"Fashion itu buat aku mengandung arti kebebasan yang sangat luar biasa," ujar Igun.
Kata Ivan Gunawan soal Fashion: Gak Ada Istilah Style Jelek

Jakarta, IDN Times - Di tengah dunia fashion yang makin inklusif dan masif dengan tren mix and match, Fashion Designer sekaligus Public Figure Ivan Gunawan alias Igun punya pandangan menarik soal gimana seharusnya kita memaknai gaya berpakaian orang lain. Fashion take versinya ini disampaikan dalam sebuah exclusive interview bersama IDN Times pada Kami (16/7/2026) di Ivan Gunawan Boutique Kemang, Jakarta Selatan. Menurutnya, fashion bukan cuma soal tren atau penampilan semata, tapi juga soal kebebasan personal setiap individu yang seharusnya dihargai, bukan dihakimi.
Igun turut menyoroti fenomena netizen yang kerap memaksakan standar gayanya sendiri ke orang lain, sampai mudah melabeli suatu outfit sebagai 'jelek' atau 'norak'. Padahal, menurutnya, setiap pilihan busana pasti punya makna dan pemiliknya masing-masing. Penasaran gimana pandangan lengkap Igun soal isu ini?
1. Fashion merupakan bentuk kebebasan berekspresi

Menurut Igun, fashion punya makna yang jauh lebih dalam dari sekadar tren atau penampilan semata. Baginya, fashion adalah representasi dari kebebasan personal setiap individu buat mengekspresikan diri lewat gaya berpakaian masing-masing, tanpa perlu terikat sama aturan atau standar yang berlaku umum. Setiap orang, menurutnya, berhak menentukan sendiri gimana cara mereka ingin tampil dan merasa nyaman dengan pilihannya.
Igun memandang fashion bukan sebagai aturan baku yang harus diikuti semua orang. Melainkan merupakan medium personal yang seharusnya dinikmati sesuai keunikan masing-masing individu, jauh dari kesan seragam atau dipaksakan.
2. Tak perlu memaksakan ekspektasi gaya/style

Igun juga gak segan menyoroti fenomena netizen yang kerap berharap gaya berpakaian seseorang harus sesuai dengan standar atau ekspektasi mereka sendiri. Menurutnya, kebiasaan ini justru bertentangan dengan esensi fashion yang seharusnya bebas dan personal. Karena setiap orang punya preferensi dan kenyamanan yang berbeda-beda dalam berpenampilan.
"Netizen tuh suka berharap bahwa style orang itu jadi style-nya dia. Mereka berharap sesuai dengan ekspektasinya dia, sedangkan fashion enggak seperti itu," jelas Igun.
Pada akhirnya, standar fashion setiap orang memang berbeda-beda. Tak seharusnya kita memaksakan preferensi fashion kita dengan orang lain. Terlebih jika berakhir menjadi bahan penghakiman di ruang publik. Kembali lagi seperti yang Igun katakan, fashion adalah medium untuk berekspresi.
3. Gak ada istilah 'baju jelek'

Salah satu poin menarik dari pandangan Igun adalah penolakannya terhadap istilah 'baju jelek' atau 'baju norak' yang sering dilontarkan buat menilai gaya berpakaian seseorang. Menurutnya, penilaian semacam itu terlalu subjektif dan gak adil, karena setiap outfit pasti punya nilai serta cerita tersendiri buat pemiliknya, terlepas dari apa pun komentar orang lain soal itu.
"Gak ada baju yang jelek, baju yang gak bagus, atau baju norak. Atau kalau orang bahasanya kayak, 'Oh, bajunya dangdut banget,' sedangkan itu pasti ada pemiliknya," tegas Igun
Ia menutup pandangannya dengan pesan penting soal pentingnya menghargai personal style setiap orang yang memang berbeda-beda. Tanpa perlu menghakimi atau membanding-bandingkan selera fashion orang lain dengan standar pribadi masing-masing.






















