Ilustrasi merasa tenang (pexels.com/Mattia De Vercelli)
Berdasarkan berbagai penelitian psikologi, JOMO cenderung lebih mendukung kesehatan mental karena membantu seseorang menetapkan batasan yang sehat terhadap media sosial dan tekanan sosial. Dengan lebih selektif memilih aktivitas, seseorang memiliki waktu untuk beristirahat, mengembangkan diri, dan membangun hubungan yang lebih berkualitas.
Namun, bukan berarti Gen Z harus sepenuhnya menghindari FOMO. Yang lebih penting adalah memiliki kesadaran untuk membedakan peluang yang benar-benar bermanfaat dengan tekanan sosial yang hanya memicu kecemasan. Mengikuti pelatihan yang meningkatkan kompetensi tentu berbeda dengan sekadar mengikuti tren demi pengakuan orang lain.
FOMO dan JOMO sama-sama lahir dari kehidupan modern yang dipenuhi arus informasi tanpa henti. Namun, bagi Gen Z yang ingin menjaga kesehatan mental, JOMO menawarkan pendekatan yang lebih seimbang karena mendorong seseorang fokus pada kebutuhan, tujuan, dan kebahagiaan dirinya sendiri, bukan sekadar mengejar validasi dari lingkungan. Pada akhirnya, hidup yang sehat bukan tentang selalu mengikuti semua tren, melainkan mampu memilih pengalaman yang benar-benar memberikan makna bagi kehidupan.