Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

4 Kebiasaan Kerja yang Sering Dinormalisasi, Padahal Termasuk Fraud

4 Kebiasaan Kerja yang Sering Dinormalisasi, Padahal Termasuk Fraud
ilustrasi karyawan melakukan fraud (pexels.com/Mikhail Nilov)
Intinya Sih
  • Artikel menyoroti empat kebiasaan kerja yang sering dianggap wajar, padahal termasuk tindakan curang yang bisa merugikan perusahaan secara perlahan.
  • Contoh perilaku tersebut meliputi mengulur waktu demi lembur, memilih vendor karena imbalan pribadi, memanipulasi nota pengeluaran, dan memakai fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi.
  • Kebiasaan kecil yang dinormalisasi tanpa pengawasan dapat mengikis profesionalisme serta membuka peluang kecurangan lebih besar di lingkungan kerja.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Banyak kecurangan di dunia kerja tidak selalu dimulai dari niat besar untuk merugikan perusahaan, tetapi dari kebiasaan kecil yang terus dianggap lumrah. Tanpa disadari, tindakan manipulatif tertentu sering kali terlihat biasa karena terlalu sering dimaklumi dengan alasan “cuma sepele” atau “semua orang juga begitu”.

Pembiaran terhadap kebiasaan semacam ini perlahan bisa mengikis profesionalisme di lingkungan kerja. Supaya lebih peka melihat batas antara kebiasaan kerja dan tindakan curang, yuk kenali empat perilaku yang sering dianggap biasa, padahal sudah termasuk fraud.

1. Sengaja mengulur waktu kerja demi mengincar uang lemburan

Menunda pekerjaan untuk mengulur waktu
ilustrasi menunda pekerjaan untuk mengulur waktu (pexels.com/RDNE Stock project)

Lembur seharusnya dilakukan ketika beban pekerjaan memang sedang tinggi dan tidak bisa diselesaikan pada jam kerja normal. Namun, sebagian karyawan justru memanfaatkan celah ini dengan sengaja memperlambat ritme kerja sejak siang hari.

Contohnya, menunda tugas yang sebenarnya bisa cepat selesai, lalu baru dikerjakan saat jam kantor berakhir agar bisa mengajukan lemburan. Faktanya, sengaja mengulur waktu kerja demi mendapatkan tambahan uang lembur tetap termasuk tindakan manipulatif yang merugikan perusahaan.

2. Memilih vendor tertentu karena ada imbalan pribadi

Memilih vendor untuk keuntungan pribadi
ilustrasi memilih vendor untuk keuntungan pribadi (pexels.com/AlphaTradeZone)

Pemilihan vendor untuk kebutuhan kantor seharusnya dilakukan berdasarkan kualitas kerja dan standar perusahaan. Sayangnya, ada oknum karyawan yang lebih mengutamakan keuntungan pribadi dibanding kepentingan perusahaan saat menentukan pilihan vendor.

Biasanya, vendor tertentu akan terus dipertahankan meski kualitas kerjanya menurun atau harganya tidak masuk akal. Usulan vendor lain pun kerap ditolak dengan berbagai alasan. Keputusan yang dipengaruhi komisi pribadi seperti ini bukan hanya tidak profesional, tetapi juga bisa merugikan perusahaan dalam jangka panjang.

3. Manipulasi nota belanja dan pengeluaran kantor

Mengajukan reimbursement
ilustrasi mengajukan reimbursement (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ini salah satu bentuk kecurangan klasik yang sering dimaklumi dengan dalih “uang jalan”. Modusnya terlihat receh, mulai dari sengaja meminta bon kosong saat membeli perlengkapan kantor hingga menaikkan sedikit nominal pengeluaran untuk konsumsi meeting.

Karena selisihnya biasanya hanya belasan sampai puluh ribu rupiah, kebiasaan seperti ini sering lolos tanpa dipermasalahkan. Jika terus dibiarkan, akumulasinya bisa membebani anggaran perusahaan sedikit demi sedikit. Kebiasaan yang menganggap selisih kecil sebagai hal sepele inilah yang sering membuka celah kecurangan yang lebih besar.

4. Memanfaatkan aset dan fasilitas kantor untuk urusan pribadi

Karyawan melakukan fraud
ilustrasi karyawan melakukan fraud (magnific.com/yanalya)

Peralatan yang disediakan kantor untuk kebutuhan kerja kadang membuat sebagian karyawan kehilangan batas antara urusan kantor dan kepentingan pribadi. Akibatnya, aset perusahaan yang seharusnya dipakai untuk operasional justru digunakan untuk menekan pengeluaran pribadi atau bisnis sampingan.

Contohnya, memakai printer kantor untuk mencetak dokumen di luar pekerjaan, atau menggunakan akun software premium kantor untuk mengerjakan project pribadi. Karena merasa fasilitasnya sedang tidak dipakai, tindakan semacam ini sering dianggap bukan masalah. Padahal, penggunaan aset perusahaan demi kepentingan pribadi tetap termasuk penyalahgunaan fasilitas kerja.

Sekecil apa pun bentuknya, kebiasaan fraud yang terus dibiarkan bisa perlahan merugikan perusahaan. Sebab, banyak kecurangan di lingkungan kerja tumbuh karena terlalu sering dinormalisasi, ditambah kurangnya pengawasan yang membuatnya semakin sulit dikendalikan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nabila Inaya
EditorNabila Inaya

Related Articles

See More