ilustrasi korupsi (unsplash.com/Nohe Pereira)
Beberapa tindakan jahat dilakukan bukan tanpa tujuan, tapi justru sebagai fast track. Korupsi, misalnya, dipilih karena dianggap bisa mempercepat kekayaan. Mengancam atau menyebar isu dipakai untuk menjatuhkan lawan. Cara ini dipilih karena hasilnya terlihat cepat dibandingkan naik tangga kesuksesan lewat cara yang lebih bersih.
Masalahnya, cara cepat ini sering mengabaikan dampak ke banyak orang. Kerugian bisa meluas, mulai dari individu sampai masyarakat. Namun, karena fokusnya pada hasil instan, bagian merugikan orang lain ini sering diabaikan. Lama-kelamaan, makin terlihat bahwa tindakan jahat bukan sekadar aksi spontan, melainkan sudah dianggap bagian dari strategi.
Fenomena ini tidak muncul tiba-tiba, tapi terbentuk dari banyak kejadian yang terus berulang tanpa perubahan berarti. Ketika pelaku tidak merasa rugi, contoh kejahatan terus terlihat dan lingkungan malah cenderung diam. Lalu, apakah kondisi seperti ini akan terus dibiarkan?