Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Gak Harus Jadian, Kenapa Fase “Yearning” Bisa Bikin Senang?

Gak Harus Jadian, Kenapa Fase “Yearning” Bisa Bikin Senang?
ilustrasi suka dengan seseorang (pexels.com/Trinity Kubassek)
  • Fase yearning muncul saat ketertarikan belum pasti, sehingga rasa penasaran terhadap perasaan orang lain membuat chat dan perhatian kecil terasa lebih bermakna.
  • Antisipasi, keterlibatan emosional, dan ketidakpastian yang wajar membuat proses pendekatan terasa spesial; kesenangan hadir dari menunggu, berharap, serta kemungkinan yang masih terbuka.
  • Dinamika slow-burn memberi waktu mengenal cara berkomunikasi, humor, perlakuan pada orang lain, dan nilai seseorang, agar ketertarikan bertumpu pada koneksi nyata.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Pernah gak sih kamu suka sama seseorang, tapi hubungan kalian berhenti di fase saling kode? Belum jadian, belum tentu saling suka, tapi tiap interaksi kecil terasa bikin hari lebih seru. Fase seperti ini sering disebut yearning, yaitu rasa ingin dekat dengan seseorang yang belum benar-benar bisa kamu miliki. 

Dalam dating, yearning biasanya muncul saat perasaan belum punya kepastian dan hubungan masih menyimpan banyak kemungkinan. Kita jadi menikmati chat singkat, tatapan, atau momen kecil yang sebenarnya biasa saja. Rasa penasaran membuat kita terus memikirkan orang tersebut dan membayangkan kemungkinan yang belum terjadi. Bukan berarti kamu harus segera membuat hubungan itu resmi. Justru, ada alasan mengapa fase belum jadian ini bisa terasa manis.

  1. 1. Ada rasa penasaran karena belum tahu dia suka balik atau gak

    Seseorang duduk sambil memegang ponsel dengan ekspresi cemas, menggambarkan menunggu balasan chat.
    ilustrasi menunggu balasan chat (pexels.com/Guto Macedo)

    Saat kamu belum tahu seseorang suka balik atau tidak, otak seperti punya pertanyaan yang belum selesai. Kamu mungkin jadi lebih sering mengingat percakapan terakhir, membaca ulang chat, atau bertanya-tanya kenapa dia tiba-tiba lebih perhatian. Ketidakpastian membuat interaksi kecil terasa lebih berarti karena kamu masih mencari jawabannya. 

    Justin J. Lehmiller, Ph.D., psikolog sosial dan peneliti seksualitas dalam Psychology Today, menuliskan “Penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketertarikan biasanya paling tinggi ketika seseorang belum yakin seberapa besar orang lain menyukainya, atau ketika ketersediaan orang tersebut berada di tingkat sedang, tidak terlalu mudah didapat tetapi juga tidak terlalu sulit”. 

    Itu kenapa satu pesan sederhana seperti “udah makan?” bisa bikin senyum seharian kalau datang dari orang yang kamu tunggu. Selama ketidakpastian itu masih dalam batas wajar, rasa penasaran bisa membuat proses pendekatan terasa lebih hidup. Bukan statusnya yang bikin senang, tetapi kemungkinan yang masih terbuka.

  2. 2. Ada antisipasi yang bikin perhatian kecil terasa spesial

    ilustrasi memberi perhatian kecil
    ilustrasi memberi perhatian kecil (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Ketika hubungan belum resmi, kamu mungkin lebih menghargai momen-momen kecil yang terjadi di antara kalian. Menunggu balasan, berharap bisa bertemu lagi, atau sekadar melihat namanya muncul di notifikasi bisa memberikan sensasi tersendiri. Ada sesuatu yang dinantikan sehingga interaksi sederhana pun terasa lebih berkesan.

    Dating Expert Tinder, Sera Bozza, menjelaskan, “Yearning bukan sekadar fantasi atau bermain tarik-ulur. Ada antisipasi, keterlibatan emosional, dan sedikit ketidakpastian yang membuat seseorang terasa berarti bagi kita. Ketertarikan membutuhkan ruang untuk berkembang. Ketika semuanya serba instan, tidak ada yang terasa spesial, sementara ketertarikan justru membutuhkan sesuatu yang bisa dirindukan,” dilansir Tinder Newsroom.

    Itu sebabnya fase belum jadian kadang justru terasa lebih manis daripada ketika semuanya sudah diketahui. Ada momen menunggu, berharap, dan menikmati kejutan kecil tanpa harus langsung menentukan status. Rasa senang tersebut datang dari prosesnya, bukan semata-mata dari hasil akhirnya.

  3. 3. Slowburn bikin kamu punya waktu untuk benar-benar mengenal dia

    ilustrasi orang menatap diam-diam
    ilustrasi orang menatap diam-diam (pexels.com/Budgeron Bach)

    Yearning juga dekat dengan konsep slow-burn romance, ketika ketertarikan berkembang secara perlahan melalui berbagai interaksi. Alih-alih langsung fokus pada status hubungan, kamu punya kesempatan melihat bagaimana seseorang bercanda, berkomunikasi, memperlakukan orang lain, dan menunjukkan nilai yang mereka pegang. Dari situ, rasa suka bisa berkembang karena mengenal dirinya, bukan sekadar karena penampilan atau chemistry sesaat.

    Sera Bozza, Dating Expert Tinder, menjelaskan, “Chemistry secara fisik memang mudah ditemukan. Namun, membangun ketegangan emosional jauh lebih sulit. Percakapan, humor, dan nilai-nilai yang sama justru menjadi hal yang membuat seseorang terus teringat bahkan setelah kencan berakhir,” dilansir Tinder Newsroom.

    Jadi, menikmati yearning bukan berarti harus terus berada dalam hubungan yang menggantung. Fase ini bisa menjadi kesempatan untuk melihat apakah rasa tertarik tersebut memang tumbuh dari koneksi yang nyata atau hanya karena kita menyukai kemungkinan yang ada di kepala kita.

    Kalau sekarang kamu lagi ada di fase yearning, gak perlu buru-buru mikirin, “Kapan nih jadiannya?”. Nikmati dulu momen-momen kecilnya, mulai dari senyum gara-gara chat sampai deg-degan cuma karena dia tiba-tiba ngajak ngobrol. Serunya fase ini memang ada di rasa penasaran dan kemungkinan-kemungkinan yang belum terjawab. Tapi, tetap pastikan kamu gak cuma jatuh cinta sama versi dia yang ada di kepala sendiri. Karena kalau akhirnya gak jadi apa-apa, setidaknya kamu pernah punya satu fase kecil yang bikin hari-hari terasa lebih seru.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More