Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kenapa Ingin Pintar Saja Terasa Sulit? Ada yang Harus Dikorbankan

Kenapa Ingin Pintar Saja Terasa Sulit? Ada yang Harus Dikorbankan
ilustrasi belajar (pexels.com/Saeed Chembea)
Share Article

"Hari gini menjadi orang berilmu masih penting gak, sih?"

Mungkin kamu juga kerap mendengar kalimat-kalimat yang seperti menggiring opini bahwa pandai bukan lagi hal utama di zaman sekarang. Misalnya, sarjana saja banyak yang menganggur.

"Mending sekolah gak usah tinggi-tinggi, terpenting bisa mencari uang."

Juga kalimat bahwa orang pintar kalah dari orang mujur atau yang punya kenalan orang dalam. Abaikan suara-suara seperti di atas.

Berilmu meninggikan derajat manusia. Meski jalan untuk menjadi pandai penuh liku, tetaplah berusaha menguasai ilmu sebanyak dan sedalam mungkin. Memang terdapat berbagai ujian yang dapat menghambat semangat mencerdaskan diri. Butuh usaha penuh kesungguhan supaya siapa pun bisa pintar.

1. Harus belajar dengan sangat tekun

belajar di kelas
ilustrasi belajar di kelas (pexels.com/Muhaimin Abdul Aziz)

Kalau belajar hanya sekadar buat menyiapkan ujian, pintarnya cuma sesaat. Mungkin nilai-nilai yang diperoleh memang bagus. Akan tetapi, segera setelah ujian selesai apa-apa yang dipelajari seperti menguap dari kepala.

Kalaupun ada materi-materi yang masih dapat diingat dengan jelas, ia tidak mencapai kedalaman ilmunya. Sifat pengetahuannya cuma hafalan dan bukan pemahaman. Ini membuat kepandaian yang diukur dengan nilai kadang tak tecermin dalam perkataan serta perbuatan sehari-hari.

Agar orang konsisten pintar baik di atas kertas maupun dalam keseharian, ketekunan dalam belajar amat diperlukan. Kamu kudu betah belajar walau tidak ada ujian dalam waktu dekat. Bahkan setelah masa sekolah serta kuliah selesai, kebiasaaan belajar tidak boleh berakhir. Meski itu mengurangi waktu mainmu, misalnya.

2. Fasilitas belajar kurang memadai

siswa sekolah
ilustrasi siswa sekolah (pexels.com/Agung Pandit Wiguna)

Agar pandai maka harus rajin belajar. Namun, belajar sendiri membutuhkan berbagai fasilitas. Seperti buku, alat peraga, guru yang tepat, laboratorium, dan sebagainya. Saat ada fasilitas yang tak tersedia, perjalanan untuk menguasai ilmu menjadi makin berat.

Sayangnya, tidak semua orang beruntung berada di lingkungan yang menyediakan fasilitas pendidikan terbaik. Banyak anak yang keluarganya masih bergulat dengan urusan perut. Mereka bersekolah, tetapi tidak memperoleh fasilitas belajar yang memadai.

Orangtua tidak dapat membelikan buku-buku pelajaran apalagi gawai khusus buat anak belajar. Bahkan koleksi buku di perpustakaan sekolah sangat terbatas. Penyediaan fasilitas belajar ialah investasi masa depan yang tak pernah bikin rugi. Jika kualitas SDM meningkat, segala aspek kehidupan ikut membaik.

3. Baru baca buku sudah disebut kutu buku dengan nada mengejek

membaca
ilustrasi membaca (pexels.com/Sanket Mishra)

Kutu buku memang artinya orang yang sangat suka membaca buku. Sayangnya, sebutan ini kerap dilontarkan dengan nada yang mengejek. Seakan-akan seorang kutu buku tidak gaul dan kepandaiannya cuma berasal dari bacaan. Bukan praktik langsung sehingga kurang berguna.

Tidak semua orang tahan dengan olok-olok seperti di atas. Ada orang yang kemudian mengurangi kegiatan belajarnya demi gak lagi disebut kutu buku dan dinilai kuper. Atau, seseorang tetap rajin membaca, tetapi tak lagi dengan konsentrasi penuh seperti sebelum diejek kutu buku.

Hidup di tengah masyarakat yang masih memandang aneh aktivitas belajar khususnya membaca memang cukup merepotkan. Padahal, seharusnya ini menjadi kegiatan wajib segala usia. Di masyarakat kita, ngobrol ke sana kemari masih sering dianggap lebih penting dan wajar ketimbang duduk diam untuk membaca berjam-jam.

4. Orang pandai kalah dari segala yang viral dan pengikutnya banyak

suasana kelas
ilustrasi suasana kelas (pexels.com/Airlangga Jati)

Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Akan tetapi, masih belum banyak orang pandai yang mendapatkan sorotan. Apalagi di era media sosial seperti sekarang. Banyak orang pintar tidak suka main medsos.

Sementara media sosial dipenuhi oleh hal-hal yang viral. Sayangnya, sesuatu yang viral belum tentu baik atau berbobot. Tak jarang malah isinya negatif apalagi efeknya. Seperti konten-konten yang mengarah ke aksi cabul pasangan kekasih atau terlalu mempertontonkan bagian tubuh tertentu.

Orang-orang berilmu menjadi kurang mendapatkan apresiasi atas usaha dan prestasi mereka. Sampai-sampai ada anggapan viral dan punya banyak pengikut di media sosial lebih penting karena bisa mendatangkan popularitas serta uang dalam waktu singkat. Sementara kepandaian belum tentu.

5. Harus bisa merasa bodoh dulu

anak belajar di rumah
ilustrasi anak belajar di rumah (pexels.com/Andry Sasongko)

Bukan pintar dulu baru mengimbanginya dengan sifat rendah hati. Namun, rendah hati dulu supaya bisa menuntut ilmu setinggi mungkin. Agar orang mau sabar belajar, ia harus terlebih dahulu menyadari bahwa dirinya masih miskin ilmu.

Andai belum apa-apa dia telah merasa tahu segalanya justru gak tertarik lagi buat belajar. Bahkan perkataan orang-orang yang berilmu pun ditolaknya mentah-mentah. Dia tidak benar-benar tahu, melainkan cuma sok tahu.

Untuk seseorang dapat mengakui kurangnya ilmu dalam dirinya, rasa gengsi di hadapan orang lain mesti terlebih dulu dikikis. Bahkan bila orang lain mengira dirinya bodoh, dia gak boleh baper. Tugasnya cukup fokus belajar untuk terus meningkatkan kepandaiannya. Sampai dengan sendirinya ilmu-ilmu yang telah dikuasai itu berhasil diimplementasikan dan hasilnya terlihat serta bermanfaat.

Mencari ilmu adalah perjalanan panjang. Tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa, melainkan harus bertahap. Baik semangat dari dalam diri maupun dukungan lingkungan sangat penting untuk menentukan hasil dan ketahanan dalam belajar.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More