ilustrasi media sosial (unsplash.com/Sweet Life)
Salah satu hal yang sering membuat korban semakin muak adalah perubahan sikap yang ditampilkan secara mendadak setelah sebuah masalah mencuat. Seseorang yang sebelumnya tidak menunjukkan penyesalan atas perlakuannya kepada orang lain tiba-tiba mengunggah kutipan keagamaan, membagikan pesan tentang kesabaran, atau menuliskan kalimat mengenai beratnya menjadi orang yang terus-menerus dizalimi. Unggahan semacam itu bisa menciptakan kesan bahwa dirinya sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, sedangkan pihak yang menegur seolah digambarkan sebagai orang yang penuh kebencian. Kontras antara tindakan nyata dan citra yang dibangun inilah yang sering membuat orang lain merasa semakin sulit menerima sikapnya.
Perlu dibedakan bahwa mengunggah konten keagamaan bukanlah bukti seseorang sedang melakukan play victim. Setiap orang memiliki kebebasan untuk membagikan pesan yang dianggap bermakna bagi dirinya, termasuk ketika sedang menghadapi persoalan pribadi. Masalah muncul ketika nilai-nilai agama hanya digunakan sebagai pelindung citra, sementara tanggung jawab terhadap orang yang disakiti tetap dihindari. Pesan tentang memaafkan, kesabaran, dan larangan membenci orang lain bahkan bisa dipakai untuk menekan korban agar berhenti membicarakan masalah, tanpa pernah ada pengakuan atas perlakuan buruk yang diterimanya. Padahal, kesalehan yang ditampilkan di ruang publik tidak otomatis menghapus kewajiban untuk bersikap jujur, mengakui kesalahan, dan memperbaiki kerugian yang telah ditimbulkan.
Ada sesuatu yang memang terasa ironis ketika orang yang pernah menyakiti orang lain justru paling lantang berbicara tentang kezaliman, kesabaran, dan perlakuan buruk yang katanya diterima. Orang-orang yang mengetahui kejadian sebenarnya mungkin bisa melihat betapa jauh perbedaan antara narasi yang dibangun dan perlakuan yang pernah diberikan kepada orang lain. Barangkali, bagian paling menyebalkan dari perilaku play victim bukan hanya penyangkalan terhadap kesalahan, melainkan keberanian untuk tampil seolah paling terluka tanpa sedikit pun memikirkan orang yang benar-benar harus menanggung akibat perbuatannya.