Tidak malas membaca dan mau belajar.
Marliana Kuswanti: Menulis adalah Maraton yang Butuh Napas Mental

- Lia Kuswanti memulai karier menulis sejak kuliah di UNS dan kini telah 17 tahun berkarya, menghasilkan berbagai karya fiksi serta aktif di komunitas penulis digital.
- Perjalanan Lia penuh tantangan, dari revisi berulang hingga akhirnya mampu menembus kurasi editor dan menulis beberapa artikel per hari tanpa revisi.
- Ketekunan Lia membuahkan kemandirian finansial dan pengakuan sebagai Community Writer of the Month 2026, dengan prinsip sabar, fokus, tekun, serta konsisten sebagai fondasi utama.
Bagi sebagian orang, jalan hidup adalah sebuah peta yang sudah digambar jelas sejak awal. Namun bagi Marliana Kuswanti, atau yang akrab disapa Lia, hidupnya justru ibarat sebuah buku fiksi bergenre misteri. Bertajuk Misteri di Balik Kabut, Lia mengaku sama sekali tidak pernah mencita-citakan profesi sebagai seorang penulis.
Siapa sangka, berawal dari keisengan mencari uang saku tambahan saat merantau kuliah di Jurusan Psikologi UNS pada tahun 2009 silam, langkah tersebut justru membawanya berjalan jauh hingga hampir 17 tahun berkutat di dunia literasi. Kini, perempuan asal Sokaraja, Banyumas ini sepenuhnya mendedikasikan hidup dari merangkai kata. Tidak hanya aktif sebagai community writer, Lia juga produktif melahirkan berbagai karya fiksi mulai dari cerpen, novelet, hingga cerita anak yang tersebar di berbagai platform digital dan penerbit mayor.
1. Jatuh cinta pada vibes positif kanal Life

Kisah Lia bersama IDN Times Community bermula sekitar tahun 2018 atau 2019. Sebagai pembaca setia di Facebook, ia selalu tertarik dengan artikel-artikel yang berseliweran karena dinilai membawa energi yang positif, memotivasi, dan jauh dari kesan provokatif. Ketertarikan itulah yang akhirnya mendorong Lia untuk mendaftar sebagai penulis.
Kanal Life langsung menjadi pelabuhan pertamanya. Baginya, Life adalah ruang tanpa batas yang menyentuh esensi keseharian semua orang. Ide-ide tulisannya pun sangat membumi; ia kerap mengamati media sosial, menangkap dinamika di lingkungan sekitar, hingga becermin dari pengalaman hidup sendiri untuk kemudian dibagikan kepada pembaca tanpa kesan menggurui.
2. Jangan malas baca panduan dan nurut arahan editor

Menjadi writer top tentu gak instan. Di awal bergabung, Lia sempat frustrasi karena artikelnya bolak-balik kena revisi, bahkan ada yang gagal tayang hanya karena ia bingung memahami instruksi editor dan cara upload gambar yang benar.
Namun, alih-alih menyerah dengan proses kurasi, Lia justru sadar bahwa kunci utama seorang penulis adalah:
Logikanya sederhana: rasanya agak ironis kalau ada penulis yang menuntut tulisannya segera lolos seleksi dan diterbitkan, tapi sama sekali gak pernah mau meluangkan waktu buat membaca aturan main atau buku panduan menulis yang sudah disediakan. Menulis itu bukan cuma soal ego menuangkan ide, tapi juga tentang kedisiplinan memahami regulasi platform.
Bagi Lia, memahami arahan editor saat revisi justru menjadi pencerahan instan yang menyelamatkannya dari kejenuhan sudut pandang. Membaca buku panduan menulis yang tebal sama pentingnya sebagai fondasi dasar sebelum bertempur lewat kata-kata. Berkat kedisiplinannya memahami aturan main dan nurut arahan editor, ketekunan Lia berbuah manis: dari yang semula cuma mengirim satu artikel seminggu, kini ia bisa meloloskan 2 sampai 4 artikel setiap hari tanpa revisi sama sekali!
3. Dari ruang digital menuju kemandirian finansial

