6 Etika Titip Doa pada Orang yang Pergi Haji atau Umrah, Lihat Situasi

Di masyarakat Indonesia, saat ada orang yang akan pergi ke Tanah Suci baik untuk menunaikan ibadah umrah maupun haji terdapat beberapa kebiasaan. Paling umum ialah pamitan dengan tetangga, pengajian bersama, dan titip doa. Nantinya ketika mereka pulang dari Tanah Suci pun terdapat sambutan khusus.
Orang-orang biasanya datang bertamu untuk mendengarkan pengalamannya menjalankan ibadah haji atau umrah. Harapannya, orang yang belum pernah pergi haji atau umrah juga akan disegerakan. Lalu ada pula kebiasaan membagikan buah tangan.
Misalnya, air zamzam, aneka camilan, dan perlengkapan ibadah seperti sajadah serta tasbih. Di antara semua kebiasaan itu, titip doa sangat perlu lebih diperhatikan. Meski tampak simpel bagimu yang sedang memiliki keinginan tertentu, jangan mengabaikan enam etika berikut.
1. Titipkan doa hanya pada saudara, teman, atau tetangga dekat

Titip doa pada orang yang akan pergi menunaikan ibadah haji atau umrah sama dengan minta tolong. Ada unsur merepotkan di sini sekalipun kelihatannya sederhana. Maka kurang etis bila tiba-tiba dirimu titip doa ke orang yang tidak terlalu dikenal maupun mengenalmu.
Nanti kamu kelihatan seakan-akan sedang memanfaatkannya saja. Dirimu mendekatinya cuma pas butuh. Lebih aman bila doa hanya dititipkan ke orang terdekat. Boleh jadi tanpa kamu menitipkannya pun, orang terdekat yang amat peduli padamu sudah otomatis memasukkanmu ke daftar doanya.
Lebih kecil kemungkinan ia melupakannya setibanya di Tanah Suci. Sementara itu, orang yang gak terlalu akrab denganmu harus ekstra berusaha buat sekadar mengingat titipan doamu. Kalau ada orang yang gak dekat denganmu pergi berhaji atau umrah, kamu cukup ikut bergembira dan mendoakan kelancaran ibadahnya.
2. Doanya jangan panjang-panjang

Panjang doa juga mesti diperhatikan. Ingat, isi doa itu adalah kepentinganmu. Makin panjang doa yang dititipkan, makin repot pula orang lain. Ia mesti mengingatnya dengan keras. Kalaupun doa ditulis, membacanya jadi tak habis-habis.
Itu sudah menurunkan konsentrasinya. Padahal, orang yang titip doa bukan cuma kamu. Bisa-bisa membaca semua doa yang panjang sampai terasa seperti lagi baca buku ratusan halaman.
Titipkan doa yang singkat dan paling penting dalam hidupmu. Baik sifafnya umum maupun lebih spesifik. Contoh doa pendek yang umum ialah agar kamu selamat di dunia dan akhirat. Doa yang khusus misalnya, supaya dirimu segera dipertemukan dengan jodohmu.
3. Hindari mendesak apalagi mengancam

Dalam hal apa pun, desakan serta ancaman membuat orang lain merasa tidak nyaman. Ingat, bahwa doa mesti dipanjatkan dengan hati yang ikhlas dan khusyuk. Ini tidak tercapai apabila orang merasa dipaksa olehmu.
Malah bisa jadi ia menjadi malas mendoakanmu setibanya di sana. Semua doa tentu penting bagi orang yang bersangkutan. Namun, buat orang lain yang gak ada urusan menjadi tak berarti.
Kamu gak berhak mendesak siapa pun untuk mendoakanmu. Apalagi sampai dirimu menyertakan ancaman segala. Seperti, kamu akan marah bila ia sampai lupa. Atau, jika setelah itu tak ada perubahan dalam hidupmu berarti dia tidak membacakan titipan doamu.
4. Jangan titip doa ke orang yang ingin menenangkan diri dari masalah

Semua orang pasti punya masalah. Akan tetapi, beberapa orang sampai merasa perlu segera pergi ke Tanah Suci ketika hidupnya diuji cukup berat. Seperti orang yang mencari petunjuk tentang kelanjutan rumah tangganya.
Begitu pula orang yang di ambang keputusasaan kerap memutuskan pergi umrah atau berhaji. Dengan beban berat yang dibawa mereka hingga ke Tanah Suci, tidak etis untukmu titip doa segala. Bahkan sekalipun dirimu sebenarnya sangat menginginkan sesuatu.
Jangan mengganggunya dulu dengan keperluan-keperluanmu. Malah kamu yang semestinya ikut mendoakannya dari tanah air. Semoga perjalanan ibadahnya lancar serta ia pulang dengan pikiran dan perasaan yang jauh lebih tenang.
5. Sadari bila ada rahasia yang perlu dijaga

Kalau kamu cuma titip doa yang bersifat umum tentu relatif aman. Seperti doa keselamatan dan kesehatan. Namun, buat doa yang lebih spesifik sebaiknya dirimu lebih berhati-hati. Contoh, doa supaya pasanganmu yang suka main judol dan selingkuh segera sadar serta bertobat.
Tentu isi doamu sangat baik. Namun, apakah tepat untukmu menitipkannya ke orang lain? Apalagi statusnya cuma tetangga atau teman. Bukan saudara kandung.
Bagaimanapun juga, ia manusia biasa. Meski ia akan dan nantinya sudah selesai menunaikan ibadah haji atau umrah tetaplah manusia biasa. Dia dapat khilaf yang membuat masalah dalam rumah tanggamu justru tersebar ke mana-mana.
6. Bukan berarti kamu sendiri tak perlu berdoa

Tahu ada orang yang bisa dititipi doa hingga ke Tanah Suci dapat membuatmu merasa terlalu aman. Seolah-olah doanya lebih mungkin dikabulkan daripada doa yang dipanjatkan olehmu di dalam kamar. Padahal, isi doa itu adalah keinginan-keinginan pribadi.
Doa yang dipanjatkan oleh orang lain sifatnya hanya membantu. Doa paling utama tentu dari kamu sendiri. Seperti jika seseorang menginginkan sesuatu darimu. Pastinya kamu lebih senang apabila dia menyampaikan sendiri maksudnya.
Bukan ia menyuruh orang lain memintakan sesuatu padamu. Padahal, kamu juga tidak sulit dihubungi atau ditemui. Demikian pula dirimu harus tetap berdoa penuh kesungguhan.
Titip doa pada orang yang hendak beribadah di Tanah Suci jangan sampai memberatkannya. Juga jangan mengganggu konsentrasinya dalam beribadah. Syukur kalau ada orang yang bisa dititipi doa. Bila pun tidak, jangan bersikap seolah-olah Tuhan tidak mendengar doa-doa yang dipanjatkan hamba-Nya di berbagai belahan bumi lainnya.