Ilustrasi merasa bahagia (pexels.com/Photo by Brett Sayles)
Berbeda dengan FOMO yang didorong rasa takut tertinggal, JOMO mengajarkan seseorang untuk menikmati momen saat ini. Seseorang tidak lagi merasa harus menghadiri semua acara, mengikuti semua tren, atau selalu aktif di media sosial. Fokus utama JOMO adalah memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan menikmati hidup sesuai kebutuhan pribadi.
Praktik JOMO dapat dilakukan dengan membatasi waktu penggunaan media sosial, meluangkan waktu untuk membaca buku, berolahraga, menikmati hobi, atau sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga tanpa gangguan notifikasi. Kebiasaan sederhana ini membantu pikiran menjadi lebih tenang dan mengurangi tekanan sosial.
"JOMO adalah penawar cerdas secara emosional untuk FOMO dan pada dasarnya tentang hadir dan merasa puas dengan keadaan hidup kamu saat ini," kata Kristen Fuller, M.D., dokter dan penulis kesehatan mental klinis dikutip dari Psychology Today.
"JOMO memungkinkan kita untuk menjalani hidup dengan santai, menghargai hubungan antarmanusia, menggunakan waktu kita dengan bijak, berlatih mengatakan 'tidak', memberi diri kita istirahat tanpa teknologi, dan memberi kita izin untuk mengakui keadaan kita dan merasakan emosi, baik positif maupun negatif," lanjutnya.