Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Just-World Hypothesis, Bias yang Memicu Victim Blaming
Seorang wanita merasa sedih. (pexels.com/RDNE Stock project)
  • Just-world hypothesis adalah bias yang meyakini dunia selalu adil, sehingga penderitaan korban kerap dianggap akibat kesalahannya sendiri dan memicu victim blaming.
  • Bias ini dipicu ketakutan pada ketidakpastian, kebutuhan akan kontrol, pencarian pola sebab-akibat, serta narasi pengasuhan bahwa orang baik diberi ganjaran dan orang jahat dihukum.
  • Dampaknya mencakup penderitaan berlapis bagi korban, terkikisnya empati, dan minimnya perhatian pada masalah sistemik; pencegahannya dilakukan dengan fokus pada korban, pelaku, serta melatih empati.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Saat mendengar berita tentang kasus kejahatan seksual di media sosial, pernahkah kamu membaca komentar seperti “pergaulannya bebas sih”, “kurang beribadah itu, jauh dari Tuhan” atau semacamnya? Respons spontan menyalahkan orang yang tertimpa musibah seperti itu merupakan hal yang cukup sering kita jumpai.

Fenomena ini bisa saja berakar dari bias kognitif dalam psikologi bernama just-world hypothesis. Istilah ini erat kaitannya dengan hukum tabur tuai yang kita kenal, bahwa “apa yang kamu tabur, itulah yang akan kamu tuai”. Meskipun hukum tabur tuai terdengar positif, tapi penerapannya yang keliru bisa berdampak negatif dan berbahaya, membuat kamu jadi terlalu cepat menghakimi tanpa melihat realitas yang sebenarnya. Seperti apa penjelasan terkait bias kognitif ini? Yuk, simak ulasan berikut!

1. Apa itu just-world hypothesis?

ilustrasi orang bersandar di tempat tidur (pexels.com/MART PRODUCTION)

Just-world hypothesis merupakan kecenderungan psikologis ketika seseorang meyakini bahwa dunia itu pada dasarnya adil dan setiap orang akan mendapatkan apa yang layak dan pantas mereka dapatkan. Konsep ini membuat kita percaya bahwa orang baik akan memperoleh kebaikan, sebaliknya orang yang mengalami hal buruk dianggap punya alasan tertentu atas penderitaannya. Masalahnya, dalam konteks tindak kejahatan, termasuk kasus kekerasan dan pelecehan seksual, bias kognitif ini kerap memicu cara pandang yang keliru.

Melansir laman Participation Resource Pool, saat ada kejahatan maupun ketidakadilan, orang yang terjebak dalam just-world hypothesis beranggapan bahwa korban bernasib sial karena kesalahannya sendiri. Dengan kata lain, mereka menyalahkan korban (victim blaming) karena berasumsi bahwa korban telah melakukan kesalahan di masa lalu sehingga ia pantas mengalami hal buruk itu.

Inilah mengapa berita mengenai kasus kekerasan sebagian diisi oleh kolom komentar yang menyudutkan korban dan menganggap korban memancing masalah. Sikap yang sama juga muncul ketika membahas isu terkait kemiskinan, tunawisma, penyakit, kecelakaan, hingga korban bencana alam.

2. Penyebab dan pemicu just-world hypothesis

ilustrasi orang memegang gawai (pexels.com/MART PRODUCTION)

Lantas, mengapa banyak orang sangat percaya bahwa dunia itu adil dan bahkan sampai tega menyalahkan korban kejahatan? Ada sejumlah alasan yang mendasari kondisi ini.

Pertama, manusia pada dasarnya takut pada ketidakpastian. Mereka memerlukan rasa aman dan kebutuhan untuk mengendalikan sesuatu (need for control). Memercayai just-world hypothesis membuat kamu merasa punya kendali atas hidupmu. Sebab, kamu memegang prinsip bahwa “selama kita menjadi orang baik, hal buruk tidak akan menghampiri”.

