“Sering kali, dalam comfort shows, terdapat sosok-sosok yang membuat kita merasa terhubung. Tayangan tersebut menyajikan cerita yang selaras dengan diri kita, atau cerita yang kita harap bisa kita rasakan keterkaitannya,” jelas psikolog Chivonna Childs, PhD, dalam Cleveland Clinic.
"Sebagai contoh, seseorang yang mengalami kecemasan mungkin gemar menonton ulang tayangan yang sama karena mereka sudah mengetahui bagaimana akhirnya," tambahnya.
Kenapa Upin & Ipin Cocok Disebut 'Comfort Show' untuk Banyak Orang?

Ada tontonan yang kita nikmati karena ceritanya seru, ada pula tontonan yang kita cari justru ketika sedang lelah. Upin & Ipin termasuk salah satu serial yang punya daya tarik seperti itu. Meski episodenya sudah pernah ditonton berkali-kali, banyak orang tetap bisa merasa senang ketika kembali melihat Upin, Ipin, Opah, Kak Ros, dan teman-temannya menjalani keseharian di Kampung Durian Runtuh.
Istilah comfort show sendiri merujuk pada tontonan yang memberikan rasa nyaman, familiar, atau menenangkan sehingga seseorang sengaja kembali menontonnya. Lalu kenapa serial Upin & Ipin bisa demikian?
1. Ceritanya familiar sehingga tidak membuat otak terlalu 'bekerja'

cuplikan episode Upin dan Ipin Dah Besar (youtube.com/Les' Copaque Production) Salah satu alasan utama sebuah tontonan bisa menjadi comfort show adalah karena penonton sudah mengetahui apa yang akan mereka dapatkan. Upin & Ipin memiliki pola cerita yang relatif ringan: ada kehidupan di rumah, sekolah, bermain bersama teman, kegiatan di kampung, atau masalah kecil yang biasanya dapat diselesaikan dalam satu cerita. Karena itu, penonton tidak harus terus-menerus menebak alur atau mengingat terlalu banyak konflik.
2. Karakternya terasa seperti teman lama

cuplikan episode Pokok Seribu Guna di serial Upin dan Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production) Coba perhatikan bagaimana penonton mengenal karakter-karakter Upin & Ipin. Kita tahu Opah akan memberikan nasihat, Kak Ros bisa tiba-tiba marah ketika adiknya berbuat nakal, Mail sibuk dengan urusan dagangannya, Ehsan sering percaya diri, Fizi punya celetukan khas, sementara Jarjit hadir dengan pantun-pantunnya.
Familiaritas semacam itu membuat karakter fiksi terasa semakin dekat karena penonton sudah memahami kepribadian mereka. Dalam psikologi media, kedekatan semacam itu dikenal melalui konsep parasocial relationship, yaitu hubungan satu arah yang dirasakan seseorang terhadap figur media.
"Parasocial relationship terjadi ketika kamu merasakan ikatan emosional satu arah dengan karakter fiksi atau tokoh media," dikutip dari PsychCentral yang telah ditinjau oleh terapis Jennifer Litner, PhD, LMFT, CST.
"Parasocial relationship sering kali berlanjut hingga ke kehidupan sehari-hari, jauh setelah kamu melihat seorang 'influencer' atau tokoh media tersebut. Dalam beberapa kasus, seseorang yang menjalani hubungan parasosial mungkin berbicara seolah-olah mereka mengenal secara pribadi selebritas yang membuat mereka merasa memiliki ikatan batin tersebut," lanjutnya.
3. Nostalgia membawa penonton kembali ke masa yang lebih sederhana

