Kenapa Menyalahkan Korban Kekerasan Seksual Bisa Sangat Berbahaya?

- Menyalahkan korban kekerasan seksual memperparah trauma, rasa malu, dan kebencian pada diri sendiri, padahal korban membutuhkan empati serta dukungan untuk pemulihan fisik dan mental.
- Penghakiman terhadap korban dapat memberi kesan pembenaran bagi pelaku, membuat rantai kekerasan lebih sulit diputus, dan mengalihkan perhatian dari penegakan hukum yang tegas.
- Korban berasal dari beragam gender, usia, relasi, tempat, dan waktu; masyarakat perlu saling menjaga, meningkatkan kewaspadaan, serta tidak menyudutkan korban maupun keluarganya.
Berita kekerasan seksual selalu menggemparkan, tapi sebentar kemudian seperti menguap begitu saja. Dalam waktu singkat juga kembali muncul kasus-kasus serupa di berbagai daerah. Maraknya kekerasan seksual di tanah air menunjukkan belum baiknya upaya penanganan serta pencegahannya.
Hukuman yang ringan membuat predator seksual sangat mungkin kembali mengulangi perbuatannya selepas menyelesaikan masa tahanan. Pemerintah perlu membuat sanksi yang jauh lebih berat guna menimbulkan efek jera pada pelaku. Sementara itu, di masyarakat sendiri masih sering ditemui sikap yang kurang bijak.
Ketika kekerasan seksual terjadi, bukannya masyarakat menghujat pelaku justru menghakimi korban. Sikap kurang berempati juga sering berbuntut pelecehan verbal terhadap korban kekerasan seksual. Seperti korban disalahkan karena pakaiannya, pergi malam-malam, tidak melawan pelaku, sampai disebut mengizinkan bahkan menikmati perbuatan biadab tersebut. Sikap-sikap di atas amat berbahaya. Simak penjelasannya.
1. Hanya menambah rasa sakit, malu, hingga korban membenci diri sendiri

ilustrasi korban kekerasan seksual (pexels.com/Gül Işık) Korban kekerasan seksual mengalami guncangan mental yang luar biasa. Hanya mereka yang berhak atas tubuhnya. Namun, pelaku kekerasan seksual telah merampas kemerdekaan mereka atas tubuh sendiri.
Kalau penderitaan korban kekerasan seksual ditambah dengan sikap masyarakat yang justru menyalahkannya, maka luka psikisnya menjadi jauh lebih besar. Mereka membutuhkan kepedulian dan dukungan. Bukan hujatan dengan berbagai alasan.
Seharusnya masyarakat tidak perlu pernah berada di situasi yang sama dengan korban hanya untuk bisa berempati. Empati terhadap korban kekerasan seksual juga semestinya tak cuma datang karena kesamaan gender. Sikap masyarakat yang lebih baik diharapkan membantu proses pemulihan korban kekerasan seksual.
2. Sebaliknya, pelaku merasa dibela dan meningkatkan potensi kasus serupa

ilustrasi korban kekerasan seksual (freepik.com/krakenimages.com) Ini yang masih kurang dipahami oleh masyarakat. Rantai kekerasan seksual menjadi lebih sulit diputus apabila masyarakat suka menghakimi korban. Sekalipun masyarakat tidak secara terang-terangan membenarkan perbuatan pelaku, pesan tersirat begitu kuat.
Contoh, masyarakat menyalahkan pakaian korban. Walaupun pakaiannya tak tertutup rapat seharusnya bukan berarti ia boleh diperlakukan dengan seenaknya oleh orang lain. Apalagi seseorang sampai menjadi korban kekerasan seksual.
Begitu pula kalau korbannya anak yang sedang bermain sendirian di luar rumah. Memang seharusnya ada orangtua atau pengasuh lain yang mengawasinya. Akan tetapi, sikap masyarakat yang terlalu menyudutkan korban serta orangtua justru seolah-olah menjadi pembenaran bagi orang yang sudah punya niat jahat. Pikir mereka, anak yang terlihat sendirian berarti boleh dijahati.
3. Menggeser fokus ke memperberat hukuman pelaku

