Karier yang stabil menjadi impian bagi begitu banyak orang. Stabilitas dalam pekerjaan ditandai oleh beberapa hal. Seperti seseorang betah bertahun-tahun bekerja di kantor yang sama tanpa ancaman PHK atau keinginan resign.
Kenapa Karier yang Stabil Terasa Membosankan?

- Karier yang stabil sering kali membuat seseorang kehilangan rasa penasaran dan antusiasme karena hasil kerja serta jalur kariernya sudah dapat diprediksi.
- Rutinitas yang ajeg dan jadwal kerja yang kaku bisa menimbulkan kejenuhan setelah bertahun-tahun, meski awalnya terasa nyaman dan aman.
- Rasa bosan juga muncul ketika pekerjaan tidak sesuai passion atau karakter pribadi yang menyukai tantangan, sehingga stabilitas justru terasa membatasi.
Posisi yang diduduki juga sudah lumayan tinggi. Bukan lagi entry-level yang biasanya paling banyak diwarnai pengunduran diri karyawan. Pendapatan tentu juga telah jauh lebih baik. Secara umum, kesejahteraan sudah di tingkat yang memuaskan.
Kehidupannya tampak enak sekali dan pantas diimpikan semua orang. Akan tetapi, ternyata karier yang stabil juga dapat menimbulkan rasa bosan. Orang malah bisa merasa berhenti berkembang dan mulai membayangkan kehidupan yang berbeda. Lantas, mengapa karier yang stabil terasa membosankan, ya?
1. Sudah tahu hasil yang akan diperoleh dari setiap usaha

Ketika karier sudah stabil, tidak ada lagi teka-teki dalam pekerjaan yang digelutinya setiap hari. Segalanya sudah jelas sekarang. Untuk memperoleh gaji sekian per bulan, dia harus mengerjakan sejumlah tugas.
Bila ia ingin naik ke jabatan yang lebih tinggi, anak tangganya pun tampak jelas. Beda dengan orang yang pekerjaannya belum stabil. Mereka tahu apa yang diinginkan, tetapi tidak dengan caranya.
Atau, mereka juga tahu beberapa kemungkinan caranya, cuma belum pernah berhasil sehingga gelisah. Sementara orang dengan karier stabil seakan-akan memegang kunci yang tepat buat semua pintu. Itu malah mengurangi rasa antusiasmenya terhadap pekerjaan tersebut. Tidak ada lagi rasa penasaran dan coba-coba.
2. Rutinitas juga cenderung ajeg

Stabilitas dalam karier berkaitan erat dengan kejelasan jadwal serta tugas-tugas harian. Seseorang tidak bisa disebut mempunyai karier yang stabil kalau hari ini sibuk bekerja, tetapi besok atau lusa belum tahu akan melakukan apa. Bahkan dalam karier yang stabil, jadwalnya cenderung kaku.
Semua ada pengaturan waktunya, dari jam sekian sampai sekian. Kondisi ajeg begini terasa menyenangkan di awal sebab membuat orang gak perlu bingung. Suasana hati ikut menjadi lebih baik.
Namun, setelah berjalan beberapa tahun, mulai terasa menjemukan. Rasanya menjadi mirip rutinitas anak sekolah, lengkap dengan jadwal mata pelajaran. Libur dari rutinitas tersebut sangat diimpikan.
3. Tidak lagi berada di mode bertahan hidup atau berjuang buat sesuatu

Orang yang baru bekerja, apalagi bekerja lepas, belum tahu besok akan makan apa. Apalagi kalau penghasilannya harian. Juga kadang ada pekerjaan atau tidak. Hidup mereka memang keras.
Namun, di balik kerasnya hidup, mereka malah terdorong untuk terus berusaha melangkah maju. Sementara orang yang sudah gak perlu berjuang sekeras itu sekadar buat hidup menjadi terlalu santai. Ia masih bekerja seperti biasanya.
Akan tetapi, tiadanya ancaman kalau-kalau besok gak dapat duit membuatnya sekadar bekerja. Tak ada ekstra perjuangan yang bikin hidup lebih hidup. Bahkan dengan karier yang sudah mantap, ia tidak perlu bekerja terlalu keras pun, hidupnya masih aman-aman saja.
4. Karier stabil di bidang yang bukan passion-nya

Faktor passion juga dapat sangat berpengaruh dalam jangka panjang. Di awal, seseorang mungkin meremehkan pentingnya mempertimbangkan passion dalam bekerja. Pokoknya, asal dapat uang setiap bulan.
Berkarier di bidang yang sangat jauh dari passion pun bukan masalah. Akan tetapi, lambat laun rasa kurang puas bakal muncul. Sekalipun pekerjaan yang sekarang memberikan kehidupan yang serba stabil.
Baik stabil dari segi pemasukan maupun rutinitas yang telah terasa amat biasa baginya. Ini sebabnya, kalau seseorang berkarier di bidang yang bukan panggilan hatinya, tetaplah merawat passion di luar kantor. Seperti dengan menjalannya sebagai hobi atau usaha sampingan.
5. Pertemanan dengan orang yang itu-itu saja

Tentu makin mapan karier, jejaring juga makin luas. Maka arti dari pertemanan dengan orang yang itu-itu saja tidak berarti circle yang sempit. Malah lingkaran pergaulannya bertambah besar.
Hanya saja, orang-orangnya cenderung homogen. Mereka adalah sesama orang yang sudah menduduki posisi cukup tinggi. Pertemanan berubah monoton. Obrolan terbatas terkait pekerjaan.
Jarang orang dengan karier stabil mau berteman dengan orang yang pekerjaannya belum terarah. Mungkin cuma sebatas kenal, tapi tidak memiliki hubungan yang lebih dalam. Sementara relasinya dengan sesama pemilik karier stabil, tidak bisa benar-benar akrab. Ia menjadi seperti tak memiliki kawan sejati.
6. Karakter aslinya memang suka tantangan

Stabilitas karier tidak memberikan rasa puas yang awet pada orang dengan karakter asli yang lebih suka tantangan. Kemampuan menikmati karier yang stabil hanya sesaat. Seperti jeda sejenak dari petualangannya.
Usai rasa lelah bertualang hilang, ganti rasa bosan yang muncul. Karakter asli ini dapat terlihat dari hobi-hobinya yang memompa adrenalin. Juga pilihan pekerjaan sebelumnya yang lebih menantang.
Seperti staf penjualan yang kudu mengejar target atau bekerja di pertambangan dan tepat di bagian lapangan. Ketika ia pindah ke pekerjaan di belakang layar yang memberinya kestabilan, malah jadi terasa kurang gereget. Definisi karier yang enak menurut orang lain tidak sama baginya.
Kalau karier yang stabil terasa membosankan, siapa pun kudu menyikapinya dengan hati-hati. Jangan buru-buru ingin berhenti bekerja. Imbangi perasaan dengan akal sehat. Sebab karier yang stabil setidaknya secara keuangan tak perlu lagi terlalu dipikirkan. Sekadar mengikuti keinginan akan tantangan belum tentu mengantarkan pada keberhasilan. Daripada meninggalkan karier yang sudah mapan mending menyalurkan keinginan akan tantangan melalui hobi atau pekerjaan sampingan.

















