Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

4 Perilaku yang Disalahartikan sebagai NPD, Jangan Menghakimi

ilustrasi perempuan yang sedang berkaca
ilustrasi perempuan yang sedang berkaca (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Intinya sih...
  • Percaya diri dan suka menonjolkan prestasi adalah bagian dari self esteem yang sehat
  • Terlihat dingin atau kurang empati tidak selalu menandakan NPD, bisa disebabkan oleh kelelahan emosional atau tekanan hidup
  • Suka mengatur dan ingin segalanya rapi tidak selalu bertujuan mendominasi orang lain, bisa berasal dari kebutuhan akan keteraturan
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Istilah Narcissistic Personality Disorder atau NPD semakin sering digunakan dalam percakapan sehari hari. Banyak perilaku langsung diberi label narsistik tanpa memahami arti dan konteks psikologis di baliknya. Padahal, NPD adalah gangguan kepribadian yang memiliki kriteria diagnosis ketat dan tidak bisa disimpulkan dari satu atau dua perilaku saja.

Kesalahan penilaian ini dapat berdampak serius. Seseorang bisa dicap negatif dan hubungan menjadi renggang hanya karena penilaian yang tidak berdasar. Memahami perilaku yang sering keliru dianggap sebagai NPD membantu kita untuk tidak asal menghakimi orang lain. Cari tahu apa saja perilaku yang disalahartikan sebagai NPD berdasarkan penjelasan di bawah ini.

1. Percaya diri dan suka menonjolkan prestasi

ilustrasi rekan kerja
ilustrasi rekan kerja (pexels.com/Edmond Dantès)

Orang yang sering berbicara tentang pencapaiannya kerap dicap narsistik. Padahal rasa bangga terhadap hasil kerja sendiri adalah bagian normal dari self esteem yang sehat dan dibutuhkan. Dalam konteks tertentu, membagikan pencapaian juga bisa menjadi bentuk ekspresi syukur, refleksi diri, atau motivasi bagi orang lain di lingkungan sekitarnya, terutama dalam konteks profesional dan sosial.

Perilaku ini baru menjadi masalah jika disertai kebutuhan berlebihan untuk dipuji dan merendahkan orang lain secara berlebihan. Tanpa pola tersebut, rasa percaya diri tidak otomatis berarti NPD. Banyak individu justru diajarkan untuk mengapresiasi diri agar tidak terjebak rasa rendah diri dan insecure.

2. Terlihat dingin atau kurang empati

ilustrasi pria yang bekerja sendirian
ilustrasi pria yang bekerja sendirian (pexels.com/Yan Krukau)

Sikap yang terkesan cuek sering dihubungkan dengan kurangnya empati. Padahal ekspresi emosi setiap orang berbeda, dan tidak semua orang pandai menunjukkan kepedulian secara verbal atau emosional. Ada individu yang lebih memilih membantu secara praktis daripada lewat kata kata dalam situasi tertentu.

Selain itu, kelelahan emosional dan tekanan hidup juga bisa membuat seseorang tampak dingin sementara waktu, terutama saat sedang kewalahan. Dalam dunia psikologi, empati tidak selalu tampak dari respons yang dramatis atau penuh ekspresi. Menyamakan sikap pendiam dengan NPD adalah kesimpulan yang terlalu jauh dan tidak proporsional.

3. Suka mengatur dan Ingin segalanya rapi

ilustrasi seorang atasan
ilustrasi seorang atasan (pexels.com/Karola G)

Orang yang perfeksionis dan senang mengatur sering dianggap ingin mengontrol orang lain. Padahal kecenderungan ini kerap muncul dari kebutuhan akan keteraturan dan rasa aman dalam menghadapi situasi yang tidak pasti. Dalam banyak kasus, sifat ini terbentuk dari pola asuh, pengalaman masa lalu, atau tuntutan lingkungan kerja yang menekan.

Berbeda dengan NPD, keinginan mengatur tidak selalu bertujuan mendominasi atau mencari kekuasaan atas orang lain. Selama masih bisa berkompromi dan menghargai batas orang lain, perilaku ini lebih tepat dilihat sebagai gaya kepribadian. Menyederhanakan semua sikap dominan sebagai gangguan mental jelas tidak akurat.

4. Fokus pada diri sendiri

ilustrasi pria yang sedang sendiri
ilustrasi pria yang sedang sendiri (pexels.com/cottonbro studio)

Orang yang lebih menikmati waktu sendiri sering dicap egois atau terlalu memikirkan diri sendiri. Padahal banyak individu dengan kecenderungan introvert justru membutuhkan ruang pribadi untuk mengisi ulang energi setelah berinteraksi sosial. Fokus pada diri sendiri dalam konteks ini bukan berarti mengabaikan orang lain, melainkan cara menjaga keseimbangan emosi dan kesehatan mental.

Menjaga jarak sosial juga bisa menjadi bentuk self care yang sehat, terutama saat kondisi emosional sedang tidak stabil. NPD ditandai dengan kebutuhan akan validasi terus menerus dan rasa superior, bukan sekadar keinginan menyendiri. Salah memahami hal ini dapat membuat perilaku normal terasa seperti masalah psikologis.

Gangguan kepribadian tidak bisa dinilai hanya dari satu atau dua perilaku yang tampak di permukaan. Dengan tidak asal memberi label dan mengetahui apa saja perilaku yang disalahartikan sebagai NPD, kita dapat menjaga hubungan baik dengan orang lain. Kesadaran ini penting agar kita lebih sadar akan isu kesehatan mental.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Debby Utomo
EditorDebby Utomo
Follow Us

Latest in Life

See More

Khotbah Jumat 30 Januari 2026, Menyambut Malam Nisfu Syakban!

29 Jan 2026, 23:30 WIBLife