5 Buku tentang Pemalas yang Justru Membuka Perspektif Baru

Lima buku ini membahas kemalasan dari sudut pandang sosial, mental, dan ekonomi.
Tokoh-tokohnya digambarkan malas, tetapi menyimpan konflik hidup yang kompleks.
Cerita-cerita ini mengajak pembaca mempertanyakan ulang arti malas.
Pernahkah kamu bertemu orang yang malasnya gak ada obat? Apa justru kamu sendiri yang sedang jadi si pemalas itu? Meski menyebalkan sampai dianggap parasit, eksistensi mereka ternyata cukup sering menginspirasi sebuah buku.
Bagaimana tidak, kemalasan mereka bisa diulik lewat banyak perspektif dan latar belakang. Bisa karena kesehatan mental atau memang situasi ekonomi yang memungkinkan mereka jadi malas. Tertarik menjelajahi POV para pemalas dan parasit itu? Ini lima buku yang bisa kamu baca.
1. Oblomov (Ivan Goncharov)

Oblomov adalah karya sastra Rusia underrated yang judulnya diambil dari nama si lakon sendiri. Ia diceritakan sebagai pemuda yang malasnya gak ada obat. Setengah novelnya berlatarkan kamar tempat Oblomov rebahan sambil memerintah asisten pribadinya. Hari-harinya ia habiskan mengenang masa kecilnya yang indah dan mudah. Oblomov memang masih hidup nyaman sampai sekarang, tetapi perlahan tanggung jawab dan kewajiban yang harus ia tunaikan sebagai orang dewasa mulai menghantui.
Oblomov bukan kasus spesial. Nyatanya, banyak orang dewasa yang mengalami infantilisasi karena berbagai kemudahan yang mengitarinya sepanjang hidup. Segalanya sudah diputuskan, dilakukan, dan diatasi oleh orang lain. Cerita ini juga bisa dilihat pakai kacamata sosial-ekonomi sebagai sebuah privilese yang hanya melekat pada orang kaya dan kapitalis.
2. My Year of Rest and Relaxation (Ottessa Moshfegh)

My Year of Rest and Relaxation punya kemiripan cerita dengan Oblomov. Lakonnya seorang perempuan yang menikmati berbagai hak istimewa sejak lahir. Ia lulusan kampus ternama dan diwarisi harta yang lebih dari cukup oleh mendiang orangtuanya. Tak butuh uang banyak-banyak, ia pun mengambil pekerjaan sesuka hati. Sampai satu hari, kehampaan dalam dirinya menyeruak dan ia memutuskan untuk melakukan hibernasi selama setahun. Ia tak keluar apartemen, berhenti bekerja, dan menolak menemui teman-temannya. Apa yang sebenarnya terjadi pada si lakon? Novel ini membahas kompleks dan abstraknya definisi malas.
3. Bartleby, the Scrivener (Herman Melville)

Malas baca buku tebal? Coba novela berjudul Bartleby, the Scrivener yang unik dan bakal membuatmu termenung. Herman Melville yang dikenal lewat Moby Dick ternyata bisa bikin cerita humor satire yang menampar lewat sosok bernama Bartleby. Ia diceritakan sebagai pria yang berhasil dapat pekerjaan administrasi di sebuah firma hukum. Hari-hari pertamanya ia habiskan dengan semangat menggebu. Namun, lama-kelamaan, ia kehilangan bara itu. Bartleby menolak menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan padanya dan pada akhirnya menghabiskan waktu di kantor tanpa melakukan apa pun. Bagaimana akhir ceritanya?
4. Knulp (Hermann Hesse)

Konsep malas juga pernah disenggol Hermann Hesse dalam novel Knulp. Kali ini, ia mencoba menjelajah dunia lewat kacamata pemuda yang menolak kemapanan. Ia tak punya pekerjaan tetap, apalagi tempat tinggal. Ia memilih menghabiskan hari-harinya dengan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan menumpang ke rumah kenalan atau orang asing yang berbaik hati. Ia memang terkesan malas dan tak mau mengambil tanggung jawab. Namun, bila diperhatikan, ia mengingatkan setiap orang yang ditemuinya tentang satu hal yang selama ini mereka abaikan dan lupakan. Apa itu?
5. A Confederacy of Dunces (John Kennedy Toole)

Ignatius adalah lakon dalam novel komedi ini. Ia seorang pria 30 tahunan yang masih tinggal bersama sang ibu dan tak punya pekerjaan jelas. Ignatius sebenarnya pandai dan punya pengetahuan luas, tetapi ia tak punya banyak pengalaman konkret. Ia sering bikin orang lain risi dengan cara bicaranya yang blak-blakan dan kerap tak bisa membaca situasi. Ia juga tipe orang yang kelewat kritis dan idealis sampai-sampai menolak untuk mengambil pekerjaan konvensional. Ini membuatnya dapat cap malas dan ngeselin.
Setelah membaca lima buku tadi, kamu mungkin akan tergerak memikirkan kembali apa arti malas. Definisi dan konteksnya ternyata bisa berubah sesuai situasi yang melekat pada si subjek, bisa situasi finansial atau bahkan mental. Tertarik baca judul apa, nih?


















