Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Novel Klasik dengan Nuansa Romantis Mirip Pride and Prejudice
Pride and Prejudice (dok. Focus Features/Pride and Prejudice)
  • Lima novel klasik direkomendasikan bagi penggemar Pride and Prejudice karena memadukan romansa dengan isu kelas sosial, reputasi, keluarga, dan aturan masyarakat.
  • The Age of Innocence, Jane Eyre, North and South, serta Far from the Madding Crowd menampilkan perempuan berprinsip dan hubungan yang berkembang di tengah tekanan sosial.
  • Sense and Sensibility menawarkan gaya khas Jane Austen melalui kisah Elinor dan Marianne Dashwood yang menghadapi ketidakpastian finansial, cinta, serta aturan pernikahan era Georgian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau menyukai Pride and Prejudice, kemungkinan besar kamu juga akan menikmati novel klasik yang tidak hanya mengandalkan kisah cinta. Salah satu daya tarik terbesar novel Jane Austen adalah bagaimana romansa dibangun bersamaan dengan persoalan kelas sosial, reputasi, keluarga, dan aturan masyarakat. Hubungan para tokohnya pun biasanya berkembang perlahan.

Kabar baiknya, ada banyak novel klasik lain yang menawarkan atmosfer serupa. Beberapa menghadirkan pasangan dengan hubungan penuh tarik-ulur, sementara lainnya menampilkan perempuan mandiri yang harus berhadapan dengan ekspektasi masyarakat. Berikut lima novel klasik dengan nuansa romantis mirip Pride and Prejudice yang bisa menjadi pilihan bacaan berikutnya.

1. The Age of Innocence — Edith Wharton

The Age of Innocence (goodreads.com)

The Age of Innocence membawa pembaca ke kalangan elit New York pada tahun 1870-an, ketika kehidupan sosial sangat dipengaruhi oleh aturan dan reputasi. Newland Archer adalah pria yang hidup sesuai dengan harapan lingkungannya dan telah memiliki masa depan yang dianggap sempurna. Namun, semuanya mulai berubah ketika Countess Ellen Olenska muncul.

Ellen adalah perempuan yang berpisah dari suaminya dan berani mempertanyakan aturan sosial yang selama ini dianggap mutlak. Seperti Jane Austen, Edith Wharton menggunakan kisah cinta untuk mengamati bagaimana masyarakat mengatur kehidupan pribadi seseorang. Perasaan antara Newland dan Ellen tidak bisa begitu saja dibiarkan berkembang karena ada keluarga, status sosial, dan reputasi yang ikut dipertaruhkan.

2. Jane Eyre — Charlotte Brontë

Jane Eyre (hachettebookgroup.com)

Jane Eyre memiliki suasana yang lebih gelap dibandingkan dengan Pride and Prejudice, tetapi keduanya sama-sama menghadirkan tokoh perempuan yang cerdas, kuat, dan tidak mudah menyerahkan prinsipnya. Jane tumbuh sebagai seorang yatim piatu dalam kondisi yang sulit dan harus menghadapi berbagai perlakuan tidak adil sejak kecil.

Ketika kemudian bekerja sebagai governess di Thornfield Hall, ia bertemu Edward Rochester, pemilik rumah yang misterius dan sulit ditebak. Pertemuan tersebut menjadi awal dari hubungan yang penuh ketegangan sekaligus perasaan yang semakin dalam.

Daya tarik utama Jane bukan sekadar kisah cintanya, melainkan keberaniannya mempertahankan harga diri dan kebebasan. Ia tidak mau menerima kehidupan yang bertentangan dengan nilai-nilai yang diyakininya, bahkan ketika keputusan tersebut membuat hidupnya semakin sulit. Hal ini mengingatkan pada Elizabeth Bennet yang juga berani mengatakan tidak dan mempertanyakan aturan sosial di sekitarnya.

3. North and South — Elizabeth Gaskell

North and South (penguinrandomhouse.com)

Dalam North and South, Margaret Hale harus meninggalkan kehidupan nyaman di pedesaan Inggris dan pindah ke sebuah kota industri di bagian utara. Perubahan lingkungan tersebut membuat Margaret berhadapan dengan kehidupan yang sangat berbeda dari apa yang selama ini ia kenal. Di sana, ia bertemu John Thornton, seorang pemilik pabrik yang tegas dan memiliki pandangan hidup yang bertolak belakang dengannya.

Pada awalnya, Margaret justru merasa tidak menyukai Thornton dan segala sesuatu yang ia wakili. Namun, seperti hubungan Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy, perasaan Margaret dan Thornton perlahan berubah seiring mereka semakin mengenal satu sama lain. Elizabeth Gaskell juga tidak menjadikan romansa sebagai satu-satunya fokus karena ia menggambarkan perubahan sosial dan konflik antara pemilik pabrik dan pekerja.

4. Far from the Madding Crowd — Thomas Hardy

Far from the Madding Crowd (hardysociety.org)

Berbeda dari sebagian besar kisah romantis klasik yang berpusat pada pencarian pasangan, Far from the Madding Crowd menempatkan seorang perempuan mandiri sebagai pusat cerita. Bathsheba Everdene mewarisi sebuah peternakan dan memutuskan untuk mengelolanya sendiri. Ia digambarkan sebagai perempuan cantik, ambisius, dan tidak ingin hidup hanya berdasarkan keputusan orang lain.

Sikapnya tersebut kemudian menarik perhatian beberapa pria dengan kepribadian dan niat yang sangat berbeda. Salah satu tokoh yang paling menonjol adalah Gabriel Oak, seorang penggembala yang setia dan memiliki hubungan yang berkembang secara perlahan dengan Bathsheba.

Seperti Elizabeth Bennet, Bathsheba bukan karakter yang mudah dikendalikan oleh ekspektasi masyarakat. Ia memiliki keinginan sendiri, tetapi dalam perjalanannya harus belajar menghadapi konsekuensi dari keputusan yang dibuatnya.

5. Sense and Sensibility — Jane Austen

Sense and Sensibility (janeaustens.house)

Jika ingin mendapatkan kembali rasa khas Pride and Prejudice, Sense and Sensibility tentu menjadi pilihan paling mudah. Novel ini mengikuti kakak beradik Elinor dan Marianne Dashwood yang harus menghadapi masa depan yang tidak pasti setelah kondisi finansial keluarga mereka berubah. Keduanya kemudian harus beradaptasi dengan aturan sosial dan dunia pernikahan di Inggris pada era Georgian.

Meski bersaudara, cara mereka menghadapi cinta sangat berbeda. Elinor lebih berhati-hati dan mengandalkan logika, sedangkan Marianne cenderung mengikuti perasaan dan emosinya. Perbedaan tersebut membuat hubungan, konflik, dan pilihan romantis mereka menjadi menarik untuk diikuti.

Seperti Pride and Prejudice, Jane Austen menyelipkan humor, dialog tajam, serta kritik terhadap aturan sosial tanpa membuat ceritanya terasa berat. Bagi yang sudah jatuh cinta pada gaya Austen melalui Elizabeth dan Darcy, Sense and Sensibility bisa terasa seperti kembali ke rumah lama dengan karakter dan cerita berbeda.

Kelima novel klasik dengan nuansa romantis mirip Pride and Prejudice menawarkan kisah menarik tersendiri. Jadi, kalau sedang mencari novel klasik dengan romansa elegan, konflik sosial, dan hubungan yang berkembang perlahan, novel nomor berapa yang kira-kira ingin kamu baca terlebih dahulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article