Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi merasa jadi korban (pexels.com/Tima Miroshnichenko)
  • Sebagian orang memilih posisi korban untuk melindungi harga diri dan menghindari rasa bersalah, terutama saat perilakunya bertentangan dengan citra diri sebagai pribadi baik.
  • Pola play victim mengalihkan fokus dari tindakan pelaku ke reaksi pihak terluka, termasuk melalui penyangkalan, serangan, dan pembalikan peran korban-pelaku.
  • Narasi sedih, dukungan publik, hingga unggahan religius dapat dipakai membangun citra korban dan menekan pihak terluka, tanpa pengakuan atau tanggung jawab atas kesalahan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah berhadapan dengan seseorang yang sudah jelas menyakiti orang lain, tetapi justru paling lantang mengaku bahwa dirinyalah yang sedang disakiti? Kesalahan yang pernah dilakukan seolah tidak pernah ada. Sementara, teguran yang ia dapatkan dianggap sebagai serangan, kritik disebut fitnah, dan orang yang aslinya terluka justru digambarkan sebagai pihak yang kejam.

Situasinya semakin menjengkelkan ketika sikap tersebut ditampilkan di hadapan banyak orang melalui unggahan bernada sedih, sindiran, bahkan pesan-pesan religius yang seolah menggambarkan dirinya sebagai orang paling sabar menghadapi kezaliman. Orang yang pernah disakiti pun akhirnya bukan hanya harus menghadapi luka akibat perlakuan tersebut, tetapi juga menyaksikan bagaimana cerita tentang kejadian itu diputarbalikkan. Kira-kira kenapa, ya, di dunia ini ada orang semacam itu?

1. Mengakui kesalahan dianggap mengancam harga diri

ilustrasi mengakui kesalahan (pexels.com/Alex Green)

Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk menerima kenyataan bahwa dirinya pernah menyakiti orang lain. Bagi sebagian orang, pengakuan tersebut bisa terasa seperti ancaman terhadap image yang selama ini dipertahankan, terutama ketika mereka ingin selalu dipandang sebagai pribadi yang baik, benar, atau tidak pernah berniat buruk. Daripada menghadapi rasa bersalah dan mengakui dampak perbuatannya, posisi sebagai korban justru dipilih untuk melindungi harga diri. Cerita yang disampaikan kemudian lebih banyak berisi penderitaan yang dirasakan sendiri daripada pengalaman orang yang telah disakiti.

Fenomena tersebut berkaitan dengan cognitive dissonance, yaitu ketidaknyamanan psikologis ketika keyakinan seseorang bertentangan dengan kenyataan atau perilakunya sendiri. Seseorang mungkin percaya bahwa dirinya adalah orang baik, tetapi pada saat bersamaan pernah berbohong, memanipulasi keadaan, mengkhianati kepercayaan, atau memperlakukan orang lain secara tidak adil. Pertentangan itu bisa dihadapi melalui evaluasi diri dan perubahan perilaku, tetapi ada pula yang memilih membenarkan tindakannya agar citra diri tetap terjaga. Kesalahan kemudian dianggap sebagai sesuatu yang wajar, sedangkan reaksi orang yang terluka justru dipandang sebagai persoalan utama.

2. Perhatian dialihkan dari perbuatannya menjadi reaksi korban

ilustrasi orang yang sedang playing victim (pexels.com/Liza Summer)

Salah satu pola yang sering ditemukan dalam perilaku play victim adalah pergeseran pembicaraan dari tindakan yang dilakukan menuju reaksi orang yang terdampak. Ketika seseorang diminta bertanggung jawab karena telah berbohong atau memperlakukan orang lain dengan buruk, pembicaraan bisa berubah menjadi tuduhan bahwa dirinya sedang disudutkan, dibenci, atau diperlakukan tidak adil. Orang yang awalnya berusaha meminta penjelasan akhirnya justru sibuk membela diri karena dituduh terlalu sensitif, pendendam, tidak bisa memaafkan, atau sengaja mencari masalah. Persoalan awal bergeser, sementara perilaku pihak yang terluka justru terus dipersoalkan.

Pola ini memiliki kemiripan dengan istilah DARVO, singkatan dari Deny, Attack, and Reverse Victim and Offender. Istilah yang diperkenalkan psikolog Jennifer J. Freyd tersebut menggambarkan pola ketika seseorang menyangkal perbuatannya, menyerang pihak yang mengungkap masalah, lalu membalik posisi korban dan pelaku. Misalnya, seseorang yang ketahuan menyebarkan cerita buruk tentang temannya justru menuduh teman tersebut telah memfitnah dan merusak reputasinya. Perhatian orang lain akhirnya diarahkan pada tuduhan baru, bukan lagi pada tindakan awal yang perlu dipertanggungjawabkan. Pola seperti ini bisa membuat korban merasa kebingungan, bahkan mulai meragukan penilaiannya sendiri terhadap kejadian yang sebenarnya dialami.

