Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kisah dan Perjalanan Seniman Yayoi Kusuma, Sempat Tinggal di RSJ
Yayoi Kusuma. (instagram.com/davidzwirner)
  • Yayoi Kusama dikabarkan meninggal pada 14 Agustus 2026 di usia 97 tahun, setelah meniti karier seni lebih dari tujuh dekade dalam seni visual, pertunjukan, sastra, dan busana.
  • Obsesi pada pola dots dan nets berakar dari pengalaman visual sejak kecil; Kusama kembali ke Jepang pada 1977 dan sukarela tinggal di rumah sakit jiwa sambil terus berkarya.
  • Dikenal lewat polkadot, labu, dan Infinity Mirror Rooms, Kusama memengaruhi pop art, minimalisme, serta feminist art; karyanya dipamerkan global, termasuk Indonesia, dan pernah berkolaborasi dengan Louis Vuitton.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Yayoi Kusuma dikabarkan tutup usia pada 14 Agustus 2026, tepatnya di usia 97 tahun. Seniman asal Jepang yang dikenal berkat karya ikonik dengan corak polkadot ini menjadi salah satu seniman paling penting di abad 21.

Yayoi Kusuma telah berkarier selama lebih dari 7 dekade, pamerannya pertama kali tampil di Indonesia pada 2018 lalu. Tak hanya menciptakan karya seni visual, Yayoi Kusuma juga menciptakan berbagai karya seni dalam berbagai bentuk seperti seni rupa, seni pertunjukan, sastra, hingga busana.

1. Seniman nyentrik yang dikenal berkat karya dots nan ikonik

Yayoi Kusuma. (instagram.com/davidzwirner)

Bukan tanpa sebab karya-karya Yayoi dikenal luas oleh pencinta seni dari berbagai negara. Yayoi Kusama sangat terobsesi terhadap pola-pola, sehingga karyanya banyak menampilkan pola 'dots' dan 'nets' yang menonjol.

Meski kelihatannya hanya sebuah pola 'dots' dan 'nets', namun Yoyi Kusuma memiliki cerita tersendiri di baliknya. Sejak kecil sang seniman kerpa memiliki imajinasi bahwa pandangannya kabur tertutup pola 'dots' dan 'nets' sehingga menghalangi penglihatannya. Sampai pada 1977, Yayoi Kusuma menjalani terapi pengobatan dan tinggal di rumah sakit jiwa.

Bukannya surut, perjalanan seni Yayoi Kusuma justru semakin berkembang. Dari tempat itulah justru ia banyak melahirkan karya besar yang diakui oleh dunia. Tentunya kehadiran Yayoi memberi pengaruh besar terhadap seni pop art, minimalisme, bahkan sampai feminist art.

2. Perjalanan Yayoi Kusuma bergelut dengan kesehatan mental dirinya

Yayoi Kusuma. (instagram.com/davidzwirner)

Meski Yayoi Kusuma telah berpulang, namun pamerannya masih berlangsung di berbagai belahan dunia. Salah satunya adalah pameran "Yayoi Kusama" di Museum Ludwig, Cologne, Jerman, yang menampilkan instalasi ikonik yang baru berakhir pada awal Agustus 2026 lalu. Ada pula pameran "KUSAMA's POP" yang digelar di Yayoi Kusama Museum yang dijadwalkan buka hingga 30 Agustus 2026 mendatang.

Yayoi Kusuma memang identik dengan karya-karya bergaya pop sejak 1960-an hingga 2000-an. Melalui mahakarya seninya, Yayoi Kusuma banyak mengangkat isu perlawanan dan kritik terhadap hal yang terjadi dalam lingkup sosial. Ia juga termasuk seniman yang terbuka akan kehidupan pribadinya, terutama saat berjuang melawan penyakit mental.

Perjalanan Yayoi Kusuma tak sepenuhnya mulus. Sang seniman tumbuh di keluarga yang penuh pertentangan terkait dengan keputusannya untuk mendalami bidang seni. Hal ini pula yang turut mendorong Yayoi Kusuma untuk meninggalkan Jepang dan pindah ke New York untuk mewujudkan cita-citanya. Pada tahun 1957, tepatnya di usia 27 tahun, Yayoi Kusuma menjadi perempuan Jepang pertama yang merantau demi mendalami karier seni.

Kehidupan di tanah rantau tak sepenuhnya berjalan mulus. Yayoi Kusuma mengaku New York yang memberinya neurosis atau gangguan mental ringan yang menyebabkan tertekan, cemas, atauemosi negatif yang membuatnya kesulitan membedakan kenyataan dengan baik. Maka Yayoi Kusuma memutuskan kembali ke Jepang pada 1977 dan secara sukarela tinggal di rumah sakit jiwa selama puluhan tahun.

3. Karya polkadot dan labu yang ikonik

Yayoi Kusuma. (instagram.com/davidzwirner)

Karya-karya Yayoi Kusuma memiliki ciri motif polkadot yang begitu khas hingga ia disebut "Queens of Polkadot". Selain motif titik-titik itu, labu juga menjadi salah satu ikon visual Yayoi Kusuma yang paling dikenal luas oleh publik. Karya Yayoi Kusuma tak hanya dikenal di luar negeri, bahkan di beberapa ruang publik Indonesia terdapat instalasi karya Yayoi Kusuma.

Yayoi Kusuma juga telah berkolaborasi dengan berbagai brand seperti Louis Vuitton. Ia juga yang menciptakan instalasi seni "Infinity Mirror Rooms" atau Ruang Cermin Tak Terhingga. Atas berbagai prestasinya, Yayoi Kusuma mendapatkan penghargaan Praemium Imperiale dari Japan Art Association pada 2006. Karya Yayoi Kusuma juga telah terjual dengan harga tinggi di berbagai negara.

Yayoi Kusuma adalah salah satu seniman paling ikonik di abad ke-21. Tentunya, kabar kepergian Yayoi Kusuma meninggalkan duka yang mendalam. Selamat jalan, Yayoi Kusuma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article