Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
ilustrasi media sosial (pexels.com/ Czapp Árpád)
  • Ableism di medsos terjadi saat disabilitas dijadikan ejekan dalam kritik, berangkat dari anggapan bahwa orang tanpa disabilitas lebih normal atau unggul.
  • Kritik sebaiknya menyoroti argumen, tindakan, atau keputusan dengan kata spesifik, bukan menyerang kondisi fisik, mental, cara bicara, atau diagnosis seseorang.
  • Sebelum mengunggah, periksa bahasa saat emosi dan hindari istilah diskriminatif; jika dikoreksi, akui, perbaiki unggahan, serta pahami dampaknya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Perbedaan pendapat di media sosial atau medsos sering kali membuat orang terburu-buru mencari kalimat paling tajam untuk membalas unggahan yang tidak disukai. Seseorang bisa saja sedang mengkritik kebijakan, perilaku publik, atau keputusan orang lain, tetapi justru menggunakan kondisi disabilitas sebagai bahan ejekan agar pendapatnya terdengar lebih menusuk. Kata-kata seperti "cacat", "autis", atau "buta" mungkin masih sering ditemukan dalam percakapan sehari-hari, padahal istilah tersebut membawa konotasi yang merendahkan penyandang disabilitas.

Perilaku semacam itu termasuk bagian dari ableism, yaitu sikap, prasangka, atau perlakuan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas yang didasarkan pada anggapan bahwa orang tanpa disabilitas lebih normal atau lebih unggul. Kritik tetap bisa disampaikan dengan tegas tanpa menjadikan kondisi fisik, sensorik, intelektual, maupun mental seseorang sebagai bahan penghinaan. Ada beberapa cara menyuarakan opini di medsos tanpa harus jadi ableist atau melanggengkan diskriminasi.

1. Kritik perilaku atau argumennya, bukan kondisi disabilitas seseorang

ilustrasi media sosial (unsplash.com/Sweet Life)

Ketika melihat unggahan yang dianggap keliru, fokus kritik sebaiknya diarahkan pada isi pernyataan, tindakan, atau keputusan yang sedang dibahas. Misalnya, seseorang menyampaikan pendapat yang tidak didukung fakta, lalu mendapatkan balasan berupa sebutan "cacat otak" atau "otaknya rusak". Padahal, persoalan yang sedang diperdebatkan adalah kualitas argumennya, bukan kondisi neurologis orang tersebut. Penggunaan istilah yang berkaitan dengan disabilitas justru mengalihkan pembahasan dari kesalahan yang sebenarnya ingin dikritik.

Pendapat yang sama bisa disampaikan dengan kalimat yang jauh lebih tepat, seperti "argumen ini tidak didukung data", "pernyataan tersebut menunjukkan kurangnya pemahaman terhadap persoalan", atau "keputusan itu merugikan banyak orang". Kritik seperti ini tetap bisa terdengar keras tanpa harus merendahkan kelompok tertentu. Bahkan, pembahasan menjadi lebih jelas karena alasan ketidaksetujuan disampaikan secara langsung. Orang yang membaca pun bisa memahami bagian mana yang dianggap bermasalah, bukan sekadar melihat pertukaran hinaan di kolom komentar.

2. Hindari menggunakan istilah disabilitas sebagai kata makian

ilustrasi media sosial (unsplash.com/Claudio Schwarz)

Sejumlah istilah yang berkaitan dengan disabilitas sudah terlalu sering digunakan sebagai bahan bercanda atau makian sampai sebagian orang tidak lagi menyadari makna diskriminatifnya. Sebutan seperti "autis", "bipolar", "skizofrenia", atau "idiot" terkadang digunakan untuk menggambarkan orang yang dianggap aneh, tidak masuk akal, atau sulit diajak berdiskusi. Penggunaan tersebut bermasalah karena kondisi disabilitas dan kesehatan tertentu seolah-olah diposisikan sebagai sesuatu yang memalukan atau pantas dijadikan hinaan.

Kebiasaan tersebut perlu diperhatikan, termasuk ketika istilah yang digunakan sudah dianggap lumrah di lingkungan pertemanan atau komunitas tertentu. Jika ingin menyebut seseorang tidak konsisten, gunakan istilah "berubah-ubah pendirian"; jika perilakunya dianggap tidak masuk akal, jelaskan bagian yang tidak logis; sedangkan tindakan yang merugikan bisa disebut manipulatif atau tidak bertanggung jawab apabila memang sesuai konteks. Pemilihan kata yang lebih spesifik bukan berarti kritik harus dibuat lebih halus. Justru, maksud yang ingin disampaikan bisa menjadi lebih akurat tanpa membawa stigma terhadap penyandang disabilitas.

