Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Halloween bagi Orang Dewasa, Lebih dari Sekadar Pesta
Ilustrasi Halloween (pexels.com/Lisett Kruusimäe)
  • Halloween memberi orang dewasa ruang melepas tekanan rutinitas, menikmati sisi kekanak-kanakan, dan bersenang-senang tanpa tuntutan produktivitas.
  • Kostum, topeng, dan riasan memungkinkan orang berekspresi lebih bebas, merasa anonim, serta menjelajahi sisi diri yang jarang muncul dalam keseharian.
  • Aktivitas horor yang terkendali bersama teman membuat rasa takut terasa menyenangkan, mempererat ikatan sosial, dan menciptakan kenangan di tengah rutinitas dewasa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalender menunjukkan tanggal yang sudah hampir memasuki penghujung Oktober. Di sudut pusat perbelanjaan, labu-labu oranye mulai menghiasi etalase, sementara toko kostum dipenuhi dengan beberapa orang yang sibuk memilih topeng hingga riasan menyeramkan yang akan dikenakan. Pertanda malam Halloween kian mendekat. 

Di antara mereka, ada orang-orang dewasa yang setelah seharian bekerja, justru bersemangat mempersiapkan penampilan untuk sebuah pesta. Besok pagi, mereka mungkin kembali menjadi karyawan yang mengejar tenggat, mahasiswa yang berkutat dengan tugas kuliahnya, atau orang-orang yang sibuk memenuhi tuntutan kehidupan. Namun, untuk satu malam, mereka ingin menjadi seseorang yang berbeda.

1. Ada sisi kekanak-kanakan yang masih dimiliki ketika dewasa

Ilustrasi Halloween (pexels.com/Daisy Anderson)

Setelah seminggu penuh berkutat dengan pekerjaan, notifikasi yang tak kunjung berhenti, dan daftar tanggung jawab yang seolah tidak pernah habis, seseorang ingin menemukan kebahagiaan dari sesuatu yang kedengarannya sederhana, yaitu memilih kostum untuk Halloween. Ia mencoba topeng, mengoleskan riasan gelap di wajah, lalu tertawa sendiri ketika melihat bayangannya di cermin. Untuk sesaat, tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan atau ekspektasi yang perlu dipenuhi. Hanya ada dirinya dan kesenangan kecil yang mungkin sudah lama tidak ia rasakan.

Menjadi dewasa sering kali membuat seseorang terbiasa mengukur hari melalui produktivitas. Waktu luang pun terkadang terasa harus dimanfaatkan untuk sesuatu yang berguna. Padahal, tidak setiap kegiatan harus menghasilkan pencapaian. Psikolog di Cleveland Clinic, Chivonna Childs, menjelaskan bahwa Halloween memberi kesempatan bagi orang untuk berdandan dan menikmati kembali sisi kekanak-kanakan mereka.

“Menurut saya, orang menyukai Halloween karena perayaan ini memberi kesempatan bagi kita untuk berdandan dengan berbagai kostum dan kembali merasakan serunya menjadi anak-anak. Semua orang bisa menjadi karakter favorit mereka, entah itu karakter yang menyeramkan maupun yang lucu,” tutur Chivonna.

Halloween, dengan segala kostum dan permainan imajinasinya, menjadi ruang bagi orang dewasa untuk beristirahat sejenak dari keseriusan hidup. Mereka boleh terlihat konyol, tertawa lepas, atau melakukan sesuatu hanya karena terasa menyenangkan.

2. Di balik kostum, ada kesempatan untuk menjadi diri yang berbeda

ilustrasi halloween party (unsplash.com/galacticfantastic)

Di depan cermin, seseorang menghabiskan waktu lebih lama daripada biasanya. Ia merapikan riasan, mengenakan pakaian yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya untuk dipakai sehari-hari, lalu menatap pantulan dirinya sendiri. Malam itu, ia bukan lagi sosok yang dikenal rekan-rekan kantornya atau teman-temannya. Ia bisa menjadi penyihir, vampir, karakter film favorit, atau siapa pun yang selama ini hanya ada di dalam imajinasinya.

