Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Merasa Tertinggal dari Teman Seangkatan? Pahami 5 Fase Psikologis Ini!
ilustrasi orang berdiskusi (pexels.com/ SHVETS production)
  • Rasa tertinggal dari teman seangkatan merupakan fase psikologis yang normal pada dewasa muda, sering dipicu kabar pencapaian teman dan tekanan sosial mendadak.
  • Setelah terkejut, seseorang cenderung membandingkan hidup berlebihan, menghindari pergaulan karena malu, lalu menyesali pilihan masa lalu hingga mengalami krisis identitas.
  • Fase resolusi muncul saat seseorang memvalidasi perasaannya, menetapkan definisi sukses serta garis waktu pribadi, dan fokus melangkah tanpa mengikuti standar sosial orang lain.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Menjadi dewasa berarti bersiap menyambut rentetan pilihan hidup yang seolah tidak ada habisnya. Waktu sekolah, kita pusing memikirkan masa depan. Giliran sudah bekerja, kita kembali dihantui rasa bimbang antara harus melompat mencari tantangan baru atau bertahan di zona nyaman. Apalagi kalau sudah waktunya kumpul reuni dengan teman sebaya. Rasanya selalu ada saja update mengejutkan, entah itu yang tiba-tiba menyebar undangan pernikahan, check-in di rumah baru, hingga pamer kendaraan hasil keringat sendiri. Seketika, melihat diri sendiri yang rasanya masih begini-begini saja membuat pertanyaan, "Kok dia udah sejauh itu, sementara aku belum?" terus bergaung di kepala.

Tenangkan dirimu, percayalah kamu tidak sendirian. Perasaan tertinggal atau disebut feeling left behind sejatinya adalah fase psikologis yang sangat normal dialami banyak orang, khususnya pada usia dewasa muda. Daripada terus-terusan overthinking sendirian, yuk kenalan dulu dengan lima fase psikologis yang biasanya selalu kita lewati saat merasa tertinggal dari circle pertemanan. Siapa tahu, dengan memahami fase-fase ini, kamu bisa lebih menerima dan menemukan titik terang.

1. Kamu merasakan tekanan sosial secara tiba-tiba

ilustrasi penyangkalan (unsplash.com/Priscilla Du Preez 🇨🇦)

Fase ini muncul saat kamu melihat atau mengetahui pencapaian orang lain secara beruntun. Kamu mulai menyadari bahwa teman-teman yang dulu sering nongkrong bareng, sekarang seolah sudah berlari jauh di depan. Biasanya kamu akan kaget sekaligus merasa ada tekanan sosial. Perasaan tersebut akan diikuti dengan penyangkalan atau denial. Pada tahap ini, kamu mungkin akan membatin, "Perasaan baru kemarin kita lulus bareng, kok dia tiba-tiba udah jadi manajer aja?"

2. Otakmu membandingkan pencapaian diri dengan orang lain secara berlebihan

ilustrasi membandingkan diri sendiri dengan orang lain (unsplash.com/Itadaki)

Setelah rasa kaget mereda, otakmu akan otomatis masuk ke mode membandingkan. Pada fase ini, kamu terbebani oleh pikiranmu sendiri. Kamu mengukur pencapaian hidupmu dengan standar orang lain yang sebenarnya tidak bisa dibandingkan, karena setiap orang memiliki jalur hidupnya masing-masing, bahkan titik start-nya pun bisa berbeda. Ujung-ujungnya, kamu pasti akan merasa menjadi orang yang paling tertinggal.

3. Kamu menghindari interaksi pertemanan karena rasa malu

ilustrasi membatasi interaksi (pexels.com/Eun Suk)

Karena merasa tidak setara dan diam-diam malu dengan pencapaian yang terasa mandek, kamu secara tidak sadar mulai membangun tembok pelindung. Undangan reuni atau sekadar nongkrong akhir pekan mulai kamu tolak dengan seribu alasan kesibukan. Padahal, jauh di lubuk hatimu, kamu hanya merasa takut jika ditanya soal pekerjaan atau pencapaian saat ini. Bahkan, kamu mungkin mulai menyembunyikan unggahan beberapa teman karena energi mentalmu tidak sanggup lagi melihat kesuksesan mereka.

4. Kamu menggugat keputusan masa lalu di titik terendah ini

ilustrasi depresi (pixabay.com/TungArt7)

Pada fase krisis identitas ini, kamu mulai mempertanyakan dan menyesali semua hal yang sudah terlewat. Kamu menyalahkan jurusan kuliah yang dulu diambil, pekerjaan pertama yang dipilih, hingga menyalahkan diri sendiri kenapa kurang ambisius saat muda. Kamu merasa seolah-olah sudah salah mengambil jalan hidup, tetapi tidak tahu bagaimana cara putar baliknya. Jika dibiarkan berlarut-larut, fase ini sangat menguras energi mental dan rentan memicu kelelahan emosional.

5. Kamu mulai membangun garis waktu kesuksesan versi dirimu sendiri

ilustrasi evaluasi diri (unsplash.com/Jakub Żerdzicki)

Ini adalah fase resolusi yang paling melegakan di mana kamu akhirnya memvalidasi perasaanmu sendiri. Kamu mulai sadar bahwa hidup bukanlah ujian nasional yang lembar jawabannya harus diseragamkan dengan orang lain. Kamu mulai mengalibrasi ulang definisi sukses versi dirimu sendiri, tanpa memedulikan ekspektasi sosial atau standar orang tua. Di sinilah kamu benar-benar berhenti menengok ke jalur lari orang lain dan mulai memupuk langkah kecilmu dengan tenang.

Ingatlah selalu bahwa garis akhir untuk setiap orang itu berbeda-beda tempat dan waktunya. Lagipula, kalau semua orang jalannya berbarengan dan sukses di detik yang sama, bumi mungkin bakal kebosanan karena tidak ada cerita perjuangan unik. Cobalah tutup sebentar aplikasi media sosialmu, ambil napas dalam-dalam, dan jalani kehidupan dengan versimu sendiri. Kamu sama sekali tidak perlu memaksakan diri untuk ngebut kalau kakimu masih butuh waktu untuk meraba jalan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article