Kedua, manusia senantiasa mencari pola sebab-akibat agar dapat memahami dunia yang kompleks. Pikiran kita menyukai keteraturan dan kelogisan. Inilah yang membuat kita cenderung mengaitkan setiap peristiwa dengan alasan tertentu. Kamu yang terjebak dalam just-world hypothesis meyakini bahwa penderitaan itu harus memiliki sebab, dan penyebabnya adalah karena kesalahan seseorang.

Ketiga, pola pengasuhan dan pembelajaran sosial. Sejak kecil, kita disuguhi oleh narasi “orang baik memperoleh hadiah, orang jahat mendapat hukuman”. Narasi semacam ini membentuk pola pikir kita hingga dewasa dalam memandang dunia. Ketika mendapat berita tentang kasus kekerasan, menyalahkan korban pun menjadi jawaban sederhana yang masuk akal. “Mungkin ini karena dosa sebelumnya”. “Pasti ini karma.”

3. Dampak bahaya just-world hypothesis

ilustrasi orang bertengkar (pexels.com/RDNE Stock project)

Bias kognitif ini tentu membawa dampak yang merugikan dan membahayakan. Pertama, adanya secondary victimization atau penderitaan berlapis bagi korban. Menjadi korban kekerasan atau pelecehan tentu memberikan luka maupun trauma yang begitu dalam. Korban pun semakin tertekan karena disudutkan dan disalahkan oleh masyarakat.

Kedua, mengikis empati sosial. Bias kognitif ini membuat orang mudah kehilangan rasa empatinya kepada individu atau kelompok rentan. Sebab, mereka menganggap bahwa kondisi tersebut semata-mata terjadi akibat dari kesalahan sendiri.

Ketiga, kurangnya pemahaman mengenai masalah sistemik. Melansir laman Clearer Thinking, just-world hypothesis berdampak pada kurangnya kemauan seseorang dalam mengatasi masalah sistemik. Kondisi ini lantas menyebabkan dunia terasa semakin tak adil bagi mereka yang benar-benar membutuhkan pertolongan. Ketika masalah seperti diskriminasi, kejahatan seksual, maupun kemiskinan dinilai murni karena kesalahan individu, masyarakat pun enggan mendukung perubahan sistem atau kebijakan yang sebenarnya amat diperlukan untuk melindungi kelompok rentan.

4. Cara agar terhindar dari bahaya bias just-world hypothesis

ilustrasi orang menyentuh pundak orang lain (pexels.com/https://kaboompics.com/)

Supaya kamu gak terjebak dalam bias kognitif ini dan terhindar dari perilaku menyalahkan korban, ada sejumlah cara yang bisa kamu terapkan. Pertama, kamu harus menyadari bahwa musibah, penyakit, maupun kejahatan bisa menimpa siapa saja tanpa memandang seberapa baik orang tersebut. Ada faktor lain di luar kendali manusia.

Kedua, fokus pada penderitaan korban dan kejahatan pelaku. Ingat untuk jangan pernah membela pelaku kejahatan. Fokus ini membuat kamu senantiasa mendukung korban dan menuntut tanggung jawab pelaku, alih-alih melakukan victim blaming kepada korban.

Ketiga, latih empati kepada sesama. Empati itu penting untuk bisa memahami apa yang dirasakan orang lain dan melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Dengan bersikap empati, kamu bisa menahan diri dari menghakimi atau menyalahkan orang yang sedang tertimpa kemalangan.

Bagaimana melatihnya? Melansir laman Alodokter, sejumlah cara untuk menumbuhkan empati seperti berusaha mendengarkan cerita orang lain tanpa menyela, sering menempatkan diri di posisi orang lain, bergaul dengan orang yang punya latar belakang berbeda, dan berusaha untuk memahami orang lain yang gak sependapat dengan kita.

Terjebak dalam just-world hypothesis gak serta merta memberikanmu kenyamanan dalam dunia yang adil, membiarkan bias ini menetap dalam pikiranmu justru berisiko besar melukai korban dan mengikis rasa kemanusiaan. Sikap tersebut malah menciptakan ketidakadilan yang nyata di sekitar. Berempati dan mendukung korban kejahatan alih-alih menyalahkannya merupakan bentuk keadilan sesungguhnya. Dari tindakan tersebut, kita bisa menciptakan lingkungan sosial yang lebih bijak dan aman.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article