cuplikan episode Pokok Seribu Guna di serial Upin dan Ipin (youtube.com/Les' Copaque Production) Bagi banyak orang yang tumbuh bersama Upin & Ipin, serial ini tidak hanya mengingatkan pada karakter, tetapi juga pada masa tertentu dalam hidup. Mendengar suara Upin dan Ipin, melihat rumah Opah, suasana sekolah, atau menyaksikan mereka bermain bersama teman dapat memunculkan ingatan tentang masa kecil.
Tontonan akhirnya bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi pemicu nostalgia. Penelitian mengenai “comfort watch” oleh Sohni Kaur dari Scripps College menemukan adanya hubungan antara tingkat stres dan penggunaan film sebagai tontonan penghibur. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa orang cenderung menggunakan film yang mereka kenal dari periode lebih awal dalam hidup sebagai comfort viewing. Kaur menyimpulkan bahwa nostalgia dan penggunaan media dapat berkaitan dengan strategi coping tertentu.
"Nostalgia—sebuah konsep yang berakar pada teori media dan psikologi—paling tepat didefinisikan sebagai kerinduan akan suatu masa, bukan suatu tempat. Ketika dipadukan dengan film, nostalgia melahirkan konsep comfort watch (film yang memberikan rasa nyaman)," jelasnya dalam studi THE COMFORT WATCH: PSYCHOLOGY AND MEDIA THEORY PERSPECTIVES ON NOSTALGIA AND FILM dikutip dari Claremont Scholarship.
"Studi ini menemukan hubungan positif yang signifikan antara tingkat stres individu dan usia saat mereka pertama kali menonton film yang memberikan rasa nyaman tersebut," tambahnya.
4. Konfliknya ringan, tetapi tetap memberikan rasa hangat

Upin dan Ipin sedang membaca komik (dok. Les' Copaque Production/Upin & Ipin) Berbeda dari banyak serial yang mengandalkan konflik besar, Upin & Ipin sering mengambil persoalan dari kehidupan sehari-hari. Berebut sesuatu dengan teman, salah paham, melakukan kenakalan, mengikuti kegiatan sekolah, atau menghadapi masalah kecil di kampung menjadi sumber cerita.
Konfliknya cukup untuk membuat cerita menarik, tetapi biasanya tidak membuat penonton merasa terbebani secara emosional. Hal ini juga membuat Upin & Ipin relatif mudah dinikmati ketika seseorang tidak sedang ingin berpikir terlalu berat. Penonton bisa mengikuti cerita tanpa harus bersiap menghadapi plot twist besar atau konflik emosional berkepanjangan.
Namun, bukan berarti semua masalah dalam serial tersebut selalu sempurna. Justru karena persoalannya dekat dengan keseharian-keluarga, pertemanan, sekolah, dan kehidupan bertetangga-penonton bisa mendapatkan hiburan sekaligus rasa hangat dari penyelesaiannya.
5. Dunia Kampung Durian Runtuh terasa seperti tempat untuk pulang

Upin dan Ipin membantu Tok Dalang memanen durian (youtube.com/Les' Copaque Production) Ada alasan lain yang membuat Upin & Ipin terasa nyaman: dunia yang dibangun di dalamnya terasa konsisten. Kampung Durian Runtuh memiliki rumah, sekolah, warung, lapangan, serta karakter-karakter yang terus muncul. Penonton seakan tahu ke mana Upin dan Ipin akan pergi dan siapa saja yang mungkin mereka temui.
Konsistensi inilah yang membuat dunia fiksi tersebut terasa akrab. Melihat hal ini, Kampung Durian Runtuh bukan sekadar latar cerita. Bagi penonton yang sudah mengenalnya bertahun-tahun, tempat itu bisa terasa seperti sebuah ruang emosional yang selalu tersedia untuk dikunjungi kembali.
Upin & Ipin cocok disebut comfort show bukan semata-mata karena lucu atau ditujukan untuk anak-anak. Serial ini menawarkan sesuatu yang lebih sederhana: karakter yang familiar, cerita yang mudah diikuti, konflik yang tidak terlalu berat, suasana hangat, serta nostalgia bagi mereka yang sudah mengenalnya sejak kecil.





















![[QUIZ] Seberapa Beruntung Kamu Bulan Ini?](https://image.idntimes.com/post/20250527/upload_51176a408a9bd2370a744fb550e3cb81.jpg)