3. Narasi sebagai korban digunakan untuk mencari pembelaan

ilustrasi bersikap layaknya korban (pexels.com/Yan Krukau)

Pengakuan sebagai korban terkadang tidak hanya disampaikan kepada orang yang terlibat dalam konflik, tetapi juga dibawa ke lingkungan pertemanan, keluarga, hingga media sosial. Cerita yang dibagikan biasanya hanya menampilkan bagian yang menguntungkan dirinya, sementara tindakan yang menjadi awal persoalan tidak ikut dijelaskan. Unggahan bernada sedih, sindiran tentang orang yang tidak tahu berterima kasih, atau kalimat tentang betapa beratnya menghadapi orang jahat bisa digunakan untuk membangun kesan bahwa dirinya sedang diperlakukan tidak adil. Dukungan dari orang-orang yang tidak mengetahui kejadian secara utuh kemudian bisa dijadikan pembenaran bahwa dirinya memang pihak yang paling dirugikan.

Situasi tersebut dapat menjadi semakin rumit ketika orang yang bersangkutan lebih sibuk mengelola image daripada menyelesaikan masalah. Permintaan maaf tidak disampaikan kepada pihak yang disakiti, tetapi penyesalan justru diumbar di hadapan banyak orang tanpa penjelasan mengenai kesalahan yang telah dilakukan. Ada pula yang sengaja membangun cerita seolah dirinya sedang difitnah, padahal orang lain hanya sedang menceritakan pengalaman yang benar-benar dialaminya. Dalam kondisi seperti ini, media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi perasaan, melainkan bisa menjadi ruang untuk membentuk opini publik sebelum persoalan sebenarnya diketahui secara lengkap.

4. Unggahan religius bisa menjadi pengalihan dari tanggung jawab

ilustrasi media sosial (unsplash.com/Sweet Life)

Salah satu hal yang sering membuat korban semakin muak adalah perubahan sikap yang ditampilkan secara mendadak setelah sebuah masalah mencuat. Seseorang yang sebelumnya tidak menunjukkan penyesalan atas perlakuannya kepada orang lain tiba-tiba mengunggah kutipan keagamaan, membagikan pesan tentang kesabaran, atau menuliskan kalimat mengenai beratnya menjadi orang yang terus-menerus dizalimi. Unggahan semacam itu bisa menciptakan kesan bahwa dirinya sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, sedangkan pihak yang menegur seolah digambarkan sebagai orang yang penuh kebencian. Kontras antara tindakan nyata dan citra yang dibangun inilah yang sering membuat orang lain merasa semakin sulit menerima sikapnya.

Perlu dibedakan bahwa mengunggah konten keagamaan bukanlah bukti seseorang sedang melakukan play victim. Setiap orang memiliki kebebasan untuk membagikan pesan yang dianggap bermakna bagi dirinya, termasuk ketika sedang menghadapi persoalan pribadi. Masalah muncul ketika nilai-nilai agama hanya digunakan sebagai pelindung citra, sementara tanggung jawab terhadap orang yang disakiti tetap dihindari. Pesan tentang memaafkan, kesabaran, dan larangan membenci orang lain bahkan bisa dipakai untuk menekan korban agar berhenti membicarakan masalah, tanpa pernah ada pengakuan atas perlakuan buruk yang diterimanya. Padahal, kesalehan yang ditampilkan di ruang publik tidak otomatis menghapus kewajiban untuk bersikap jujur, mengakui kesalahan, dan memperbaiki kerugian yang telah ditimbulkan.

Ada sesuatu yang memang terasa ironis ketika orang yang pernah menyakiti orang lain justru paling lantang berbicara tentang kezaliman, kesabaran, dan perlakuan buruk yang katanya diterima. Orang-orang yang mengetahui kejadian sebenarnya mungkin bisa melihat betapa jauh perbedaan antara narasi yang dibangun dan perlakuan yang pernah diberikan kepada orang lain. Barangkali, bagian paling menyebalkan dari perilaku play victim bukan hanya penyangkalan terhadap kesalahan, melainkan keberanian untuk tampil seolah paling terluka tanpa sedikit pun memikirkan orang yang benar-benar harus menanggung akibat perbuatannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article