Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Buku yang Menjelaskan Kesehatan Mental dari Kacamata Sosialisme

3 min read
5 Buku yang Menjelaskan Kesehatan Mental dari Kacamata Sosialisme
rekomendasi buku kesehatan mental dari perspektif sosialisme (dok. Zero Books/Capitalist Realism | dok. Macmillan/The Sane Society)
  • Capitalist Realism membahas hubungan kapitalisme dengan masalah kesehatan mental dan budaya self-care.

  • The Sane Society mengkritik alienasi dan dampak perkembangan peradaban terhadap kesehatan mental manusia.

  • To Have or To Be? mengkritik obsesi terhadap kepemilikan dan dampaknya terhadap kondisi mental manusia.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernahkah kamu merasa kalau tingkat stresmu saat ini berakar dari faktor di luar dirimu? Ya, bisa jadi itu dari pekerjaan atau orang-orang di sekitarmu, alih-alih pikiranmu sendiri. Ini yang mirisnya sering terlewat dalam diskursus kesehatan mental masa kini. Salah satu alasannya apalagi kalau bukan kapitalisme yang kerap menekankan tanggung jawab pribadi dan individualisme.

Agar dapat sudut pandang alternatif, coba kamu baca buku nonfiksi tentang kesehatan mental berikut. Mereka ditulis dari kacamata sosialisme yang mungkin bisa menjawab kebuntuanmu. Apa saja?

  1. 1. Capitalist Realism (Mark Fisher)

    Capitalist Realism karya Mark Fisher
    Capitalist Realism karya Mark Fisher (dok. Zero Books/Capitalist Realism)

    Capitalist Realism adalah sebuah esai yang tebalnya gak sampai 100 halaman dan berisi argumen Mark Fisher tentang kondisi mental manusia modern. Menurutnya, mayoritas isu mental yang ada merupakan produk dari kapitalisme yang memunculkan adiksi terhadap konsumerisme dan stimulasi berlebih. Apalagi, kapitalisme bisa dengan mudah membalikkan keadaan dengan mengooptasi perlawanan dan menjadikannya komoditas baru, misalnya dengan menawarkan produk-produk self-care dan memperkenalkan sesuatu yang kelihatannya progresif. Namun, itu sebenarnya kepanjangan tangan mereka.

  2. 2. The Sane Society (Erich Fromm)

    The Sane Society karya Erich Fromm
    The Sane Society karya Erich Fromm (dok. Macmillan/The Sane Society)

    Tak lengkap rasanya jika bicara psikologi dari perspektif sosialisme tanpa mencantumkan Erich Fromm. Dalam The Sane Society, Fromm berargumen kalau perkembangan peradaban manusia bisa meningkatkan risiko ketidakwarasan dalam masyarakat. Semakin canggih peradaban, kegilaan pun bisa bertambah.

    Ia juga beropini kalau validasi kolektif itu menipu. Hal yang dianggap “wajar” dan dilakukan banyak orang bukan jaminan bahwa tindakan itu benar. Kewarasan pun tidak bisa dilihat dari seberapa banyak orang yang punya kondisi sama.

    Dalam buku ini, Fromm sebenarnya menyorot bagaimana manusia modern mewajarkan alienasi yang disebabkan oleh automasi. Padahal, itu masalah utama dari segala kegilaan yang terjadi. Buku ini terbit perdana pada 1955, tapi terasa visioner karena menjelaskan apa yang kita alami sekarang.

  3. 3. To Have or To Be? (Erich Fromm)

    To Have or To Be? karya Erich Fromm
    To Have or To Be? karya Erich Fromm (dok. Bloomsbury/To Have or To Be?)

    Dalam bukunya yang berjudul To Have or To Be?, Erich Fromm mengajak pembaca memikirkan ulang tentang esensi kepemilikan. Ia awalnya membahas definisi “memiliki” dan membandingkannya dengan kata “menjadi”. Menggunakan pendekatan post-materialism dan kritik kepada adiksi mengumpulkan aset/barang, ia berargumen bahwa fokus kepada kepemilikan bisa punya implikasi neurotik. Bukan hanya soal tidak bertanggungjawab, tetapi ini juga sebuah kelainan dan masalah mental yang lebih dalam.

  4. 4. In A Place of Fear (Aneurin Bevan)

    In A Place of Fear karya Aneurin Bevan
    In A Place of Fear karya Aneurin Bevan (dok. Quartet Books/In A Place of Fear)

    Ditulis pencetus National Health Service (NHS) alias sistem jaminan kesehatan publik Inggris, In A Place of Fear merupakan upaya Bevan mempertahankan posisi politik kirinya. Dalam buku itu, Bevan juga menyenggol pentingnya kesehatan jiwa dalam program asuransi publik tersebut. Buku ini bisa dilihat sebagai bentuk perlawanan terhadap ideologi kapitalis yang condong memprivatisasi layanan dasar. Program NHS menurutnya setidaknya bisa membebaskan penduduk dari rasa takut, khawatir, dan cemas karena keterbatasan sumber daya.

  5. 5. Psychopolitics (Peter Sedgwick)

    Psychopolitics karya Peter Sedgwick
    Psychopolitics karya Peter Sedgwick (dok. Pluto Press/Psychopolitics)

    Psychopolitics dimulai Sedgwick dengan membedah teori beberapa tokoh gerakan antipsikiatri, seperti seperti Erving Goffman, RD Laing, Foucault, dan Szasz. Menurutnya, mereka punya beberapa kesamaan, yakni masih menggunakan pendekatan klasisme dan mendukung status quo. Sedgwick menyorot fakta bahwa mereka kerap melupakan isu kelas. Padahal, orang-orang kelas bawahlah yang sebenarnya lebih sering mengalami masalah kesehatan mental. Mirisnya, mereka pula yang sering dapat stigma dan susah mengakses klinik kejiwaan serta terdampak pengurangan subsidi.

    Bagaimana pendapatmu? Apakah buku-buku di atas cukup memikat untuk dibaca? Mungkin ini saatnya kamu cuti dari konten pendek. Kamu bisa coba menikmati bacaan panjang berdaging yang bikin melek tentang kondisi dunia.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More