Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Orang Merasa Harus Membaca Buku yang sedang Viral?
ilustrasi buku (unsplash.com/Claudia Wolff)
  • Media sosial memicu rasa takut ketinggalan percakapan, sehingga banyak orang memasukkan buku viral ke daftar baca meski awalnya tidak tertarik.
  • Popularitas, rating tinggi, dan pujian pembaca kerap dianggap jaminan kualitas, padahal selera membaca bersifat subjektif dan tidak semua buku cocok untuk semua orang.
  • Konten BookTok dan Bookstagram membuat buku tampak menarik serta membentuk dorongan mengikuti tren, meski membaca seharusnya tetap berdasarkan minat pribadi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Media sosial punya pengaruh besar terhadap cara orang memilih buku bacaan. Ketika sebuah buku ramai dibicarakan di TikTok, Instagram, atau X, tidak sedikit orang yang langsung penasaran dan ingin membacanya. Apalagi kalau buku tersebut mendapat banyak ulasan positif atau dianggap memiliki cerita yang sangat menyentuh.

Sebenarnya, membaca buku yang sedang viral bukan sesuatu yang salah. Namun, terkadang keinginan tersebut bukan sepenuhnya muncul karena tertarik pada isi bukunya, melainkan karena merasa harus mengikuti apa yang sedang populer. Lalu, kenapa seseorang bisa merasa harus membaca buku yang sedang viral, bahkan ketika genre atau temanya tidak terlalu sesuai dengan seleranya?

1. Takut ketinggalan pembicaraan yang sedang ramai

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Issam Hajri)

Salah satu alasan orang tertarik membaca buku viral adalah karena tidak ingin ketinggalan pembicaraan. Ketika banyak orang membahas alur cerita, karakter, atau akhir sebuah novel, muncul rasa penasaran untuk mengetahui apa yang sebenarnya membuat buku tersebut begitu menarik. Keinginan ini semakin kuat ketika teman atau orang-orang di media sosial terus membicarakan buku yang sama. Seseorang mungkin merasa kurang bisa ikut berkomentar jika belum membacanya sendiri. Akhirnya, buku tersebut masuk ke dalam daftar bacaan meskipun sebelumnya tidak pernah menarik perhatiannya.

2. Popularitas sering dianggap sebagai jaminan kualitas

ilustrasi buku (pexels.com/Markus Spiske)

Buku yang mendapat banyak perhatian biasanya dianggap memiliki sesuatu yang istimewa. Apalagi jika banyak pembaca memberikan rating tinggi dan menyebutnya sebagai salah satu buku terbaik yang pernah mereka baca. Padahal, popularitas tidak selalu berarti sebuah buku cocok untuk semua orang. 

Selera membaca sangat subjektif. Novel yang dianggap luar biasa oleh ribuan orang mungkin terasa biasa saja bagi pembaca lain. Meski begitu, banyaknya ulasan positif bisa membuat seseorang merasa bahwa buku tersebut wajib dibaca. Bahkan, ada yang merasa aneh ketika ternyata tidak menikmati buku yang sangat disukai orang lain.

3. Konten BookTok dan Bookstagram membuat buku terlihat lebih menarik

ilustrasi buku (pexels.com/Pixabay)

Konten tentang buku sekarang tidak hanya berisi ulasan cerita. Ada video rekomendasi dengan musik emosional, foto rak buku yang estetik, hingga reaksi pembaca setelah menyelesaikan novel tertentu. Cara penyajian seperti ini membuat sebuah buku terlihat semakin menarik. Bahkan, orang yang awalnya tidak berencana membeli buku bisa berubah pikiran setelah berkali-kali melihatnya di media sosial.

Tentu saja, konten tersebut juga membantu banyak orang menemukan bacaan baru. Namun, terkadang ketertarikan seseorang terhadap sebuah buku tidak muncul karena isi ceritanya. Justru, suasana dan pengalaman membaca yang ditampilkan oleh kreator konten menjadi alasan utama mereka ingin membaca buku tersebut.

4. Ada keinginan untuk terlihat mengikuti perkembangan dunia literasi

ilustrasi membaca buku (pexels.com/Min An)

Di media sosial, pilihan bacaan terkadang ikut membentuk kesan seseorang. Orang yang membaca buku-buku populer mungkin dianggap mengikuti perkembangan dunia literasi dan mengetahui karya yang sedang banyak diperbincangkan. Hal ini bisa membuat sebagian orang merasa perlu membaca judul tertentu agar tidak terlihat ketinggalan. Bahkan, ada yang lebih sibuk mengejar daftar buku populer alih-alih mencari bacaan yang benar-benar disukai.

5. Takut melewatkan pengalaman membaca yang dianggap luar biasa

ilustrasi membaca buku (pexels.com/John Ray Ebora)

Ketika sebuah buku terus mendapat pujian, wajar jika muncul pikiran bahwa kita mungkin sedang melewatkan sesuatu yang bagus. Terlebih jika banyak orang mengatakan bahwa buku tersebut berhasil mengubah cara pandang mereka terhadap kehidupan. Rasa penasaran seperti ini sebenarnya bisa menjadi hal positif karena mendorong seseorang untuk mencoba bacaan di luar kebiasaannya. Namun, masalah muncul ketika membaca berubah menjadi kewajiban untuk mengejar tren.

Merasa harus membaca buku yang sedang viral adalah hal wajar. Meski begitu, kamu tidak harus membaca semua buku viral tersebut. Membaca seharusnya memberikan pengalaman yang menyenangkan, bukan membuat seseorang merasa tertinggal. Kalau sebuah buku memang menarik, tidak ada salahnya ikut membaca. Namun, kalau tidak sesuai selera, kita juga tidak perlu memaksakan diri hanya karena semua orang sedang membicarakannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article