Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apakah Perlu Bersikap Pragmatis di Tempat Kerja?

Apakah Perlu Bersikap Pragmatis di Tempat Kerja?
ilustrasi bersikap pragmatis di tempat kerja (unsplash.com/Kaleidico)
Intinya Sih
  • Sikap pragmatis membantu pekerjaan tetap berjalan meski kondisi tidak ideal atau data belum lengkap.

  • Dalam kerja tim, pragmatis membuat komunikasi lebih fleksibel dan fokus pada hasil bersama.

  • Pragmatis tetap perlu batas agar tidak melanggar prinsip dan menjaga kepercayaan jangka panjang.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Dunia kerja tidak selalu berjalan sesuai rencana karena target bisa berubah dan kondisi di lapangan sering tidak sesuai ekspektasi. Dalam situasi seperti ini, sikap pragmatis dibutuhkan agar kamu tetap bisa menyesuaikan langkah tanpa harus menunggu kondisi ideal. Sering kali, keputusan harus diambil saat informasi belum lengkap dan pendekatan pragmatis membantu pekerjaan tetap berjalan.

Pragmatis bukan berarti asal cepat atau mengabaikan aturan, melainkan memilih langkah yang paling memungkinkan dengan kondisi yang ada. Fokusnya tetap pada hasil dengan mempertimbangkan situasi nyata. Dengan begitu, pekerjaan tidak tertunda karena terlalu terpaku pada rencana awal. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

1. Pragmatis membantumu tetap jalan saat kondisi tidak ideal

ilustrasi bersikap pragmatis di tempat kerja
ilustrasi bersikap pragmatis di tempat kerja (unsplash.com/Kaleidico)

Di tempat kerja, jarang ada situasi yang benar-benar siap dari awal sampai akhir. Sebagai contoh, kamu diminta menyusun laporan, tapi data yang masuk belum lengkap. Kalau menunggu semuanya terkumpul, pekerjaan bisa tidak selesai tepat waktu. Akhirnya, kamu justru kehilangan momentum untuk mulai. Dalam kondisi seperti ini, orang yang pragmatis akan tetap bekerja dengan data yang sudah ada. Sambil berjalan, kekurangan data dilengkapi sedikit demi sedikit.

Cara ini membuat pekerjaan tetap bergerak tanpa harus berhenti total. Hasil awal mungkin belum sempurna, tapi tetap bisa ditunjukkan atau direvisi. Dibanding menunggu lama, langkah ini lebih efisien dalam banyak situasi kerja. Atasan biasanya juga lebih menghargai progres daripada tidak ada hasil sama sekali. Selain itu, kamu jadi terbiasa menghadapi ketidakpastian tanpa panik. Lama-lama, kamu akan lebih cepat menyesuaikan diri saat kondisi berubah.

2. Sikap pragmatis mempermudah kerja tim

ilustrasi bersikap pragmatis di tempat kerja
ilustrasi bersikap pragmatis di tempat kerja (unsplash.com/Videoters)

Dalam kerja tim, perbedaan pendapat itu hal yang biasa terjadi. Masalah muncul ketika seseorang terlalu kaku mempertahankan ide tanpa melihat kondisi. Rencana awal sudah tidak relevan, misalnya, tapi tetap dipaksakan hanya karena dianggap paling benar. Hal seperti ini bisa memperlambat proses kerja tim. Akhirnya, pekerjaan yang seharusnya selesai cepat justru jadi tertunda.

Orang yang pragmatis biasanya lebih fokus pada hasil bersama daripada mempertahankan ego pribadi. Kalau ada cara lain yang lebih memungkinkan, dia tidak keberatan menyesuaikan. Sikap seperti ini membuat diskusi lebih efektif dan tidak berlarut-larut. Rekan kerja juga akan merasa lebih nyaman karena tidak dipersulit. Dalam jangka panjang, kamu akan lebih mudah dipercaya dalam tim. Bukan karena selalu benar, tapi karena bisa diajak kerja sama dengan baik.

