ilustrasi orang menyentuh pundak orang lain (pexels.com/https://kaboompics.com/)
Supaya kamu gak terjebak dalam bias kognitif ini dan terhindar dari perilaku menyalahkan korban, ada sejumlah cara yang bisa kamu terapkan. Pertama, kamu harus menyadari bahwa musibah, penyakit, maupun kejahatan bisa menimpa siapa saja tanpa memandang seberapa baik orang tersebut. Ada faktor lain di luar kendali manusia.
Kedua, fokus pada penderitaan korban dan kejahatan pelaku. Ingat untuk jangan pernah membela pelaku kejahatan. Fokus ini membuat kamu senantiasa mendukung korban dan menuntut tanggung jawab pelaku, alih-alih melakukan victim blaming kepada korban.
Ketiga, latih empati kepada sesama. Empati itu penting untuk bisa memahami apa yang dirasakan orang lain dan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Dengan bersikap empati, kamu bisa menahan diri dari menghakimi atau menyalahkan orang yang sedang tertimpa kemalangan.
Bagaimana melatihnya? Melansir laman Alodokter, sejumlah cara untuk menumbuhkan empati seperti berusaha mendengarkan cerita orang lain tanpa menyela, sering menempatkan diri di posisi orang lain, bergaul dengan orang yang punya latar belakang berbeda, dan berusaha untuk memahami orang lain yang gak sependapat dengan kita.
Terjebak dalam just-world hypothesis gak serta merta memberikanmu kenyamanan dalam dunia yang adil, membiarkan bias ini menetap dalam pikiranmu justru berisiko besar melukai korban dan mengikis rasa kemanusiaan. Sikap tersebut malah menciptakan ketidakadilan yang nyata di sekitar. Berempati dan mendukung korban kejahatan alih-alih menyalahkannya merupakan bentuk keadilan sesungguhnya. Dari tindakan tersebut, kita bisa menciptakan lingkungan sosial yang lebih bijak dan aman.