“Menjadi tidak mahir dalam sesuatu membebaskan kita dari tekanan ekspektasi,” tulis Lindsey Godwin, Ph.D., profesor dan praktisi, dalam Psychology Today.
Kenapa Low-Stakes Hobbies Mulai Menarik bagi Anak Muda?

Di tengah situasi yang mendorong anak muda untuk terus berkembang, waktu luang pun kadang terasa seperti harus menghasilkan sesuatu. Belajar sesuatu harus bisa menambah skill, olahraga harus punya target yang perlu dicapai, sementara hobi baru terasa “berguna” kalau bisa dikembangkan jadi pekerjaan sampingan. Gak heran kalau aktivitas yang dilakukan hanya untuk bersenang-senang mulai terasa seperti menuntut.
Low-stakes hobbies justru berlawanan dengan tuntutan tersebut. Dari mulai merajut, menyulam, mewarnai, membuat scrapbook, sampai bermain puzzle, aktivitas ini gak harus menghasilkan uang, gak menuntut seseorang untuk langsung jago, dan gak perlu berujung pada pencapaian tertentu. Di tengah rutinitas yang serba cepat dan digital seperti sekarang ini, apa yang membuat hobi-hobi sederhana seperti itu menarik bagi anak muda?
1. Tidak harus menjadi side hustle

ilustrasi hobi melukis (pexels.com/Maahid Photos) Saat ini, banyak bisnis-bisnis berkembang yang berawal dari sebuah hobi. Ada perbedaan ketika hobi berubah menjadi bisnis atau pekerjaan sampingan. Begitu sesuatu mulai menghasilkan uang, ada tanggung jawab, seperti pelanggan yang harus dilayani, standar yang harus dipenuhi, dan jadwal yang perlu dipatuhi. Hobi yang tadinya bisa dilakukan kapan saja akhirnya jadi harus dikerjakan setiap waktu.
Karena itu, low-stakes hobbies terasa menarik bagi anak muda karena gak punya tuntutan sebesar itu. Membuat gelang manik-manik bisa selesai sebagai satu gelang untuk dipakai sendiri, begitu pula dengan belajar merajut yang cukup berhenti di satu syal. Ada rasa puas tersendiri ketika sebuah hobi gak perlu dibawa ke mana-mana selain menjadi bagian kecil dari waktu luang.
2. Tidak dituntut untuk jago dalam hobi tersebut

ilustrasi santai (pexels.com/cottonbro) Saat melihat media sosial, kita terbiasa melihat hasil akhir yang sudah sempurna sampai kadang lupa bahwa orang yang jago juga pernah jadi pemula. Melalui low-stakes hobbies kita mencoba sesuatu, gagal, lalu mencoba lagi tanpa harus merasa kemampuan kita sedang diuji. Hasil rajutan yang bolong atau lukisan yang gak sesuai bayangan bukan masalah besar karena gak ada nilai yang harus dikejar.
Di sinilah menjadi pemula justru bisa terasa menyenangkan. Kamu gak perlu punya teknik yang sempurna, cukup penasaran dan mau mencoba. Jadi, hobi bisa menjadi salah satu ruang dimana kita gak perlu terus-terusan membuktikan bahwa kita cukup baik.
3. Hobi repetitif memberikan jeda bagi otak yang sering berpindah fokus

ilustrasi menyulam (pexels.com/Joice Rivas) Hobi seperti merajut, menyulam, mewarnai, atau menyusun puzzle punya ritme yang jauh lebih lambat daripada kegiatan lain. Ada pola yang harus diikuti dan gerakan yang dilakukan berulang, sehingga perhatian kita tertahan pada apa yang sedang dikerjakan.
Stephen Rush, profesor psikiatri klinis di University of Cincinnati College of Medicine menjelaskan, “hobi yang dilakukan dengan tangan melibatkan otak dengan cara yang berbeda dibandingkan kebiasaan scrolling tanpa henti di media sosial yang dipenuhi konten penuh tekanan atau negatif,” dalam artikel University of Cincinnati.
Jadi ketika melakukan hobi tersebut, gak ada video berikutnya yang harus ditonton atau notifikasi yang perlu dibuka, hanya ada satu aktivitas yang berjalan. Setelah terpapar dengan banyak hal di media sosial, melakukan sesuatu secara perlahan dan berulang justru bisa terasa seperti istirahat kecil bagi otak dari ramainya hari.
Buat anak muda yang sehari-harinya sudah akrab dengan target, deadline, dan tuntutan untuk terus berkembang, punya hobi yang gak ke mana-mana justru bisa terasa menyenangkan sekaligus menenangkan. Hal tersebut yang membuat low-stakes hobbies menjadi semakin menarik untuk anak muda. Di saat banyak hal dalam hidup terasa seperti sesuatu yang harus dikejar, anak muda justru menemukan kesenangan dari aktivitas yang gak menuntut apa-apa.






















