Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

⁠Kenapa Kita Sulit Menerima Pujian tanpa Mengecilkan Diri Sendiri?

3 min read
⁠Kenapa Kita Sulit Menerima Pujian tanpa Mengecilkan Diri Sendiri?
ilustrasi pujian (pexels.com/Yan Krukau)
  • Kebiasaan mengkritik diri sendiri membuat kekurangan terasa lebih dominan, sehingga pujian dan umpan balik positif kerap dianggap tidak sesuai dengan penilaian diri.
  • Sebagian orang menyangkal pujian karena merasa tidak pantas atau takut dianggap sombong, padahal menerima apresiasi cukup dilakukan dengan mengucapkan terima kasih.
  • Fokus pada target berikutnya dapat membuat pencapaian terlewat dihargai; seseorang tidak harus sempurna untuk menerima apresiasi atas usaha dan kemampuannya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

“Presentasi kamu tadi bagus banget. Penjelasannya gampang dipahami!”, seorang rekan kerja memujimu setelah rapat selesai. Kamu tersenyum, lalu menjawab, “Masa, sih? Tapi tadi aku sempat nge-blank, loh”. Percakapan berakhir dengan tawa kecil, tetapi kamu justru teringat bagian presentasi yang menurutmu kurang maksimal.

Padahal, temanmu baru saja memberikan apresiasi. Namun sebelum sempat menikmatinya, kamu buru-buru mencari alasan untuk membantah. Kebiasaanmu ini mungkin terasa sepele, bahkan sering dianggap sebagai bentuk kerendahan hati. Tetapi karena hal ini, kamu jadi berpikir, "Kenapa kamu sulit untuk menerima pujian?"

  1. 1. Kita lebih hafal kekurangan daripada kelebihan diri sendiri

    ilustrasi pujian palsu
    ilustrasi sulit menerima pujian (pexels.com/Pavel Danilyuk)

    Kamu menghabiskan berjam-jam untuk menyelesaikan sebuah tulisan. Ketika editor mengatakan hasilnya menarik, kamu justru teringat satu paragraf yang harus direvisi berkali-kali. “Ah, ini masih banyak kurangnya, kok,” jawabmu.

    Dalam artikel Psychology Today, psikolog klinis berlisensi, Yesel Yoon, Ph.D., membahas tentang sikap terlalu mengkritik diri sendiri dapat terlihat dari kebiasaan menilai diri secara negatif dan mengatakan hal-hal buruk tentang diri sendiri. Hal ini juga dapat terlihat dari kecenderungan menghindari berbicara positif kepada diri sendiri, serta mengabaikan atau meremehkan pujian dan umpan balik positif dari orang lain.

    Kebiasaan mengkritik diri sendiri membuat kekurangan terasa lebih nyata daripada keberhasilan. Pujian dari editor tadi seakan terdengar berlebihan karena tidak sesuai dengan penilaian kamu terhadap dirimu sendiri. Padahal, tulisanmu boleh saja masih membutuhkan revisi namun hal itu gak menghapus fakta bahwa ada bagian lain yang berhasil kamu kerjakan dengan baik.

  2. 2. Kita takut dianggap sombong saat mengakui kelebihan sendiri

    ilustrasi pujian kepada teman
    ilustrasi pujian kepada teman (pexels.com/Ketut Subiyanto)

    Temanmu memuji parasmu setelah kamu selesai make-up untuk pergi menghadiri suatu acara. Kamu sebenarnya senang mendengarnya, tetapi yang keluar dari mulutmu malah, “Ah, enggak, biasa saja, ini aja aku sedang banyak jerawat”. Tanpa sadar, kamu menganggap menerima pujian sebagai sesuatu yang harus disertai penyangkalan. Kamu khawatir terlihat terlalu percaya diri jika mengakui bahwa penampilan atau pekerjaan kamu memang layak diapresiasi.

    Menurut Bushra Khan, seorang pelatih transformasi diri, “Sebagian orang merasa kurang percaya diri, merasa gak pantas dipuji, atau takut dianggap sombong saat menerima pujian. Akibatnya, mereka sulit menghargai dan menerima pujian dengan baik karena belum terbiasa melakukannya,” dikutip dari Gulf News.

    Padahal, mengakui kelebihan bukan berarti kamu merasa lebih unggul daripada orang lain. Kamu cukup mengucapkan terima kasih atas pujian dari temanmu tanpa harus buru-buru mencari kekurangan untuk menyangkal pujian tersebut.

  3. 3. Kita terlalu sibuk mengejar target berikutnya

    ilustrasi memuji dengan berlebihan
    ilustrasi memuji seseorang (pexels.com/Mikhail Nilov)

    Setelah menyelesaikan pekerjaan yang melelahkan, seorang teman berkata, “Kamu hebat banget bisa menyelesaikannya tepat waktu!” Kamu tersenyum sebentar, lalu kembali membuka daftar pekerjaan berikutnya. Belum sempat menikmati kelegaan, pikiranmu sudah dipenuhi target baru yang perlu kamu kerjakan. Sehingga, pujian dari temanmu tadi berlalu begitu saja.

    Keinginanmu untuk terus berkembang memang baik. Namun jika setiap pencapaian hanya dianggap sebagai batu loncatan menuju target berikutnya, kamu lama-kelamaan bisa lupa menghargai usaha yang sudah kamu lakukan. Kamu tidak harus menunggu promosi, memenangkan kompetisi, atau menghasilkan karya terbaik untuk mengakui kemampuan sendiri. Ketika kamu bisa menyelesaikan tugas tepat waktu dan berani mencoba hal baru, itu juga bagian dari proses yang layak untuk kamu hargai.

    Di kemudian hari, seseorang datang memujimu kembali, mungkin kamu masih merasa canggung. Lidahmu bahkan hampir mengucapkan, “Ah, kebetulan aja”. Namun, kamu mencoba untuk berhenti sejenak sebelum menyangkalnya. Kamu mulai merasa gak harus sempurna untuk menerima apresiasi. Terkadang, salah satu cara untuk belajar menghargai dirimu sendiri dimulai dari membiarkan satu kalimat baik diterima tanpa perlu mencari alasan untuk membantahnya.

Share Article
Editorial Team

Di Balik Produksi Operasi Pesta Copet

Related Articles

See More