Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Kebiasaan Dumbledore yang Bisa Ditiru agar Lebih Mindful
Albus Dumbledore, dikenal sebagai karakter yang tenang dan bijak (harrypotter.com/Harry Potter and The Order of The Phoenix)
  • Artikel menyoroti lima kebiasaan Dumbledore yang membuatnya menjadi pribadi mindful, seperti refleksi diri, tidak asal bicara, dan kesadaran terhadap kesalahan diri.
  • Dumbledore digambarkan selalu tenang menghadapi masalah tanpa panik, memilih berpikir positif dan memperluas perspektif sebelum mengambil keputusan penting.
  • Sikap rendah hati dan kebaikan Dumbledore terhadap siapa pun menjadi dasar mindfulness yang bisa ditiru untuk membangun empati serta ketenangan dalam kehidupan sehari-hari.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Albus Dumbledore dikenal sebagai karakter yang tenang dan bijak. Di setiap permasalahan, Dumbledore akan menjadi sangat mindful terhadap permasalahan tersebut, tanpa langsung bereaksi atau menghakimi. Lalu ia akan muncul dengan masalah yang tiba-tiba terselesaikan. Banyak Potterhead yang menganggap sifat Dumbledore tersebut karena ia memiliki pengalaman hidup yang sudah lebih dari satu abad.

Memang usia tidak pernah berbohong untuk menunjukkan karakteristik seseorang. Tetapi, selain dibentuk oleh pengalaman, karakteristik Dumbledore juga dibentuk oleh kebiasaan. Dumbledore memiliki lima kebiasaan yang membuat dirinya menjadi mindful. Kebiasaan-kebiasaan tersebut bisa ditiru dalam kehidupan kalian sehari-hari. Siap untuk menjadi pribadi yang lebih mindful seperti Dumbledore? Yuk, simak apa saja kebiasaan Dumbledore yang bisa ditiru agar lebih mindful

1. Refleksi Diri

Dumbledore saat sedang melihat pikirannya dalam Pensieve (dok. Warner Bros/Harry Potter and The Goblet of Fire)

Sejak seri Harry Potter and the Goblet of Fire, Dumbledore sering terlihat mengeluarkan isi pikirannya untuk diamati melalui Pensieve. Kebiasaan ini memungkinkan Dumbledore untuk berefleksi diri, sehingga beliau dapat merenungkan dan mengintrospeksi kejadian yang ia lalui seharian. Dalam beberapa kasus, Dumbledore menggunakan metode ini untuk melihat detail kecil yang mungkin terlewat.

Kalian tidak perlu menggunakan Pensieve untuk refleksi diri. Cara yang paling mudah adalah menulis jurnal di malam hari sebelum tidur. Menuangkan semua jawaban dari “apa yang terjadi hari ini?”, “Bagaimana perasaanku?”, hingga “Apa yang bisa aku pelajari dari hari ini?”. Jika terlalu lelah menulis, bisa menggunakan rekaman suara, dan menjawab ketiga pertanyaan tersebut secara lisan.

2. Tidak asbun

Dumbledore yang tetap tenang ketika personel Kementerian Sihir datang untuk menahannya (dok. Warner Bros/ Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald)

Istilah asbun akhir-akhir ini sering digunakan untuk mendeskripsikan perilaku yang asal bicara tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Jika kalian sering mengamati perilaku Dumbledore, beliau tidak pernah asal bicara atau menjawab. Ia selalu melihat lawan bicara melalui kacamata bulan separonya terlebih dahulu. Dumbledore menjeda respons dan memilih diam beberapa saat, sambil memikirkan jawaban yang tepat.

Untuk mengurangi keasbunan, biasakan menarik napas terlebih dahulu sebelum merespons sesuatu. Pastikan jawaban yang terlintas di pikiran benar-benar pantas untuk disampaikan. Hitung sampai tiga sebelum menjawab pertanyaan yang sulit, atau respons dengan “sebentar, aku pikirkan dahulu jawabannya” untuk menghindari jawaban sok tahu. Jadi, kalau kalian ingin mindful seperti Dumbledore, kurang-kurangin deh asbunnya!