3. Jangan menjadikan kondisi fisik atau mental sebagai bahan serangan pribadi

ilustrasi media sosial (unsplash.com/Daddy Mohlala)

Penampilan fisik, cara berbicara, gerakan tubuh, maupun kondisi mental seseorang tidak seharusnya dijadikan sasaran penghinaan ketika sedang terjadi perdebatan. Misalnya, seseorang yang tidak menyukai pernyataan seorang figur publik justru mengejek cara bicaranya, bentuk tubuhnya, atau karakteristik fisik yang berkaitan dengan disabilitas. Serangan semacam ini tidak memiliki hubungan langsung dengan kualitas pendapat yang sedang dibahas. Kritik yang awalnya mungkin valid akhirnya berubah menjadi perundungan terhadap karakteristik pribadi.

Hal yang sama berlaku ketika kondisi mental seseorang digunakan untuk membatalkan seluruh pendapatnya. Seseorang tidak otomatis salah hanya karena memiliki diagnosis tertentu, sebagaimana orang tanpa diagnosis juga tidak otomatis selalu benar. Jika ada pernyataan yang keliru, kekeliruannya tetap perlu dijelaskan berdasarkan isi dan konteks. Memisahkan persoalan pribadi dari substansi pembahasan menjadi langkah penting agar perdebatan tidak berubah menjadi ajang mempermalukan orang karena kondisi yang dimilikinya.

4. Periksa kembali pilihan kata sebelum mengunggah atau membagikan ulang konten

ilustrasi media sosial (pexels.com/Karolina Grabowska)

Unggahan di media sosial sering dibuat dalam keadaan emosional, terutama ketika seseorang sedang marah atau merasa pendapatnya diserang. Dalam situasi seperti itu, kata-kata yang sebenarnya merendahkan kelompok tertentu bisa saja lolos tanpa dipikirkan lebih jauh. Sebelum mengunggah komentar, membuat meme, atau membagikan ulang konten yang sedang viral, luangkan waktu untuk membaca kembali kalimat yang digunakan. Perhatikan apakah ada istilah disabilitas yang dijadikan bahan ejekan atau apakah kritik justru diarahkan pada karakteristik seseorang yang tidak berkaitan dengan persoalan.

Pemeriksaan sederhana ini juga perlu dilakukan ketika menggunakan bahasa populer, istilah slang, atau candaan yang sedang ramai di internet. Sebuah kata mungkin dianggap lucu oleh sebagian orang, tetapi bisa membawa pengalaman tidak menyenangkan bagi penyandang disabilitas yang membaca atau mendengarnya. Jika menemukan istilah yang berpotensi merendahkan, ganti dengan kata yang benar-benar menggambarkan perilaku atau persoalan yang ingin dibahas. Tidak semua kritik harus langsung dipublikasikan saat emosi sedang tinggi, sebab memberi jeda sebelum mengunggah sesuatu bisa membantu menghindari kalimat yang justru melemahkan pesan utama.

5. Terbuka terhadap koreksi tanpa langsung menganggapnya sebagai serangan

ilustrasi media sosial (pexels.com/cottonbro studio)

Tidak semua orang langsung menyadari bahwa istilah yang selama ini digunakan ternyata bersifat ableist. Ada kemungkinan seseorang pernah memakai kata tertentu karena terbiasa mendengarnya dari lingkungan sekitar, tanpa memahami sejarah dan dampaknya bagi penyandang disabilitas. Ketika penggunaan kata tersebut dikoreksi, respons yang diberikan sebaiknya tidak langsung berupa pembelaan seperti "cuma bercanda", "jangan terlalu sensitif", atau "semua orang juga memakai kata itu". Kalimat semacam ini justru dapat membuat pengalaman kelompok yang terdampak kembali dianggap tidak penting.

Jika memang terdapat kesalahan dalam pilihan kata, mengakui dan memperbaikinya merupakan respons yang lebih bertanggung jawab. Kamu bisa menghapus atau mengedit unggahan, menyampaikan permintaan maaf, serta berusaha tidak mengulangi penggunaan istilah yang sama. Koreksi juga bisa dijadikan kesempatan untuk memahami mengapa sebuah ungkapan dianggap diskriminatif, bukan sekadar persoalan orang lain tersinggung atau tidak. Sikap terbuka terhadap masukan tidak mengharuskan seseorang selalu sepakat dengan semua pendapat, tetapi menunjukkan kesediaan untuk mempertimbangkan dampak dari bahasa yang digunakan.

Menyuarakan opini di medsos tanpa harus jadi ableist adalah hal penting. Kritik terhadap kebijakan, perilaku, maupun pemikiran seseorang tetap bisa disampaikan secara langsung tanpa menjadikan disabilitas sebagai bahan ejekan. Kebebasan berpendapat juga tidak berarti setiap pilihan kata bebas dari konsekuensi sosial. Ketika substansi kritik lebih diutamakan daripada penghinaan personal, diskusi di media sosial bisa menjadi ruang yang lebih sehat bagi siapa pun, termasuk penyandang disabilitas.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article