Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Trik Menumbuhkan Minat Baca Anak Tanpa Terkesan Memaksa

 5 Trik Menumbuhkan Minat Baca Anak Tanpa Terkesan Memaksa
ilustrasi membaca (pexels.com/Gustavo Fring)
  • Minat baca anak perlu dikenalkan sejak rumah melalui pendekatan konsisten tanpa paksaan, karena tekanan justru berisiko membuat anak membenci aktivitas literasi.
  • Orangtua disarankan memberi teladan membaca bersama, membiarkan anak memilih buku sesuai minat, serta membacakan dongeng untuk membangun pengalaman membaca yang nyaman.
  • Membaca dapat dilakukan saat waktu luang tanpa aturan harian kaku, sambil memanfaatkan rasa ingin tahu anak dengan mengajak mencari jawaban pertanyaan melalui buku.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kesukaan membaca tidak terbentuk begitu saja setelah remaja atau dewasa. Namun, cinta membaca perlu ditanamkan sejak anak-anak dan dimulai dari rumah. Kalau sebelum anak bersekolah mulai mengenal buku serta aktivitas membaca, di sekolah nanti pasti lebih antusias.

Sebaliknya jika anak tidak dikenalkan dengan buku dan kegiatan membaca sejak dini, di sekolah ia bisa terkesan gak siap dan tak tertarik untuk belajar. Peran orangtua sangat penting guna menumbuhkan minat baca anak. Akan tetapi, hindari kesan memaksa.

Bila anak dipaksa untuk suka baca nanti malah ia tumbuh dengan kebencian akan literasi. Lakukan upaya-upaya yang lebih halus, tapi tetap ada targetnya serta konsisten. Para orangtua dapat menerapkan cara-cara di bawah ini.

  1. 1. Gak usah ceramah, tapi kasih contoh orangtua membaca

    melatih anak suka membaca
    ilustrasi melatih anak suka membaca (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Anak perlu banyak diberi keteladanan oleh orangtua secara langsung. Ia harus melihat kamu dan pasangan suka membaca supaya tertarik buat mengikuti. Apabila kalian hanya menceramahi anak tentu dia malah sebal.

    Atau, anak terdorong buat memprotes perintah agar dirinya rajin membaca. Sesuatu yang hanya diperintahkan terkesan tidak enak buat dijalani. Itu sebabnya orangtua sendiri gak melakukannya.

    Sementara apa yang dilakukan orangtua menunjukkan sesuatu menyenangkan. Jangan hanya salah satu orangtua yang mulai membaca di rumah. Nanti anak punya alasan buat memilih mengikuti ayah atau ibu yang gak membaca. Dua-duanya mesti menunjukkan antusiasme pada bacaan.

  2. 2. Biarkan anak memilih bukunya sendiri

    membaca
    ilustrasi membaca (pexels.com/cottonbro studio)

    Orangtua pasti akan berusaha memilihkan buku-buku yang paling tepat buat anak. Akan tetapi, anak belum tentu menyukainya. Karena ini masih dalam tahap menumbuhkan minat baca maka jangan memaksakan pilihanmu dan pasangan.

    Biarkan anak memilih sendiri bukunya. Selama masih kategori buku anak maka aman. Bila orangtua terlalu cawe-cawe nanti malah anak berpikir mending gak usah baca sekalian. Hargai pilihan anak.

    Gunakan kacamata anak dalam memilih dan bukan sekadar sudut pandang orangtua. Sudah bagus anak mau membaca. Ke depan jika ia sudah suka membaca bisa diarahkan sedikit demi sedikit. Seperti tadinya anak cuma memilih buku yang hampir penuh gambar menjadi lebih banyak tulisannya.

  3. 3. Dibacakan dongeng

    membaca
    ilustrasi membaca (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Anak membaca buku sendiri dengan dibacakan oleh orangtua merupakan dua pengalaman yang sangat berbeda. Butuh usaha lebih keras untuk anak membaca buku sendiri sekalipun bukunya juga pilihannya. Buat anak yang masih kurang lancar membaca, ini terasa berat sekali.

    Dia bisa merasa capek sebelum memulai atau hanya bertahan sebentar. Lalu di kemudian hari ia malas kembali melakukannya. Membaca buku terasa tidak semenyenangkan bermain.

    Mending orangtua membacakan buku dulu buat anak. Utamanya untuk buku yang tulisannya banyak. Bacakan pelan-pelan dan jelaskan bagian-bagian yang boleh jadi belum dimengerti anak.

    Seperti arti kata atau deskripsi benda yang disebutkan dalam cerita. Misalnya, bejana, belanga, tanduk, belalai, dan capit. Awalnya akan muncul rasa nyaman saat anak menyimak cerita yang dibacakan orangtua. Pelan-pelan ia bakal terdorong buat membaca sendiri buku yang sama maupun berbeda.

  4. 4. Jangan langsung tiap hari, seluangnya saja

    membaca
    ilustrasi membaca (pexels.com/Werner Pfennig)

    Orang dewasa bahkan kamu dan pasangan saja belum tentu bisa atau mau kalau diharuskan membaca setiap hari. Meski alasannya kesibukan, pasti ada rasa tertekan jika kalian tidak sangat mencintai aktivitas membaca. Beda dengan seorang kutu buku sejati.

    Oleh karena itu, orangtua sama sekali tidak perlu memberlakukan aturan anak membaca setiap hari. Terlebih ia masih kecil dan belum bersekolah. Kegiatan membaca cukup menjadi alternatif di waktu luangnya. Anak yang belum bersekolah pasti punya banyak sekali waktu luang.

    Orangtua gak perlu khawatir waktunya tidak ada. Membaca sebentar bisa disisipkan di antara waktu selepas sarapan sampai kira-kira temannya bisa diajak main. Kemudian sore hari setelah mandi sambil menunggu makan malam dan sebagainya.

  5. 5. Pakai strategi, "Yuk, cari tahu di buku."

    membaca
    ilustrasi membaca (pexels.com/Vitaly Gariev)

    Anak memiliki rasa ingin tahu yang besar. Namun, keingintahuan ini kudu ditunjang dengan cara yang asyik. Kalau caranya tidak menyenangkan, anak akan mudah bosan. Lalu ia tak mau melakukan sesuatu yang diperintahkan seperti membaca.

    Gunakan trik ala permainan. Misal, sebenarnya kamu telah menyiapkan buku tentang binatang-binatang laut. Namun, jangan mengajak anak untuk langsung membacanya. Ketika dirimu mengajak anak berbelanja atau memasak ikan, tanyakan padanya.

    Kenapa ikan bisa hidup di air, ya? Apakah ikan tidak pernah kedinginan? Ikan sebenarnya tidur atau tidak di malam hari? Anak pasti langsung tertarik. Baru ajak anak untuk nanti bersama-sama mencari tahu jawabannya di buku tersebut.

    Minat baca tidak bisa ditumbuhkan secara mendadak. Butuh waktu untuk anak dapat menikmati aktivitas membaca. Kalau minat baca telah tertanam, manfaatnya banyak. Termasuk membentuk karakter anak serta memudahkannya memahami pelajaran di sekolah.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More