Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hero Complex Relawan Bencana, Kapan Empati Berubah Jadi Berlebihan?
ilustrasi kekurangan air bersih (pexels.com/Yakup Polat)
  • Relawan berperan penting mempercepat bantuan bencana, tetapi empati berlebihan dapat memicu hero complex: dorongan menolong yang menekan diri sendiri maupun orang lain.
  • Keinginan memulihkan korban secara cepat, menyalahkan pihak tertentu, dan menuntut perhatian setara berisiko membuat relawan stres serta kehilangan fokus pada bantuan.
  • Hero complex dapat mendorong eksploitasi korban lewat konten tanpa izin, mengabaikan privasi, memaksakan tenaga atau dana, hingga menggeser niat menolong menjadi pencarian pengakuan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat terjadi bencana, kehadiran relawan sangat penting. Gak mungkin dalam situasi yang membutuhkan uluran tangan dengan segera, setiap bantuan kudu diperoleh dengan membayar. Peran relawan utama guna mempercepat pertolongan pada para korban.

Relawan pun datang dari beragam latar belakang. Ada relawan yang merupakan tenaga medis untuk membantu mengobati luka-luka korban dan penyakit pengungsi. Ada psikolog atau mahasiswa psikologi, influencer, orang-orang yang peduli pada pendidikan, dan sebagainya.

Semangat buat membantu korban bencana tentu baik sekali. Namun, waspadai munculnya hero complex ketika empati relawan pada korban bencana tak lagi terbendung. Hero complex adalah kondisi psikologis yang membuat seseorang terlalu ingin membantu orang lain. Sindrom pahlawan dapat terjadi karena sebab-sebab di bawah ini.

1. Keinginan agar kehidupan para korban secepatnya pulih

ilustrasi memasak di pengungsian (pexels.com/Hamza Awan)

Tentu semua masyarakat ingin agar korban bencana di mana pun berada dapat segera pulih baik secara fisik, mental, maupun perekonomiannya. Akan tetapi, situasi pasca bencana memang benar-benar tidak mudah. Banyak sekali hal yang mesti dibenahi secara bertahap.

Perbaikan infrastruktur, penataan lingkungan, penyembuhan trauma, dan sebagainya. Makin besar bencananya, makin lama juga waktu yang dibutuhkan untuk menata ulang kehidupan para korban. Namun, empati yang begitu kuat pada penderitaan korban bisa bikin relawan ingin segalanya beres dalam beberapa hari atau minggu saja.

Ia sangat terbebani secara emosi harus melihat korban bencana lama berada di pengungsian. Itu jelas bukan tempat yang nyaman sekalipun sudah coba dibuat sedemikian rupa. Namun, tidak mempertimbangkan peliknya situasi di lapangan serta bantuan yang datang bertahap akan membuat relawan stres. Ia bisa merasa bersalah seolah-olah gagal menolong.

2. Merasa ada banyak pihak yang harus bertanggung jawab

ilustrasi pengungsian (pexels.com/Ahmed akacha)

Dalam satu bencana memang bisa ada banyak pihak yang kudu bertanggung jawab. Apalagi bencana yang seharusnya masih diperkirakan serta diantisipasi oleh berbagai pihak. Seperti pemerintah, warga setempat, serta oknum pengusaha yang coba mengejar untung.

Misalnya, bencana banjir, tanah longsor, serta kebakaran hutan. Ketiganya banyak dipengaruhi oleh kesalahan manusia. Seperti tata kelola lahan, buruknya pengawasan terhadap pengusaha nakal yang membabat hutan, dan sebagainya. Sebagai relawan yang terjun langsung ke lapangan wajar apabila merasa prihatin bahkan marah.

Maka muncul keinginan yang kuat buat menyalahkan berbagai pihak. Mereka dianggap harus bertanggung jawab atas terjadinya bencana tersebut. Sikap terus menyalahkan yang berujung provokasi atau relawan sendiri menjadi kurang fokus dalam memberikan bantuan termasuk toksik. Pun belum tentu setiap pihak yang disudutkannya benar-benar bersalah.

