selalu berjalan secepat itu.
Setiap orang memiliki titik awal, kesempatan, dan tantangan yang berbeda sehingga membandingkan diri dengan orang lain justru dapat menghambat perkembangan diri. Banyak anak muda kini lebih fokus pada pertumbuhan yang berkelanjutan daripada pencapaian instan. Mereka memilih meningkatkan keterampilan sedikit demi sedikit, membangun portofolio, memperluas relasi, dan menjaga konsistensi dalam bekerja.
"Bagi Gen Z, definisi kesuksesan bukanlah kekayaan materi, melainkan kehidupan yang penuh tujuan, dampak, dan cinta. Dikatakan bahwa uang bukanlah segalanya, dan kebahagiaan tidak dapat dibeli. Gen Z tampaknya memahami hal ini secara intuitif, dan hal ini membentuk cara mereka mengambil keputusan hidup, baik besar maupun kecil," jelas Akshata Udiavar, ahli perbankan dan pasar modal sekaligus ahli strategi yang merancang pendekatan berpusat pada manusia dalam EY.
Di era digital, menjadi viral memang bisa membuka banyak peluang, tetapi popularitas bukan satu-satunya jalan menuju kesuksesan. Semakin banyak Gen Z yang memaknai sukses sebagai kemampuan untuk hidup sesuai nilai yang diyakini, memiliki pekerjaan yang bermakna, menjaga kesehatan mental, terus berkembang, dan menikmati proses tanpa harus terus mencari validasi dari media sosial.