Barangkali, di situlah daya tarik Halloween. Dalam keseharian, penampilan dan perilaku sering kali dibentuk oleh lingkungan. Ada tuntutan untuk terlihat profesional, bersikap sopan, atau menjaga citra tertentu. Tanpa disadari, seseorang bisa terbiasa menampilkan sisi dirinya yang dianggap paling dapat diterima oleh orang lain. Lewat Halloween, ada sebuah kesempatan untuk keluar sebentar dari kebiasaan tersebut.

Menurut Susan Albers, PsyD, psikolog di Cleveland Clinic, “Ketika mengenakan topeng atau riasan tebal, seseorang mungkin merasa lebih anonim. Perasaan tersebut dapat mengurangi kecanggungan terhadap diri sendiri sekaligus membuatnya lebih berani berekspresi.” Demikian dikutip dari Cleveland Clinic.

Bukan berarti setiap orang yang mengenakan kostum sedang menyembunyikan kepribadian aslinya. Ada yang sekadar ingin bersenang-senang, ada pula yang menikmati proses merias diri. Namun, melalui permainan identitas ini, Halloween memperlihatkan bahwa ketika manusia mencoba menjadi orang lain, justru itu menjadi cara untuk menjelajahi sisi diri yang jarang mendapatkan ruang.

3. Ketakutan terasa berbeda ketika ada orang lain di samping kita

ilustrasi Halloween (pexels.com/Roxy Svydovetska)

Kamu bisa melihat kegelapan menyelimuti lorong itu. Musik menyeramkan terdengar dari kejauhan, disusul derap langkah kaki yang perlahan mendekat. Kamu berusaha terlihat berani di depan teman-teman, sampai seseorang tiba-tiba muncul dari balik pintu. Seketika, kamu menjerit dan meraih lengan orang di sebelahmu. Beberapa detik kemudian, ketegangan itu pecah menjadi tawa. Ternyata, rasa takut bisa menjadi pengalaman yang ingin diulang ketika kamu tidak menghadapinya sendirian.

Ada sesuatu yang menarik dari cara manusia menikmati ketakutan dalam situasi yang terkendali. Rumah hantu, film horor, dan permainan Halloween memungkinkan seseorang merasakan ketegangan tanpa benar-benar menghadapi ancaman yang sama seperti dalam kehidupan nyata. Perasaan takut itu datang bersama kesadaran bahwa semuanya merupakan bagian dari permainan.

Michelle “Lani” Shiota, profesor psikologi di Arizona State University yang meneliti emosi manusia mengatakan, “Berada bersama orang lain jelas membuat pengalaman merasakan takut yang menyenangkan menjadi lebih seru karena bermain merupakan aktivitas yang sangat sosial! Secara alami, manusia cenderung mencari dukungan dan perlindungan dari orang lain ketika merasa terancam. Karena itu, melakukan aktivitas semacam ini bersama teman bisa membantu mempererat ikatan di antara mereka.” Demikian dilansir laman Arizona State University.

Pengalaman semacam ini memberi orang dewasa kesempatan untuk menciptakan kenangan bersama. Hal-hal seperti itulah yang membuat sebuah perayaan terasa lebih berarti daripada sekadar acara dengan dekorasi seram.

Ketika malam berakhir, kostum-kostum mulai dilepas, riasan perlahan dibersihkan, dan foto-foto Halloween memenuhi galeri ponsel. Besok pagi, kamu akan kembali mengenakan pakaian kerja, membuka laptop, dan menjalani rutinitas yang sama seperti kemarin. Namun, ada sesuatu yang tertinggal dari malam itu. Ada sebuah perasaan lega karena sempat tertawa tanpa memikirkan apa-apa, keberanian untuk mencoba hal baru, dan kenangan sederhana bersama orang-orang terdekat. Barangkali itu yang membuat Halloween tetap dirayakan meski kita telah beranjak dewasa.

Curated For You

Editorial Team

Related Article