Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Late-Diagnosed Autism: Kenapa Banyak yang Sadar Autistik Setelah Dewasa

Late-Diagnosed Autism: Kenapa Banyak yang Sadar Autistik Setelah Dewasa
ilustrasi late-diagnosed autism (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya Sih
  • Fenomena late-diagnosed autism makin disadari karena banyak orang dewasa baru memahami perbedaan perilaku dan kelelahan sosial yang mereka alami sejak lama.
  • Perkembangan riset medis membantu memperluas pemahaman tentang spektrum autisme, terutama pada orang dewasa dan perempuan yang dulu sering terlewat diagnosisnya.
  • Akses informasi lewat media sosial dan konsultasi profesional mempermudah individu mengenali kondisi diri, menemukan komunitas suportif, serta menjaga kesehatan mental dengan lebih tepat.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kamu sering merasa "berbeda" atau cepat lelah secara mental setelah berinteraksi dengan orang lain padahal sudah berusaha keras buat membaur? Mungkin kamu sering merasa kebingungan kenapa hal-hal sepele bagi orang lain terasa sangat berat buat kamu jalani setiap harinya. Fenomena late-diagnosed autism kini semakin sering dibicarakan karena banyak orang mulai menemukan jawaban atas kegelisahan yang mereka simpan belasan tahun.

Kalau kamu terus-terusan mengabaikan tanda-tanda ini dan memaksakan diri tampil "normal", kesehatan mentalmu bisa terancam karena merasa gagal memenuhi ekspektasi sosial, lho. Memahami kondisi diri sendiri bukan berarti kamu sedang mencari label atau alasan, tapi ini adalah cara agar kamu bisa hidup lebih tenang dan menerima keunikan dirimu sendiri. 


1. Pahami fenomena masking yang melelahkan

ilustrasi masking
ilustrasi masking (unsplash.com/Sydney Latham)

Selama ini mungkin kamu gak sadar kalau kamu sering banget meniru perilaku orang lain secara otomatis supaya terlihat "nyambung" di tongkrongan. Teknik ini disebut dengan masking, di mana seseorang memendam sifat aslinya demi bisa diterima oleh lingkungan sosial atau rekan kerja. Sayangnya, melakukan ini secara terus-menerus bakal bikin baterai sosialmu cepat habis dan bikin kamu merasa asing dengan diri sendiri, lho.

Cobalah mulai kurangi beban ekspektasi itu dan pelajari situasi apa saja yang sebenarnya membuatmu merasa paling nyaman dan aman. Dengan berhenti melakukan masking secara berlebihan, kamu bakal punya lebih banyak energi untuk fokus pada hobi atau hal-hal yang benar-benar kamu sukai. Manfaatnya, kamu gak akan lagi merasa kecapekan setiap kali pulang dari acara sosial karena sudah berani menjadi diri sendiri.

2. Sadari kalau riset medis makin berkembang

ilustrasi riset medis
ilustrasi riset medis (pexels.com/Tara Winstead)

Dulu banyak orang berpikir kalau autisme itu cuma dialami oleh anak-anak yang gak bisa diam atau mengalami keterlambatan bicara saja. Stereotip lama yang kaku ini bikin diagnosa buat orang dewasa, terutama perempuan, jadi terhambat karena gejalanya dianggap bukan bagian dari autisme. Padahal, spektrum autisme itu luas dan gak selalu terlihat secara fisik dari luar.

Sekarang ilmu pengetahuan sudah jauh lebih inklusif dan mulai mengakui spektrum yang lebih luas pada orang dewasa yang berfungsi tinggi (high-functioning). Mempelajari literatur terbaru bakal bantu kamu melihat kondisi ini dari perspektif yang lebih adil dan akurat secara medis. Hasilnya, kamu gak akan lagi menyalahkan diri sendiri sebagai orang yang "aneh" atau "malas" bersosialisasi.

3. Perhatikan akses informasi di media sosial

ilustrasi scrolling media sosial (pexels.com/Kerde Severin)
ilustrasi scrolling media sosial (pexels.com/Kerde Severin)

Dulu kamu mungkin bingung mau tanya ke siapa kalau merasa ada yang sedikit beda dengan cara kerja otak dalam memproses informasi. Tanpa informasi yang benar, kamu mungkin cuma dianggap sebagai orang yang sombong atau kuper oleh orang-orang di sekitarmu. Hal ini sering bikin kamu merasa sendirian dalam menghadapi kebingungan yang gak berujung.

Untungnya, kehadiran konten edukasi dari para ahli dan komunitas penyintas di media sosial bikin akses pengetahuan jadi lebih gampang buat siapa saja, ya. Manfaatkan informasi ini sebagai referensi awal, tapi jangan lupa untuk tetap melakukan validasi ke profesional supaya kamu gak terjebak dalam tebak-tebakan. Dengan informasi yang tepat, kamu bisa menemukan komunitas yang suportif dan gak merasa berjuang sendirian lagi.


4. Cek kembali riwayat masa kecil kamu

ilustrasi inner child
ilustrasi inner child (pexels.com/David Fagundes)

Banyak yang waktu kecilnya mungkin dianggap sebagai "anak rajin yang pendiam" padahal sebenarnya sedang berjuang menghadapi rangsangan sensorik yang berlebihan. Kamu mungkin sering merasa terganggu dengan suara bising, cahaya terang, atau label baju yang gatal tapi gak tahu cara mengungkapkannya. Gejala-gejala halus seperti ini kerap terlewatkan oleh orang tua atau guru pada zaman dulu.

Nah, menghubungkan titik-titik masa lalu dengan pengetahuan yang kamu punya sekarang mungkin bakal kasih jawaban yang selama ini hilang. Memahami masa kecil membantumu memaafkan diri sendiri atas segala kesulitan dan rasa cemas yang pernah kamu lalui dulu tanpa bantuan. Manfaatnya, kamu bisa mulai menyembuhkan "inner child" yang selama ini merasa tak dimengerti oleh lingkungannya.

5. Konsultasi dengan psikolog atau psikiater ahli

ilustrasi berbicara dengan psikolog (pexels.com/cottonbro studio)
ilustrasi berbicara dengan psikolog (pexels.com/cottonbro studio)

Melakukan self-diagnose memang terlihat gampang, tapi sering kali hal ini malah bikin kamu makin cemas dan bingung untuk mengambil langkah selanjutnya. Kamu butuh bantuan dari tenaga ahli untuk membedakan apakah kondisi yang kamu alami benar-benar autisme atau kondisi kesehatan mental lainnya yang mirip. Tanpa bantuan profesional, penanganan yang kamu lakukan mungkin gak akan efektif dan malah bikin stres, lho.

Datang ke profesional adalah bentuk mencintai diri sendiri yang paling nyata untuk memastikan kesehatan mentalmu tetap terjaga dengan baik. Diagnosa resmi dari ahlinya bakal kasih kamu akses ke strategi dukungan yang tepat supaya hidup dan kariermu jadi lebih terarah. Kamu bakal merasa lebih lega karena akhirnya punya "peta" yang jelas untuk menavigasi kehidupan sehari-hari.

Memahami fenomena late-diagnosed autism adalah langkah awal untuk hidup lebih autentik tanpa bayang-bayang kebingungan. Diagnosa ini bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari perjalananmu untuk lebih menyayangi dan menerima cara kerja otakmu yang spesial, ya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Siantita Novaya
EditorSiantita Novaya
Follow Us