Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Fashion Activism, Saat Pakaian Tak Hanya Bicara soal Tren

Fashion Activism, Saat Pakaian Tak Hanya Bicara soal Tren
Ilustrasi OOTD demo (generated image by ChatGPT/Maya Lubis)
  • Fashion activism menjadikan pakaian sebagai medium pesan sosial, politik, budaya, dan lingkungan, melalui slogan, warna, simbol, hingga kampanye inklusivitas dan eco-fashion.
  • Contohnya, suffragette memakai ungu, putih, dan hijau untuk perjuangan hak pilih perempuan; Katharine Hamnett memprotes politik lewat kaus saat bertemu Margaret Thatcher.
  • Dalam OOTD, pesan aktivisme dapat hadir lewat item berslogan, produk lokal, kain tradisional, vintage, atau preloved; pengguna perlu memahami nilai di balik pilihannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Fashion selalu jadi bagian dari cara kita mengekspresikan diri. Dari warna, model pakaian, sampai aksesori yang dipilih, semuanya bisa memberi sedikit gambaran tentang karakter dan selera seseorang. Tapi, belakangan fashion juga semakin sering dipakai untuk menyampaikan sesuatu yang lebih besar dari sekadar gaya.

Pakaian bisa membawa pesan tentang lingkungan, kesetaraan, budaya, hak pekerja, sampai isu sosial yang sedang diperjuangkan. Lalu, seperti apa sebenarnya fashion activism bekerja dan kenapa pakaian bisa punya peran sebesar itu? Yuk, simak!

  1. 1. Apa itu fashion activism?

    Ilustrasi OOTD demo
    Ilustrasi OOTD demo (generated image by ChatGPT/Maya Lubis)

    Fashion activism atau aktivisme mode adalah gerakan yang menjadikan pakaian bukan sekadar bagian dari tren, tetapi juga medium untuk menyampaikan pesan politik, sosial, budaya, dan lingkungan. Lewat busana, seseorang bisa menunjukkan dukungan, kritik, solidaritas, sampai keberpihakannya terhadap isu tertentu.

    Bentuknya bisa sangat beragam, mulai dari kaus berslogan politik, warna yang menjadi simbol gerakan, kampanye eco-fashion, sampai dorongan terhadap representasi tubuh yang lebih inklusif. Pada awal abad ke-20, kelompok suffragette misalnya memakai kombinasi warna ungu, putih, dan hijau sebagai identitas perjuangan hak pilih perempuan. Desainer Katharine Hamnett juga pernah menggunakan kaus bertuliskan “58% DON’T WANT PERSHING” saat bertemu Margaret Thatcher pada 1984 sebagai bentuk protes politik.

    "Fashion menciptakan makna, dan makna tersebut mendorong sebuah tindakan," tutur Céline Semaan, Founder Slow Factory, dikutip dari ELLE.

    Hal ini menunjukkan bahwa fashion punya kemampuan untuk menciptakan makna. Ketika sebuah pakaian membawa pesan yang kuat, orang bisa melihatnya, membicarakannya, lalu mulai mencari tahu isu di baliknya.

  2. 2. Inspirasi OOTD dengan sentuhan fashion activism

    Ilustrasi OOTD demo
    Ilustrasi OOTD demo (generated image by ChatGPT/Maya Lubis)

    Fashion activism juga bisa masuk ke OOTD tanpa membuat penampilan terasa terlalu serius. Kamu bisa memakai statement T-shirt dengan isu sosial, tote bag dengan pesan tertentu, aksesori bersimbol, atau warna yang berkaitan dengan sebuah gerakan, lalu memadukannya dengan jeans, blazer, rok, atau sneakers agar tetap terasa stylish dan wearable.

    Pilihan lain bisa datang dari item lokal, kain tradisional, vintage, atau preloved yang membuat outfit punya cerita lebih kuat. Kuncinya bukan sekadar memakai sesuatu karena terlihat keren, tapi memahami pesan atau nilai di balik item tersebut supaya penampilan gak berhenti sebagai estetika saja.

  3. 3. Jadi cara untuk ikut membawa perubahan

    ilustrasi demo
    ilustrasi demo (pexels.com/Robin Erino)

    Fashion activism efektif karena pesan bisa langsung terlihat lewat slogan, warna, simbol, atau pilihan outfit. Saat dipakai di ruang publik atau dibagikan di media sosial, pakaian bisa menarik perhatian sekaligus membuka percakapan tentang isu yang sedang diperjuangkan.

    Fashion juga bisa membangun rasa kebersamaan. Ketika banyak orang memakai warna atau simbol yang sama, penampilan mereka ikut menciptakan identitas kolektif dan menunjukkan solidaritas terhadap suatu gerakan, baik sosial, politik, maupun lingkungan.

    Pada akhirnya, fashion gak cuma soal mengikuti tren atau terlihat menarik. Lewat fashion activism, pakaian bisa jadi cara yang lebih personal untuk menunjukkan sikap, menyampaikan nilai, dan membuat penampilan punya makna lebih dari sekadar gaya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More