3. Sadar akan kesalahan diri sendiri

Dumbledore ketika mencoba untuk selalu tenang dan tidak panik setiap menghadapi masalah (dok. Warner Bros/ Harry Potter and The Goblet of Fire)

Meski dikenal sebagai penyihir terhebat sepanjang masa, tidak bisa dimungkiri bahwa Dumbledore memiliki beberapa kesalahan, terutama di masa mudanya dahulu. Ia juga masih sering melakukan kesalahan ketika berhadapan dengan Harry. Tetapi, alih-alih menyangkal kesalahannya, Dumbledore selalu sadar diri, dan mengakui kesalahannya. Ia tidak segan meminta maaf atas kesalahan yang ia perbuat.

Mengakui kesalahan memang tidak semudah itu, apalagi jika seseorang memiliki ego yang sangat tinggi. Tetapi jika tidak dilatih, kapan ego itu bisa turun? Langkah yang paling mudah adalah meminta maaf saat melakukan kesalahan. Satu permintaan maaf tidak akan mengurangi martabat, malah melatih diri untuk menjadi mindful karena ini adalah bentuk kesadaran terhadap kesalahan diri dan dampak yang dirasakan orang lain.

4. Tidak mudah panik

Dumbledore ketika ia menyadari Kamar Rahasia telah dibuka (dok. Warner Bros/ Harry Potter and The Chamber of Secrets)

Tidak terhitung sudah ada berapa masalah yang pernah dihadapi Dumbledore sepanjang hidupnya. Dan di setiap permasalahan itu, tidak satu kalipun Dumbledore terlihat panik atau bertindak gegabah. Dumbledore mencoba untuk selalu melihat sisi positif dari suatu masalah. Jika ia tidak melihat sisi positif dalam waktu dekat, maka ia akan mencoba memperluas perspektifnya, hingga menemukan solusi.

Tidak mudah panik akan membantu pikiran untuk lebih mindful. Jika kalian adalah pribadi yang mudah panik, cobalah untuk menarik napas dalam-dalam sebelum terlanjur overthinking terhadap suatu masalah. Coba tanyakan kepada diri sendiri, dalam jangka panjang masalah ini akan membuka jalan alternatif mana? Dan dari situ, petakan rencana dan keputusan yang akan kalian ambil.

5. Selalu baik terhadap orang lain

Dumbledore ketika menyambut Cedric Diggory sebagai juara Hogwarts (dok. Warner Bros/ Harry Potter and The Goblet of Fire)

Di saat gelar penyihir terhebat sepanjang masa tidak pernah menjadikan Dumbledore angkuh, di situlah letak standar mindful yang paling dasar. Setiap hendak berdiskusi, Dumbledore selalu menawarkan kepada lawan bicaranya permen lemon. Beliau juga selalu berusaha menghargai setiap orang yang ia temui, entah dari golongan buangan, atau makhluk sekelas Peri Rumah sekalipun.

Dan ini yang perlu kalian jadikan dasar jika ingin mindful seperti Dumbledore. Cobalah untuk menjadi baik dalam situasi apa pun. Tidak perlu membutuhkan alasan untuk menjadi baik atau memperlakukan orang dengan baik. Meskipun pada kenyataannya tidak semudah yang dituliskan, tidak ada salahnya mencoba. Pasti ada perbedaan yang bisa kalian rasakan setelah menerapkan nomor 5 ini.

Tidak perlu menunggu berpengalaman selama satu abad untuk menjadi mindful seperti Dumbledore. Memang semua yang dilakukan Dumbledore terdengar klise, terutama untuk psikologi modern. Tetapi justru hal-hal klise dan sederhana yang biasanya sulit dilakukan juga memiliki dampak yang besar. Jadi, sudah siap untuk menjadi pribadi yang lebih mindful seperti Dumbledore? Oleh sebab itu, tak ada salahnya mempraktikkan kebiasaan Dumbledore yang bisa ditiru agar lebih mindful seperti penjelasan di atas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team