Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Kartini Masa Kini: Ini Kisah Inspiratif Merchant ShopeeFood
Lulu Ulwiyah, Takoyaki Pekoo Pekoo (Dok. Shopee)
  • Tiga perempuan inspiratif, Nanik Soelistiowati, Vania Rahardjo, dan Lulu Ulwiyah, menunjukkan semangat Kartini masa kini lewat bisnis kuliner yang sukses berkembang di berbagai kota Indonesia.
  • Bloomery Patisserie tumbuh dari hobi keluarga menjadi usaha pastry besar berkat dukungan digital ShopeeFood dan tim perempuan yang solid dengan semangat growth mindset.
  • Pisang Goreng Madu Bu Nanik dan Takoyaki Pekoo Pekoo membuktikan ketekunan serta inovasi mampu mengubah penolakan awal menjadi kesuksesan besar sekaligus memberdayakan perempuan pelaku UMKM.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Dulu, mindset masyarakat Indonesia terhadap sosok perempuan cenderung dinilai ‘sederhana’, yakni hanya cocok untuk mengurus hal rumah tangga saja. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, perempuan justru memiliki peran penting dan signifikan, bahkan ada yang hingga memberikan perubahan.

Banyak sosok perempuan yang menjadi leader atau pemimpin, pekerja kantoran, hingga menjadi seorang CEO dari bisnis yang ditekuninya.

Seperti Nanik Soelistiowati yang merupakan pendiri Pisang Goreng Madu Bu Nanik, Vania Rahardjo untuk bisnis Bloomery Patisserie, dan Lulu Ulwiyah sebagai pendiri dari Takoyaki Pekoo Pekoo. Ketiganya menjadi contoh bagaimana ketekunan dan konsistensi dapat membawa sebuah usaha tumbuh dan menjangkau lebih banyak orang. Kisah inspiratif mereka menjadi gambaran tentang sosok Kartini masa kini yang membawa perubahan.

1. Bloomery Patisserie: Cerita Manis dari Dapur Keluarga hingga Buka Toko di Berbagai Kota

Vania Rahardjo, Co-Founder Bloomery Patisserie (Dok. Shopee)

dalam membangun Bloomery Patisserie, yang kini telah berkembang menjadi usaha pastry dengan konsumen di berbagai kota di Indonesia.

“Karena banyak waktu luang dan kebetulan kita hobi baking. Pas mama ulang tahun, kita bikinin mille crepes buat mama. Ternyata mama suka banget dan malah minta kita untuk tawarin ke teman-teman dan keluarga,” kenang Vania, Co-Founder Bloomery Patisserie yang dikenal dengan spesialisasi cake dan gifting.

Setelah mendapat respons positif, Vania dan ketiga saudaranya mulai menjual kue secara pre-order. Ternyata mille crepe yang dijajakan menarik banyak peminat, tambahnya saat diwawancarai.

Permintaan pun terus meningkat dan ternyata mendorong mereka untuk membuka toko pertama di kawasan Kaliurang, Kabupaten Sleman, D. I. Yogyakarta. Usaha ini berkembang pesat hingga menjangkau Semarang, Solo, Jakarta hingga Surabaya

Bagi Vania, perjalanan ini menunjukkan bagaimana usaha yang dimulai dari langkah kecil dapat tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Kehadiran platform digital seperti ShopeeFood juga turut membantu memperluas jangkauan Bloomery hingga dikenal oleh lebih banyak pelanggan.

Perjalanan Bloomery tidak lepas dari peran orang-orang di baliknya. Selain dukungan keluarga, tim menjadi bagian penting dalam perkembangan usaha ini. Menariknya, sebagian besar tim Bloomery diisi oleh perempuan yang tumbuh bersama dalam lingkungan kerja yang saling mendukung.

“Intinya, siapapun harus punya growth mindset, terutama perempuan. Kita bisa jadi apapun yang kita mau,” tutupnya.

