Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Kita Ikut Stres Padahal Gak Turun Demo? Ini Teori Psikologinya

Kenapa Kita Ikut Stres Padahal Gak Turun Demo? Ini Teori Psikologinya
ilustrasi demonstrasi di Indonesia (pexels.com/Wizurai Mahatma)
  • Paparan video bentrokan, komentar panas, dan emosi massa dapat memicu emotional contagion, membuat orang yang tidak ikut demo tetap merasa tegang, cemas, atau terancam.
  • Kebiasaan doomscrolling berita negatif berpotensi menyebabkan information overload, sehingga otak kewalahan dan memicu lelah, pusing, sulit tidur, stres, serta kebingungan.
  • Konflik politik dapat memunculkan rasa tak berdaya, trauma kolektif, dan kelelahan empati karena keterikatan sosial; membatasi berita dan memberi ruang diri disarankan untuk menjaga kondisi mental.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Beberapa hari terakhir, suasana politik di Indonesia sedang panas-panasnya. Demo besar di depan gedung DPR, bentrokan antara massa dan aparat, hingga berita tentang kerusuhan ramai menghiasi timeline media sosial.

Walau tidak ikut turun langsung ke jalan, banyak orang tetap merasa stres setelah mengikuti kabar tersebut. Hal ini sebenarnya wajar. Dalam teori psikologi, ada beberapa faktor yang bikin kita ikut merasakan tekanan meski tidak mengalami langsung. Kira-kira apa aja? Yuk, kita bahas!

  1. 1. Emosi yang menular

    ilustrasi demonstrasi di Indonesia
    ilustrasi demonstrasi di Indonesia (pexels.com/Hendra Jn)

    Dalam ilmu psikologi, ada istilah emotional contagion, yaitu kecenderungan manusia meniru dan menyerap emosi orang lain. Saat kita menonton video massa berlarian karena gas air mata atau melihat ekspresi marah di media sosial, otak kita ikut mengirim sinyal bahaya.

    Akibatnya, tubuh merasa tegang, cemas, bahkan seolah-olah kita juga berada di tengah kerumunan itu. Emosi menyebar sangat cepat, apalagi lewat media sosial. Inilah alasan kenapa kamu bisa merasa gelisah hanya dengan membaca komentar panas atau melihat postingan penuh kemarahan.

  2. 2. Kebiasaan doomscrolling

    ilustrasi scrolling media sosial
    ilustrasi scrolling media sosial (pexels.com/Ahmed Aqtai)

    Kamu pernah niatnya cuma buka berita sebentar, tapi akhirnya berjam-jam scroll timeline soal demo? Fenomena ini disebut doomscrolling, yaitu kebiasaan mencari informasi negatif terus-menerus. Masalahnya, semakin banyak yang kita baca, semakin penuh kepala dengan berita buruk.

    Dalam psikologi, kondisi ini disebut information overload atau kelebihan informasi. Otak jadi kewalahan mencerna sehingga timbul rasa lelah, pusing, bahkan sulit tidur. Bukannya makin paham situasi, kita justru makin stres dan bingung. Hati-hati, ya! Jangan lupa tetap batasi konsumsi media sosial!

  3. 3. Rasa tak berdaya

    ilustrasi perempuan khawatir
    ilustrasi perempuan khawatir (freepik.com/cookie_studio)

    Melihat situasi politik yang penuh konflik bisa menimbulkan rasa tak berdaya. Psikologi menyebut ini sebagai learned helplessness, kondisi ketika kita merasa tidak bisa mengubah keadaan meski sebenarnya masih ada hal kecil yang bisa dilakukan.

    Rasa tak berdaya ini akhirnya menambah kecemasan. Walaupun kamu hanya menonton dari jauh, perasaan frustrasi itu bisa muncul karena isu politik biasanya terkait hal besar di luar kendali kita. Lama-lama, rasa tak berdaya ini bikin mental drop dan energi terkuras.

  4. 4. Trauma kolektif dari ingatan sosial

    ilustrasi perempuan merasa takut
    ilustrasi perempuan merasa takut (pexels.com/Photo By: Kaboompics.com)

    Indonesia punya sejarah panjang soal demo dan kerusuhan yang berujung tragedi. Ingatan masa lalu ini bisa memengaruhi cara kita memandang situasi sekarang, meski kita tidak mengalaminya langsung. Dalam psikologi fenomena ini disebut collective trauma atau trauma kolektif.

    Artinya, ketika kita mendengar kata “demo”, otak bisa langsung mengaitkan dengan memori lama yang penuh kekerasan atau kerusuhan. Akibatnya, rasa cemas muncul lebih cepat, seakan-akan ancaman itu nyata kembali. Kamu relate?

  5. 5. Keterikatan sosial

    ilustrasi perempuan sedang mengobrol
    ilustrasi perempuan sedang mengobrol (pexels.com/RDNE Stock project)

    Manusia adalah makhluk sosial, jadi wajar kalau kita merasa terhubung dengan apa yang dialami kelompok besar. Ketika melihat banyak orang menderita atau berjuang, empati kita otomatis ikut aktif. Rasa peduli ini penting, tapi kalau berlebihan bisa menguras emosi dan menimbulkan stres.

    Dalam psikologi, hal ini dikenal sebagai compassion fatigue atau kelelahan karena terlalu banyak empati. Jadi meskipun kita tidak turun aksi, rasa keterikatan itu cukup untuk bikin hati gelisah dan kepala penuh beban.

    Stres yang muncul meski kita tidak ikut demo bukanlah hal aneh. Kamu hanya perlu menyadari perasaan itu lalu jaga diri dengan membatasi berita, melatih napas, dan tetap memberi ruang untuk diri sendiri. Dengan begitu, kita bisa peduli pada situasi tanpa harus kehilangan kewarasan. Stay sane!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More