Konsistensi yang dirawat Lia tidak hanya mematangkan kualitas kepenulisannya, tetapi juga memberikan dampak nyata secara finansial. Ada masa di mana ia secara konsisten mampu mengantongi pendapatan di atas Rp3 juta per bulan, sebuah angka yang saat itu sudah jauh melampaui Upah Minimum Regional (UMR) Surakarta tempat ia tinggal dulu.
Jika diakumulasikan selama hampir 8 tahun berkomitmen di IDN Times Community, angka ratusan juta rupiah sudah berhasil ia kumpulkan. Dari hasil keringatnya mengonversi poin secara reguler inilah Lia mampu membiayai kebutuhan hidup sehari-hari, menabung, hingga rutin menunaikan ibadah kurban saat Idul Adha.
4. Menulis adalah maraton yang butuh napas mental

Berdasarkan jam terbangnya yang panjang, Lia menekankan bahwa menguasai teknik menulis saja tidak akan cukup. Menulis, menurutnya, adalah sebuah lari jarak jauh (maraton) yang membutuhkan pengelolaan napas mental yang prima. Semangat yang menggebu-gebu di awal akan sia-sia jika penulis cepat lelah lalu memilih mundur di tengah jalan.
Lia merangkum empat pilar utama yang wajib dimiliki oleh setiap penulis: sabar, fokus, tekun, dan konsisten. Keempat fondasi inilah yang menjaga seorang penulis tetap bertahan melintasi tahun demi tahun, mengubah aktivitas mengetik yang semula hanya sekadar hobi menjadi sumber penghasilan, bahkan naik kelas hingga menjadi bagian dari identitas diri.
5. Tetap rendah hati dan menjadikan pembaca sebagai sandaran

Lia juga mengingatkan pentingnya menjaga sikap rendah hati dan tidak melihat sesama penulis sebagai saingan. Menurutnya, setiap kepala memiliki isi pikiran, perspektif, dan gaya penyampaian yang unik, sehingga para penulis justru hadir untuk saling melengkapi. Ia juga berpesan agar penulis menghargai keberadaan editor yang bertindak sebagai mata dan otak kedua bagi naskah mereka.
Di sisi lain, Lia mempersembahkan rasa terima kasih yang mendalam kepada para pembaca setianya. Baginya, pembaca adalah tiang sandaran utama saat rasa lelah dan jenuh mulai melanda. Pesan-pesan apresiasi yang sesekali masuk ke media sosial pribadinya dari para pembaca selalu sukses menjadi bahan bakar utama yang membuatnya terus konsisten memanjangkan umur kata-kata.
Untuk menajamkan rasa, menambah wawasan, dan melatih kemampuan berpikir runtut, Lia membagikan beberapa daftar buku kurasi pilihannya yang wajib dibaca oleh sesama Community Writers:
- Seluruh karya novel dari Emile Zola, Yu Hua, dan Jane Austen
- Novel ‘Toko Kelontong Selatan’ karya Zhang Ji
- Buku nonfiksi ‘The Other Einstein’ karya Marie Benedict dan ‘Quiet’ karya Susan Cain
- Seluruh seri ‘Little House’ karya Laura Ingalls Wilder
- ‘Kitab Epos Mahabharata’ karya C. Rajagopalachari
- ‘Anak Bajang Menggiring Angin’ & ‘Anak Bajang Mengayun Bulan’ karya Sindhunata
- ‘Serat Wedhatama’ karya KGPAA Mangkunegara IV (dituliskan oleh Ki Sabdacarakatama)
Menulis mungkin adalah sebuah proses sunyi yang dikerjakan sendirian, namun dampaknya bisa melintasi ruang dan menyentuh banyak hati di luar sana. Lewat empat pilar utamanya; sabar, fokus, tekun, dan konsisten, Lia berhasil membuktikan bahwa dunia literasi mampu memberikan kemandirian finansial sekaligus identitas diri yang kuat. Selamat sekali lagi untuk Lia atas pencapaiannya sebagai Community Writer of the Month Juni 2026. Teruslah berkarya, teruslah menginspirasi, dan panjang umur kata-kata!

