2. Pisang Goreng Madu Bu Nanik: Dari Penolakan hingga Dikenal Luas

Nanik Soelistiowati, Founder Pisang Goreng Madu Bu Nanik (Dok. Shopee)

Siapa yang tidak familiar dengan nama Bu Nanik? Kini Pisang Goreng Madu Bu Nanik menjadi ikon kuliner Jakarta favorit banyak orang. Bagi Bu Nanik, semangat Kartini adalah tentang ketekunan dan keberanian untuk terus melangkah, bahkan ketika menghadapi berbagai keterbatasan. Nilai itulah yang ia pegang dalam membangun usahanya dari nol.

“Saya mengambil semangat Ibu Kartini, yang mendorong saya untuk terus berjuang dan pantang menyerah hingga bisa sampai di titik ini,” tuturnya.

Meskipun begitu, perjalanan Bu Nanik tidak selalu mulus. Produk yang dikenal luas saat ini sempat beberapa kali ditolak karena tampilannya yang dianggap kurang menarik.

Saat awal bisnis berdiri, Bu Nanik pun coba menghadirkan pisang goreng madu sebagai hidangan penutup dari usaha katering yang ia jalankan. Namun, warna gelap yang dihasilkan dari proses karamelisasi madu membuat produk Pisang Goreng Madu Bu Nanik dipandang kurang menarik. Di balik itu, penggunaan madu sendiri terinspirasi dari kondisi sang ibu yang mengidap diabetes, sehingga ia mencari alternatif pemanis yang lebih sesuai.

Penolakan tersebut tidak membuatnya berhenti. Ia terus mencari cara untuk memperkenalkan produknya, mulai dari promosi sederhana menggunakan fotokopi, berjualan dengan gerobak, hingga mengikuti berbagai bazar UMKM. Jerih payahnya turut membuahkan hasil positif, produk pisang gorengnya perlahan mulai dikenal dan semakin diminati oleh masyarakat.

Di sisi lain, Bu Nanik juga membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar, ia aktif berbagi pengalaman dengan sesama pelaku UMKM melalui berbagai kegiatan edukasi. Berangkat dari pengalamannya merintis dari nol, ia ingin semakin banyak perempuan berani memulai dan mengembangkan usaha mereka sendiri.

3. Dari Osaka ke Indonesia: Awal Mula Takoyaki Pekoo Pekoo

Lulu Ulwiyah, Takoyaki Pekoo Pekoo (Dok. Shopee)

Berawal dari pengalaman studi di Jepang, Lulu Ulwiyah tak pernah menyangka bahwa ketertarikannya pada takoyaki akan berkembang menjadi bisnis kuliner dengan puluhan cabang.

Saat pulang ke Indonesia, perempuan yang akrab disapa Uli ini kebingungan untuk membawa oleh-oleh. Dari situlah, ia justru memutuskan untuk membawa pulang pan takoyaki dari Jepang dan mulai mencoba membuatnya sendiri dengan bahan-bahan yang tersedia di Indonesia.

Siapa sangka, takoyaki buatannya justru menjadi favorit. Uli memutuskan untuk menjual takoyaki dengan nama Pekoo Pekoo yang artinya “lapar” dalam bahasa Jepang.

Seiring meningkatnya permintaan, Uli memutuskan untuk bergabung dengan ShopeeFood. Pekoo Pekoo pun berkembang pesat hingga kini memiliki sekitar 20 cabang yang tersebar di Yogyakarta, Solo, dan Semarang.

Uli mengakui, ShopeeFood membantunya untuk menjangkau lebih banyak pelanggan dengan kehadiran berbagai promo menarik, terutama pada tanggal kembar dan tanggal gajian. “Penjualan tertinggi Pekoo Pekoo dari ShopeeFood. Sebelumnya kami punya 2 cabang, berkat ShopeeFood jadi 20 cabang,” ucapnya bangga.

Karena pertumbuhannya yang sangat pesat, Pekoo Pekoo pada 2023 lalu menjadi nominasi Super ShopeeFood Growing Merchant dan kembali menjadi nominasi sebagai pada kategori Top ShopeeFood Inspiring Merchant pada 2025 dalam ajang penghargaan Shopee Super Awards.

Selain merintis bisnis kuliner, perempuan lulusan Sastra Jepang ini tetap aktif bekerja sebagai penerjemah serta menjalankan peran sebagai seorang ibu. (WEB/BAP)

Editorial Team