3. Keinginan bencana kali ini mendapatkan atensi yang sama dengan bencana lain

ilustrasi pengungsi (pexels.com/Hosny salah)

Relawan yang terjun langsung di lapangan dan berinteraksi dengan korban secara intens menjadi amat sensitif. Mudah baginya merasakan adanya ketidakadilan dalam penanggulangan bencana. Terlepas dari realitasnya, ia bisa merasa berbagai pihak kurang peduli dengan bencana kali ini.

Lain dengan bencana-bencana sebelumnya dan di berbagai tempat yang seakan-akan begitu diperhatikan oleh pemerintah maupun masyarakat luas. Perasaan dianaktirikan membuatnya marah serta sakit hati tanpa bisa berbuat banyak. Padahal, bias pandangan seperti ini dapat terjadi karena dalam bencana-bencana lain mungkin ia belum terlibat secara langsung.

Sebagai orang yang berdiri di luar medan bencana saat itu, bantuan seakan-akan telah maksimal. Padahal, situasi antarbencana boleh jadi sebenarnya kurang lebih sama. Fokus berlebihan pada ketidakadilan membuatnya kurang mengapresiasi kerja sama seluruh pihak.

4. Sukar membedakan sekadar menginformasikan vs eksploitasi bencana

ilustrasi bencana banjir (pexels.com/Juan Moccagatta)

Semangat tinggi sebagai relawan dapat menimbulkan sindrom pahlawan. Ia ingin terus memperbarui informasi terkait situasi terkini di lokasi bencana dan para korbannya pada sebanyak mungkin orang. Dia lantas membuat berbagai konten yang diharapkan bisa mengetuk hati orang-orang guna mengulurkan tangan.

Namun, empati yang terlalu dalam rentan membuatnya justru mengeklploitasi korban bencana. Mereka terus menjadi bagian dari foto serta videonya buat disebarluaskan melalui media sosial. Tanpa pernah meminta izin terlebih dahulu pada orang yang akan direkam.

Korban bencana menjadi seperti gak punya privasi sedikit pun. Bukannya mereka merasa senang, malah menjadi tambah sedih atau kesal dengan aksi relawan yang terlalu ingin menunjukkan kondisinya yang memprihatinkan. Ketika videonya menarik perhatian masyarakat, relawan tersebut lambat laun lebih ingin dipuji karena sudah membantu secara langsung daripada tulus menolong.

5. Semangat untuk totalitas dalam membantu

ilustrasi proses evakuasi (pexels.com/samimibirfotografci)

Menjadi relawan bencana bukan tugas yang mudah. Fisik harus prima karena medan yang sulit, keterbatasan makanan dan minuman, dan kurangnya istirahat akan meningkatkan risiko sakit. Semangat sebagai tim penyalur bantuan juga kudu terjaga.

Namun, semangat tinggi dalam menolong para korban bencana juga dapat membuat relawan abai akan diri sendiri. Seperti ia memaksakan diri buat terus bekerja ketika tubuh sudah mendesak untuk beristirahat. Relawan juga dapat mengesampingkan kewajibannya terhadap pekerjaan demi terus bisa berada di lokasi bencana.

Padahal, hidupnya sendiri atau bersama keluarga tetap butuh dibiayai. Bahkan ketika relawan sudah mengalami sindrom pahlawan, bukan cuma tenaga yang dicurahkan. Tabungan pun dapat terkuras guna disumbangkan. Padahal, semestinya relawan dan donatur saling melengkapi.

Orang yang tidak bisa secara langsung memberikan bantuan di lokasi bencana dapat menjadi donatur. Baik dengan menyumbang dana maupun barang. Sementara relawan terjun ke lapangan guna menyalurkan berbagai bantuan.

Hero complex lahir dari empati yang begitu besar pada orang-orang yang sedang mengalami kesulitan. Empati mendorong orang buat membantu semampunya. Sementara sindrom pahlawan bikin orang menekan diri sendiri maupun orang lain terlalu keras guna memberikan bantuan. Maksud menolong pun bisa bergeser menjadi mencari pengakuan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article