Journaling bukan sekadar menulis curhatan di buku. Kegiatan ini bisa membantu merapikan pikiran, mencatat rutinitas, mengejar target, hingga menyalurkan sisi kreatif dalam diri.
Gaya Journaling Sesuai Kepribadian, Kamu Cocok yang Mana?

- Journaling dapat membantu merapikan pikiran, mencatat rutinitas, mengejar target, dan menyalurkan kreativitas tanpa kewajiban menulis setiap hari atau memakai format tertentu.
- Gratitude journaling cocok untuk rutinitas, free writing untuk menuangkan pikiran, sedangkan bullet journal dan habit tracker membantu mengatur tugas serta memantau target.
- Junk journaling memadukan tulisan dengan elemen visual, sementara dream journaling mencatat mimpi dan pola yang berulang; metode dapat dipilih atau digabung sesuai kebutuhan.
Tak ada aturan yang mengharuskan kamu menulis jurnal setiap hari atau mengikuti format tertentu. Kamu bisa memilih gaya yang paling sesuai dengan kebiasaan dan kebutuhanmu, seperti beberapa pilihan berikut.
1. Coba gratitude journaling jika suka rutinitas

ilustrasi menulis (pexels.com/louisbauer) Kalau kamu senang melakukan sesuatu secara rutin, gratitude journaling bisa menjadi pilihan yang menarik. Kamu cukup meluangkan beberapa menit untuk mencatat tiga atau empat hal yang disyukuri hari itu, misalnya secangkir kopi di pagi hari atau obrolan menyenangkan bersama teman. Agar lebih mudah dilakukan, kaitkan kebiasaan ini dengan rutinitas yang sudah ada, seperti setelah minum kopi atau sebelum tidur.
Gaya journaling ini juga cocok untuk pemula karena tidak membutuhkan tulisan panjang. Kuncinya adalah membuat catatan tetap singkat, spesifik, dan konsisten agar journaling terasa seperti ritual kecil, bukan tugas tambahan.
“Journaling dapat berfungsi sebagai sebuah wadah, mirip seperti sesi terapi mingguan yang membantu kita menampung dan mengelola pikiran serta perasaan,” ujar Lindsay Braman, MACP, LMHCA, seorang terapis dan ilustrator kesehatan mental, dikutip dari dari Martha Stewart.
2. Coba free writing jika sering banyak pikiran

ilustrasi menulis jurnal (pexels.com/tirachardkumtanom) Buat kamu yang sering memikirkan banyak hal sekaligus, free writing bisa menjadi cara untuk menuangkan isi kepala tanpa banyak aturan. Ambil pena dan kertas, lalu tuliskan apa pun yang muncul tanpa perlu memikirkan tata bahasa, struktur, atau apakah tulisan tersebut terdengar masuk akal. Biarkan pikiran mengalir sampai kamu merasa cukup lega setelah menuangkannya.
Cara ini juga cocok untuk kamu yang cenderung introspektif dan senang memahami perasaan sendiri. Dari tulisan yang mengalir bebas, kamu bisa mulai mengenali emosi, pola pikiran, atau persoalan yang sedang mengganggu tanpa harus langsung menemukan jawabannya.
“Orang-orang yang suka berpikir secara mendalam mungkin bisa mendapatkan manfaat dari jurnal tulisan tangan dengan format yang lebih panjang,” ujar Lindsay Braman.
3. Suka semuanya serba teratur? Coba bullet journal

ilustrasi jurnal (freepik.com/freepik) Kalau melihat daftar tugas yang rapi saja sudah membuatmu merasa lebih tenang, bullet journal mungkin cocok untukmu. Gaya ini memungkinkanmu menggabungkan daftar pekerjaan, target, catatan, hingga refleksi dalam satu buku dengan sistem simbol dan tulisan singkat. Informasi yang terasa banyak pun bisa dipecah menjadi bagian kecil agar lebih mudah dipantau.
Bullet journal juga bisa dibuat sesederhana atau sekreatif yang kamu inginkan. Kamu tak harus memenuhi halaman dengan dekorasi jika tujuan utamanya adalah mengatur jadwal dan menyelesaikan pekerjaan.
4. Coba habit tracker jika punya banyak target yang ingin dicapai

ilustrasi menulis (pexels.com/picjumbocom) Untuk kamu yang senang membuat target, habit tracker dapat membantu melihat perkembangan secara lebih jelas. Misalnya, kamu ingin rutin berolahraga, membaca buku, mengurangi konsumsi gula, atau membangun kebiasaan baru lainnya. Dengan memberi tanda setiap kali berhasil menjalankan kebiasaan, progres kecil pun akan lebih mudah terlihat dari waktu ke waktu.
Habit tracker juga tidak harus dibuat dalam buku khusus karena bisa dimasukkan ke dalam bullet journal atau aplikasi catatan di ponsel. Menurut Braman, orang yang lebih berorientasi pada tugas mungkin justru menyukai cara digital dengan mengetik beberapa kata sebagai respons terhadap pengingat notifikasi.
“Mereka yang lebih berorientasi pada tugas mungkin lebih suka mengetik beberapa kata di aplikasi catatan sebagai respons terhadap pengingat notifikasi,” ujar Lindsay.
5. Coba junk journaling jika suka bereksperimen dan membuat sesuatu

ilustrasi junk journaling (pexels.com/melanfolia) Kalau menulis saja terasa kurang seru tanpa sentuhan kreatif, junk journaling bisa menjadi pilihan. Gaya ini menggabungkan kegiatan menulis dengan berbagai elemen visual seperti foto, potongan kertas, struk belanja, stiker, perangko, hingga washi tape. Tidak ada aturan baku mengenai apa yang harus ditempel sehingga setiap halaman bisa memiliki cerita dan tampilan berbeda.
Berbeda dari scrapbook yang sering berfokus pada hasil akhir, junk journaling lebih bebas dan intuitif. Kamu bisa memasukkan benda-benda kecil dari keseharian untuk mengabadikan momen yang mungkin terlihat sepele tetapi punya arti tersendiri.
“Junk journaling menawarkan lapisan tambahan dalam mengekspresikan diri melalui foto, bahan kolase, dan kertas-kertas yang ditemukan,” tambah Lindsay.
6. Suka mengingat mimpi? Coba dream journaling

ilustrasi journaling (pexels.com/olly) Buat kamu yang sering terbangun dan masih mengingat detail mimpi semalam, dream journaling bisa menjadi kebiasaan yang menarik. Letakkan buku catatan di dekat tempat tidur, lalu segera tuliskan kata kunci, kejadian, suasana, atau perasaan yang masih kamu ingat setelah bangun. Cara ini membuat detail mimpi yang biasanya cepat terlupakan, bisa lebih mudah dicatat.
Dream journal juga dapat digunakan untuk memperhatikan pola yang muncul dari waktu ke waktu. Kamu mungkin menemukan tema, situasi, atau emosi tertentu yang berulang dalam mimpi sehingga bisa menjadi bahan refleksi pribadi.
Setiap orang punya kebutuhan berbeda saat journaling sehingga kamu bebas memilih gaya yang paling nyaman atau menggabungkan beberapa metode sekaligus. Yang terpenting, jadikan journaling sebagai kegiatan yang membantu, bukan kewajiban yang justru terasa membebani. Jadi, kamu cocok dengan gaya journaling yang mana?






















