5 Alasan Keluar dari Geng Merupakan Keputusan Dewasa

- Geng membatasi pergaulan dan membuatmu kurang independen
- Ketergantungan pada geng mengurangi kepercayaan diri
- Tidak ikut geng bukan berarti tak punya teman, kamu punya waktu untuk hal-hal lain yang lebih penting, emosi lebih tenang
Geng dan persahabatan agak berbeda. Semua anggota geng otomatis sahabatmu. Namun, dirimu bersahabat dengan satu atau beberapa orang tidak harus membentuk geng. Geng punya kesan yang cenderung negatif.
Ikatan antaranggotanya lebih erat daripada persahabatan biasa. Sering kali geng diberi nama, dideklarasikan, bahkan ada ketuanya. Geng memang lebih umum dalam pergaulan remaja yang masih mencari jati diri.
Namun, kesukaan bikin geng juga bisa masih berlanjut ke masa kuliah bahkan bekerja. Kalau dirimu selama ini menjadi anggota geng, pikirkan buat keluar. Terdapat lima alasan mengapa keluar dari geng merupakan keputusan dewasa. Waktumu menjadi pribadi yang dewasa sepenuhnya.
1. Geng terlalu membatasi pergaulan

Seperti disinggung dalam pembuka artikel. Geng punya ikatan yang lebih ketat daripada persahabatan biasa. Ketika kamu tergabung dalam sebuah geng, disadari atau tidak duniamu seakan-akan hanya berisi teman-teman satu geng.
Dirimu melakukan apa pun bersama mereka. Makan siang di kantin pasti semeja dengan kawan-kawan segeng. Bahkan bila kursinya kurang, kamu gak mau gabung ke meja lain. Sekalipun di meja lain juga ada teman-temanmu.
Hanya saja, mereka bukan anggota gengmu. Demikian pula masuknya satu orang saja ke sekitar gengmu akan terasa sangat aneh. Semua anggota geng bakal bersikap lebih berhati-hati padanya. Kamu gak boleh selamanya begini. Untukmu dapat mengembangkan diri serta kehidupan, kamu butuh pertemanan yang lebih luas.
2. Ketergantungan pada geng membuatmu kurang independen dan percaya diri

Sekalipun secara umur kamu sudah dewasa, tergabung dalam geng justru membuatmu tampak kurang matang secara psikis. Kedekatan kalian yang berlebihan bikin dirimu merasa gak bisa melakukan banyak hal tanpa mereka. Jika mereka tidak melakukan sesuatu, maka dirimu juga memilih gak melakukannya.
Walaupun kamu sebenarnya amat menginginkannya. Keputusan yang semestinya cukup diambil secara pribadi malah seolah-olah tergantung dari kata teman satu geng. Begitu pula kepercayaan dirimu tidak stabil.
Kamu bisa sangat pede bila sedang bersama gengmu. Namun, begitu dirimu sendirian kepercayaan diri pun menguap. Kamu harus menjadi pribadi dewasa yang utuh dengan melepaskan diri dari keanggotaan geng.
3. Tidak ikut geng bukan berarti tak punya teman

Ketakutan gak punya teman paling sering bikin orang tak mau keluar dari geng. Bahkan sekalipun gengnya amat toksik. Malah makin orang-orangnya beracun, makin ia merasa tidak punya tempat lain yang lebih baik.
Kekhawatiran seperti di atas gak beralasan. Dunia ini luas. Orangnya luar biasa banyak. Dari orang sebanyak itu mustahil tidak ada yang mau berteman denganmu. Dengan syarat kamu bukan orang jahat yang membahayakan mereka.
Coba saja sekali waktu kamu pergi sendiri tanpa teman-teman satu geng. Lalu bicaralah dengan kawan yang selama ini terasa asing karena bukan anggota geng. Responsnya pasti baik-baik saja.
Begitu pula kebanyakan orang asing tetap ramah padamu. Tanpa geng, kamu bakal tetap punya kawan. Malah temanmu lebih banyak dan beragam. Cuma kedekatan kalian lebih terkontrol sehingga gak berlebihan dan rentan menjadi tidak sehat.
4. Kamu punya waktu buat hal-hal lain yang lebih penting

Berapa banyak waktu yang dihabiskan olehmu bersama teman-teman satu geng? Biasanya geng dirawat dengan cara sesering mungkin berkumpul. Pokoknya ada waktu luang sedikit saja, pertemuan dengan anggota geng menjadi prioritas.
Malah keluarga dinomorduakan. Jika budaya dalam geng amat negatif, kamu dapat sampai mengorbankan aktivitas kuliah atau kerja demi keperluan bersama geng. Seakan-akan hidup dan matimu bersama mereka.
Faktanya, tugas besarmu membangun kehidupan tidak bisa dilakukan melalui acara kumpul-kumpul bareng geng. Setiap dari kalian semestinya telah punya tujuan hidup masing-masing yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh. Lepas dari geng bakal memberimu lebih banyak waktu serta energi untuk hal-hal lain yang lebih utama.
5. Emosi lebih tenang, tak lagi gampang terpicu dinamika dalam geng

Tentu ada potensi masalah dalam interaksimu dengan siapa pun. Namun, kedekatan yang luar biasa dengan anggota geng bikin emosimu lebih labil. Sebagai contoh, salah satu teman satu geng merasa diejek oleh seseorang saja, emosimu dan anggota geng lain ikut tersulut.
Padahal, anggota geng cukup banyak. Setiapnya punya persoalan masing-masing. Akan tetapi, apa pun masalahnya ikut berdampak pada psikismu. Ini dapat menyebabkan kelelahan mental yang luar biasa.
Dampak nyatanya dirimu kesulitan berkonsentrasi pada hal-hal lain. Pikiran terasa penuh. Perasaanmu juga mengikuti emosi kawan-kawan satu geng. Bila dirimu out dari geng, hidup bakal lebih tenang.
Gak punya geng tak menentukan seberapa populer dirimu. Apalagi kamu sudah dewasa. Ingat, keluar dari geng merupakan keputusan dewasa karena inilah saatnya kamu membangun networking profesional untuk masa depan. Juga menjaga keseimbangan hubungan pertemanan dengan keluarga.


















