Perbedaan pendapat di media sosial atau medsos sering kali membuat orang terburu-buru mencari kalimat paling tajam untuk membalas unggahan yang tidak disukai. Seseorang bisa saja sedang mengkritik kebijakan, perilaku publik, atau keputusan orang lain, tetapi justru menggunakan kondisi disabilitas sebagai bahan ejekan agar pendapatnya terdengar lebih menusuk. Kata-kata seperti "cacat", "autis", atau "buta" mungkin masih sering ditemukan dalam percakapan sehari-hari, padahal istilah tersebut membawa konotasi yang merendahkan penyandang disabilitas.
Perilaku semacam itu termasuk bagian dari ableism, yaitu sikap, prasangka, atau perlakuan diskriminatif terhadap penyandang disabilitas yang didasarkan pada anggapan bahwa orang tanpa disabilitas lebih normal atau lebih unggul. Kritik tetap bisa disampaikan dengan tegas tanpa menjadikan kondisi fisik, sensorik, intelektual, maupun mental seseorang sebagai bahan penghinaan. Ada beberapa cara menyuarakan opini di medsos tanpa harus jadi ableist atau melanggengkan diskriminasi.