3. Membantu mengambil keputusan tanpa terlalu lama ragu

ilustrasi bersikap pragmatis di tempat kerja
ilustrasi bersikap pragmatis di tempat kerja (unsplash.com/Vitaly Gariev)

Di dunia kerja, tidak semua keputusan bisa dipikirkan terlalu lama. Ada situasi yang menuntut respons cepat meski informasinya belum lengkap. Kalau terlalu banyak pertimbangan, kamu bisa kehilangan waktu yang penting. Akhirnya, tidak ada keputusan yang benar-benar diambil. Kondisi ini sering terjadi tanpa disadari.

Sikap pragmatis membantu menyederhanakan proses berpikir. Kamu cukup melihat pilihan yang ada dan memilih yang paling masuk akal untuk saat itu. Kamu bisa memilih opsi dengan risiko paling kecil atau yang paling cepat dijalankan. Keputusan yang diambil mungkin tidak sempurna, tapi tetap bisa diperbaiki untuk langkah berikutnya. Cara ini membuat pekerjaan tidak berhenti di tengah jalan. Selain itu, kamu juga jadi lebih terbiasa menghadapi tekanan kerja.

4. Pragmatisme tetap punya batas yang jelas

ilustrasi bersikap pragmatis di tempat kerja
ilustrasi bersikap pragmatis di tempat kerja (unsplash.com/Campaign Creators)

Perlu dipahami bahwa pragmatis bukan berarti bebas melakukan apa saja. Ada batas yang tidak boleh dilewati, terutama yang berkaitan dengan aturan dan kepercayaan, misalnya mengabaikan prosedur penting hanya demi cepat selesai atau mengambil keputusan yang merugikan orang lain demi hasil pribadi. Hal seperti ini justru berbahaya dalam jangka panjang.

Sekali kepercayaan rusak, dampaknya bisa panjang dalam karier. Orang lain akan lebih berhati-hati atau bahkan ragu untuk bekerja sama. Padahal, kepercayaan merupakan salah satu hal penting di tempat kerja. Pragmatis yang sehat tetap mempertimbangkan dampak ke depan. Bukan hanya soal hasil cepat, melainkan juga soal cara mencapainya. Jadi, tetap perlu ada batas yang dijaga dengan jelas.

5. Menyeimbangkan pragmatis dan prinsip itu penting

ilustrasi bersikap pragmatis di tempat kerja
ilustrasi bersikap pragmatis di tempat kerja (unsplash.com/Christina @ wocintechchat.com M)

Banyak yang menganggap pragmatis dan idealis itu tidak bisa berjalan bersama. Padahal, keduanya bisa saling melengkapi kalau digunakan dengan tepat. Idealisme membantu menentukan arah dan standar kerja. Sementara, pragmatis membantu memastikan pekerjaan tetap berjalan. Keduanya punya peran masing-masing dalam pekerjaan sehari-hari.

Kuncinya ada pada kemampuan membaca situasi. Kamu perlu tahu kapan harus fleksibel dan kapan harus tetap pada prinsip, misalnya menyesuaikan cara kerja tanpa menurunkan kualitas yang penting atau tetap menjaga nilai dasar meski harus mengubah strategi. Kemampuan ini tidak langsung terbentuk, tapi bisa dilatih dari pengalaman kerja. Semakin sering menghadapi situasi berbeda, kamu akan semakin paham cara menyeimbangkannya.

Pada akhirnya, sikap pragmatis bukan soal memilih jalan yang paling mudah, melainkan memilih langkah yang paling masuk akal untuk kondisi yang sedang dihadapi. Dunia kerja bergerak cepat dan tidak selalu memberi waktu untuk menunggu semuanya sempurna. Kalau terlalu terpaku pada idealisme tanpa melihat situasi, pekerjaan justru bisa terhambat.

Tekanan dan perubahan di tempat kerja memang tidak bisa dihindari, tapi cara menyikapinya bisa dilatih lewat pola pikir yang lebih realistis. Sikap pragmatis membantu kamu tetap bergerak, mengambil keputusan, dan bekerja sama tanpa harus menunggu kondisi sempurna. Selama tetap punya batas yang jelas, pragmatis justru jadi bekal penting untuk bertahan dan berkembang dalam dunia kerja yang dinamis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎
Follow Us