ilustrasi kekerasan seksual (pexels.com/Tima Miroshnichenko) Alih-alih masyarakat menyalahkan korban seharusnya lebih fokus ke jerat hukum bagi pelaku. Di Indonesia hukuman untuk pelaku kekerasan seksual terbilang rendah. Hukuman hanya beberapa tahun padahal trauma korban seumur hidup.
Pun pelaku keluar dari penjara masih muda sehingga berpotensi mengulangi kembali kejahatannya. Misalnya, usia pelaku ketika diadili 20 tahun. Hukumannya hanya 10 tahun penjara.
Setelah asa tahanan dikurangi beberapa kali remisi, ia dapat bebas sebelum umur 30 tahun. Tanpa mengecilkan usaha pihak-pihak terkait untuk mengubahnya menjadi pribadi yang lebih baik, tapi potensi ia melakukan perbuatan serupa masih amat besar. Masyarakat semestinya dapat lebih memperhatikan masalah ini untuk mendorong pemerintah membuat peraturan yang lebih tegas serta berpihak pada korban.
4. Kepedulian dan kewaspadaan masyarakat sekitar menjadi rendah

ilustrasi korban kekerasan seksual (pexels.com/Polina Tankilevitch) Baik orang yang berniat jahat maupun target korbannya sama-sama ada di tengah masyarakat. Ini artinya, peran setiap orang menjadi sangat penting. Jangan sampai kepedulian masyarakat perlahan-lahan memudar karena santernya suara yang menyalahkan korban.
Contohnya, di lingkungan tempat tinggal ada remaja dengan disabilitas intelektual. Orangtuanya tidak bisa selalu di rumah dan menemaninya karena harus bekerja. Maka tetangga sekitar perlu memperhatikan aktivitas remaja tersebut dan siapa saja yang mendekatinya.
Bila masyarakat terbiasa berpikir salah sendiri remaja dengan disabilitas gak ditunggui orangtuanya, ancaman bahaya sewaktu-waktu atas dirinya menjadi tinggi sekali. Sebaliknya kalau masyarakat punya kesadaran bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga maka potensi kejahatan menurun. Sikap menyalahkan korban atau keluarganya menciptakan pola pikir masa bodoh.
5. Bervariasinya korban kekerasan seksual menunjukkan mereka tidak bersalah

ilustrasi korban kekerasan seksual (pexels.com/Andrea Piacquadio) Tidak ada alasan yang pantas untuk siapa pun menyalahkan korban kekerasan seksual. Segala bentuk perampasan kemerdekaan manusia atas diri, hidup, dan harta bendanya tak bisa dibenarkan. Apalagi dalam kasus kekerasan seksual tampak siapa pun dapat menjadi korbannya.
Jenis kelamin korban tidak hanya perempuan. Usianya juga mulai dari anak-anak hingga lansia. Hubungan antara korban dengan pelaku pun bervariasi. Bahkan kekerasan seksual sering dilakukan oleh orang terdekat korban.
Orang yang seharusnya memiliki tanggung jawab melindunginya. Tempat kejadian juga bermacam-macam. Termasuk lingkungan pendidikan yang semestinya sangat aman bagi peserta didik. Waktu kejadian pun tak melulu di malam hari. Siang bolong juga banyak kejadian serupa.
Berhenti menyalahkan korban merupakan langkah yang tepat untuk mendukung pemulihan fisik dan mentalnya. Sekaligus menumbuhkan kepedulian masyarakat terhadap potensi kekerasan seksual di sekitarnya. Kehidupan korban pasca peristiwa tersebut sudah sangat berat. Siapa pun tak perlu menambahi penderitaannya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)










.jpg)












