Menurut psikolog media, Cynthia Vinney, PhD, dalam Verywell Mind, “Otak kita tidak pernah berevolusi untuk membedakan antara orang yang kita lihat dan dengar melalui media dengan orang yang kita lihat dan dengar secara langsung di kehidupan nyata. Karena itu, kita memproses dan merespons pertemuan tersebut dengan cara yang serupa, sehingga memunculkan fenomena parasosial dalam berbagai bentuknya”.
Kenapa Kita Merasa Dekat dengan Idol yang Gak Kenal Kita?

- Fenomena parasosial muncul saat paparan berulang terhadap wajah, suara, dan cerita idol membuat otak membangun rasa familier, meski hubungan itu sebenarnya satu arah.
- Konten personal di media sosial, seperti rutinitas dan cerita pribadi, menciptakan ilusi kedekatan karena penggemar menerima potongan kehidupan yang dipilih untuk dibagikan.
- Fandom memperkuat kedekatan lewat komunitas, istilah, dan perayaan bersama; penggemar tetap perlu membedakan rasa dekat dengan hubungan personal nyata.
Pernah gak kamu merasa tahu banget tentang kehidupan idol atau influencer favoritmu? Kamu hafal kebiasaannya, tahu makanan kesukaannya, sampai ikut senang ketika dia mendapat pencapaian baru. Padahal, dia bahkan mungkin gak tahu kalau kamu ada.
Perasaan ini bisa muncul ketika kita terlalu sering melihat konten seseorang lewat media sosial, video, wawancara, atau siaran langsung. Fenomena tersebut dikenal sebagai parasocial relationship, yaitu hubungan satu arah antara penggemar dan public figure.
Hal ini makin sering terjadi di era media sosial karena akses terhadap kehidupan idol terasa semakin dekat. Kita bisa melihat rutinitas, cerita pribadi, sampai sisi mereka yang terlihat lebih santai hanya lewat layar. Lalu, kenapa otak kita bisa menganggap hubungan satu arah ini terasa seperti pertemanan sungguhan? Apa yang sebenarnya terjadi ketika kita mulai merasa “kenal” dengan seseorang yang belum pernah kita temui?
1. Otak kita terbiasa menganggap wajah dan suara sebagai sosok nyata

Ilustrasi fans meeting celebrities (unsplash.com/gettyimages) Ketika sering melihat seseorang berbicara di depan kamera, otak kita menerima wajah, suara, ekspresi, dan ceritanya berulang kali. Lama-kelamaan, sosok tersebut terasa familier, seperti orang yang sering kita temui sehari-hari. Karena interaksinya terjadi berulang, kita juga bisa mulai merasa seolah-olah sedang mengikuti perkembangan hidup seorang teman.
Jadi, rasa familier itu bukan berarti kamu benar-benar punya hubungan personal dengan idol tersebut. Otak hanya merespons paparan yang terus-menerus dengan cara yang mirip seperti ketika mengenal seseorang secara langsung.
2. Konten personal bikin idol terasa makin “kenal” dengan kita

ilustrasi influencer membuat konten (pexels.com/Ivan samkov) Media sosial membuat public figure gak cuma muncul saat manggung atau tampil di televisi saja. Mereka juga membagikan vlog, foto makanan, cerita keseharian, hingga curhat tentang pengalaman pribadi mereka. Informasi kecil seperti ini bisa membuat penggemar merasa mengetahui sisi lain dari idol yang gak terlihat di panggung.
Psikolog Alli Spotts-De Lazzer, LMFT, menjelaskan “Akses media sosial terhadap kehidupan pribadi para selebritas, seperti foto di rumah, cuplikan rutinitas mereka, momen di balik layar pemotretan, hingga unggahan tentang hewan peliharaan kesayangan, kemungkinan semakin memperkuat perasaan akrab dan kedekatan layaknya pertemanan,” demikian dilansir Psychology Today.
Padahal, informasi yang kita terima tetap berasal dari apa yang mereka pilih untuk dibagikan. Namun karena kita terus mendapatkan potongan cerita tersebut, muncul ilusi seolah-olah kita ikut hadir dalam kehidupan mereka. Dari sinilah rasa “aku tahu dia banget” bisa muncul.
3. Fandom juga membuat perasaan dekat itu makin kuat

ilustrasi fandom Kpop (pexels.com/Wendy Wei) Ketika bergabung dengan fandom, kita bisa menemukan banyak orang lain yang menyukai sosok atau public figure yang sama dengan kita. Dalam fandom, ada istilah khusus, yakni inside jokes hingga momen yang dirayakan bersama idol. Akhirnya, hubungan dengan idol juga terasa seperti bagian dari kehidupan sosial kita.
Psikolog Pamela B. Rutledge, PhD, dalam Psychology Today, menuliskan, “Orang ingin merasa menjadi bagian dari sebuah komunitas, dan fandom menawarkan hal tersebut”.
Itulah kenapa kabar baik tentang idol bisa terasa seperti kabar baik dari seseorang yang kita kenal. Selama tidak membuat kita mengabaikan kehidupan nyata, perasaan tersebut sebenarnya masih wajar. Menjadi penggemar boleh saja asal tetap tahu batas antara merasa dekat dan benar-benar memiliki hubungan yang personal.
Merasa dekat dengan idol yang gak mengenal kita bukan berarti kamu aneh atau terlalu halu. Otak manusia memang mudah membangun rasa familier dari interaksi yang berulang. Media sosial kemudian membuat proses itu terasa semakin nyata karena kita bisa melihat kehidupan public figure hampir setiap hari. Yang penting, tetap nikmati fandom tanpa lupa bahwa kehidupan nyata juga punya orang-orang yang bisa benar-benar mengenal dan hadir buat kamu.
![[QUIZ] Teman yang Bakalan Cocok denganmu dari Duo Teman Upin & Ipin](https://image.idntimes.com/post/20260904/mail3_76dc5ec4-ba9e-455f-aa60-a9d5ac28c9d0.jpg)

![[QUIZ] Seberapa Yakin Kamu Bisa Jadi Teman yang Diandalkan?](https://image.idntimes.com/post/20260830/21981_530f9cb7-b5a1-4b26-b9eb-83fd195d4218.jpg)


















![[QUIZ] Kami Tebak Gimana Mood Kamu dari Potret Rumahmu](https://image.idntimes.com/post/20260901/clay-banks-grxzodeukvg-unsplash_794dbd54-96aa-4a30-b015-b3325a3a6256.jpg)