Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dilema Gen Z: Ingin Rehat, tapi Takut Ketinggalan Tren

4 min read
Dilema Gen Z: Ingin Rehat, tapi Takut Ketinggalan Tren
ilustrasi dilema (pexels.com/cottonbro studio)

Malam semakin larut. Selimut sudah menutupi separuh tubuhmu, tetapi ibu jari masih sibuk menggulir layar ponsel. Matamu mulai terasa berat, sementara besok masih ada banyak hal yang harus dikerjakan. Namun, setiap kali berniat menutup aplikasi, selalu ada satu video lagi yang membuatmu penasaran. Kamu terus menggulir layar, berpindah dari satu tren ke tren berikutnya. Tanpa terasa, waktu berjalan begitu saja. Ketika akhirnya kamu meletakkan ponsel, muncul pikiran kecil, “jangan-jangan ada sesuatu yang belum aku lihat”, kamu kemudian kembali meraih ponselmu.

Kamu ingin berhenti, tetapi juga tidak ingin tertinggal. Di tengah keinginan untuk menikmati hidup tanpa terus menatap layar, ada kekhawatiran bahwa dunia digital akan bergerak terlalu jauh ketika kamu berpaling. Sebagai gen Z, kamu merasa dilema ini bukan semata-mata soal kebiasaan bermain ponsel saja, melainkan juga tentang bagaimana tetap terhubung tanpa kehilangan waktu untuk diri sendiri.

  1. 1. Selalu ingin tahu apa yang sedang ramai dibicarakan

    ilustrasi scrolling (pexels.com/Yan Krukau)
    ilustrasi scrolling (pexels.com/Yan Krukau)

    Pagi harinya, percakapan di grup pertemanan mendadak ramai. Teman-teman membicarakan sebuah video viral, lengkap dengan lelucon yang hanya dimengerti oleh mereka yang sudah menontonnya. Kamu membaca pesan demi pesan sambil mencoba memahami konteksnya. Akhirnya, kamu membuka TikTok untuk mencari video yang dimaksud.

    Ada tren baru yang sedang diikuti banyak orang, kabar selebritas yang memenuhi linimasa, hingga perdebatan yang membuat kolom komentar tak kunjung sepi. Kamu merasa perlu mengetahui semuanya karena tidak ingin menjadi orang yang paling terakhir tahu.

    Menurut seorang psikolog, Adam Borland, PsyD, “Orang-orang sering merasa seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi dan mereka melewatkannya,” dikutip dari Cleveland Clinic.

    Perasaan ini berkaitan dengan fear of missing out (FOMO), yaitu kekhawatiran akan melewatkan pengalaman atau hal menarik yang dialami orang lain. Perasaan tersebut membuatmu ingin terus memeriksa layar, bahkan ketika sebenarnya tidak ada yang perlu dicari. Ada semacam dorongan untuk memastikan bahwa kita masih mengetahui apa yang sedang berlangsung di luar sana.

  2. 2. Melihat kehidupan orang lain, lalu merasa hari sendiri kurang menarik

    ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/cottonbro studio)
    ilustrasi scrolling medsos (pexels.com/cottonbro studio)

    Sore itu, kamu duduk di sebuah kafe setelah melewati hari yang cukup panjang. Hari itu berjalan seperti hari-hari biasanya. Lalu, kamu membuka Instagram. Kamu melihat unggahan seseorang sedang berlibur ke tempat yang sudah lama ingin kamu kunjungi. Teman yang lain membagikan pencapaian terbarunya, dan unggahan lain yang memperlihatkan sekelompok orang tertawa bersama di sebuah konser. Kamu ikut tersenyum melihatnya, tetapi entah mengapa, suasana hatimu perlahan berubah.

    Kamu mulai memikirkan hal-hal yang belum sempat kamu lakukan, tempat-tempat yang belum dikunjungi, dan pengalaman yang rasanya belum seberapa dibandingkan kehidupan orang lain. Padahal, beberapa menit sebelumnya, kamu sedang menikmati sore yang tenang.

    Menurut seorang psikolog, Adam Borland, PsyD, “Ketika kamu terus membandingkan diri dengan apa yang dilihat di media sosial, kamu bisa mulai merasa bahwa hidupmu sendiri kurang memuaskan,” dikutip dari Cleveland Clinic.

    Linimasa yang awalnya menjadi tempat mencari hiburan justru berubah menjadi ruang untuk mengukur kehidupan sendiri. Kita lupa bahwa apa yang muncul di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Sementara itu, sore itu terus berjalan, menunggu untuk dinikmati tanpa perlu dibandingkan dengan siapa pun.

  3. 3. Mulai membatasi waktu layar tanpa harus menghilang dari media sosial

    ilustrasi rehat di kamar (pexels.com/Timur Weber)
    ilustrasi rehat di kamar (pexels.com/Timur Weber)

    Malam berikutnya, kamu mencoba melakukan sesuatu yang berbeda. Setelah selesai makan, kamu meletakkan ponsel di atas meja, bukan dibawa ke tempat tidur seperti biasanya. Kamu memilih untuk membaca buku, membiarkan pikiran beristirahat setelah seharian dipenuhi berbagai informasi.

    Bukan berarti kamu harus menghilang dari media sosial atau berhenti mengikuti hal-hal yang kamu sukai. Kamu hanya sedang belajar bahwa tidak semua informasi harus diketahui saat itu juga. Kamu memberi ruang bagi kegiatan yang tidak melibatkan layar. Awalnya mungkin terasa aneh. Ada keheningan yang membuatmu ingin memeriksa ponsel sekali lagi. Namun, perlahan, kamu mulai menikmati waktu tanpa harus terus mencari sesuatu untuk dilihat.

    Kamu mungkin tetap akan melewatkan beberapa tren. Akan ada lelucon yang baru akan kamu pahami sehari kemudian dan video viral yang baru kamu tonton ketika orang-orang mulai membicarakan hal lain. Tidak ada yang salah dengan hal itu. Dunia digital akan terus bergerak, tetapi kamu gak perlu untuk terus berlari mengikutinya setiap saat. Kali ini, kamu ingin benar-benar berada di kehidupan yang memang sedang berlangsung tepat di hadapanmu.

Share Article
Editorial Team

Kisah Koperasi Perempuan di Tepi Rel

Related Articles

See More