Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Novel Klasik yang Terlihat Boring tetapi Layak Dibaca Ulang

5 Novel Klasik yang Terlihat Boring tetapi Layak Dibaca Ulang
ilustrasi buku 1984 (pexels.com/Edward Eyer)
  • Lima novel klasik dinilai layak dibaca ulang karena bahasa kuno, alur lambat, atau struktur rumit dapat terasa berbeda seiring perubahan usia dan sudut pandang pembaca.
  • Pale Fire, Crime and Punishment, dan Moby Dick menonjol lewat narator tak tepercaya, konflik batin rasa bersalah, serta obsesi Kapten Ahab di tengah detail teknis pelayaran.
  • 1984 membahas pengawasan totaliter dan manipulasi informasi, sementara Slaughterhouse-Five memadukan perang, perjalanan waktu, humor absurd, serta perenungan tentang kebebasan dan kematian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Novel klasik sering kali punya reputasi yang cukup menantang. Bahasa yang terasa kuno, cerita yang berjalan lebih lambat, atau halaman yang dipenuhi deskripsi panjang bisa membuat pembaca modern cepat kehilangan minat. Tidak heran jika beberapa buku terkenal justru pernah ditinggalkan setelah membaca beberapa bab.

Namun, sebuah novel bisa terasa sangat berbeda ketika dibaca kembali di usia dan kondisi yang berbeda. Kita mungkin lebih mampu memahami konteks zamannya atau justru menemukan persoalan yang ternyata masih relevan sampai sekarang. Karena itu, beberapa novel klasik yang terlihat boring tetapi layak dibaca ulang berikut ini pantas diberi kesempatan kedua.

  1. 1. “Pale Fire” — Vladimir Nabokov

    Pale Fire.
    Pale Fire (goodreads.com)

    Vladimir Nabokov memang lebih dikenal lewat Lolita, tetapi Pale Fire menawarkan pengalaman membaca yang jauh lebih eksperimental. Novel ini tidak disusun seperti cerita konvensional dengan alur yang mudah diikuti dari awal sampai akhir. Buku tersebut terdiri dari sebuah puisi panjang karya tokoh fiktif bernama John Shade, kemudian diikuti oleh catatan dan komentar dari Charles Kinbote.

    Struktur seperti ini bisa terasa membingungkan, terutama bagi pembaca yang mengharapkan cerita lurus dengan konflik yang jelas. Justru kebingungan tersebut merupakan bagian dari daya tarik Pale Fire. Pembaca terus mempertanyakan apakah naratornya bisa dipercaya dan apakah semua informasi yang diberikan benar-benar seperti yang terlihat.

  2. 2. “Crime and Punishment” — Fyodor Dostoevsky

    Crime and Punishment.
    Crime and Punishment (goodreads.com)

    Membaca novel karya Fyodor Dostoevsky memang membutuhkan sedikit kesabaran, apalagi bagi pembaca yang belum terbiasa dengan karya sastra Rusia abad ke-19. Selain gaya bahasa yang bergantung pada terjemahan, ceritanya juga banyak menghabiskan waktu untuk menggali pikiran dan konflik batin tokoh.

    Crime and Punishment bukan sekadar cerita tentang seseorang yang melakukan pembunuhan, melainkan perjalanan panjang mengenai rasa bersalah, moralitas, dan konsekuensi dari sebuah keputusan. Bagi sebagian pembaca, pendekatan psikologis seperti ini mungkin terasa lambat.

    Namun, di situlah kekuatan utama novel ini. Dostoevsky membawa pembaca masuk ke dalam pikiran Raskolnikov dan memperlihatkan bagaimana sebuah tindakan dapat menghancurkan ketenangan seseorang dari dalam. Rasa bersalah dalam novel ini terasa sangat manusiawi karena tidak digambarkan secara sederhana sebagai sekadar takut tertangkap.

  3. 3. “Moby Dick” — Herman Melville

    Moby Dick.
    Moby Dick (goodreads.com)

    Moby Dick mungkin menjadi salah satu novel yang paling sering disebut ketika orang membicarakan buku klasik yang sulit diselesaikan. Ceritanya sebenarnya cukup menarik: Ishmael ikut berlayar bersama Kapten Ahab dalam perburuan obsesif terhadap seekor paus putih raksasa bernama Moby Dick.

    Ada petualangan, karakter-karakter unik, konflik, dan kisah balas dendam yang kemudian menjadi salah satu cerita paling ikonik dalam sastra Amerika. Masalahnya, novel ini juga dipenuhi halaman yang membahas berbagai hal teknis tentang paus, kapal, laut, dan kehidupan para pelaut.

    Bagian-bagian tersebut memang bisa membuat pembaca bertanya-tanya mengapa mereka perlu mengetahui begitu banyak informasi tentang perburuan paus. Namun, jika dibaca sebagai gambaran kehidupan dan pengetahuan pada abad ke-19, bagian tersebut justru memberikan pengalaman yang menarik. Selain itu, karakter Kapten Ahab dan obsesinya masih terasa kuat bahkan setelah lebih dari satu abad.

  4. 4. “1984” — George Orwell

    1984.
    1984 (goodreads.com)

    Sekilas, 1984 mungkin terasa seperti novel yang cukup berat karena dipenuhi konsep politik dan gambaran dunia distopia yang suram. George Orwell membawa pembaca ke sebuah masyarakat yang dikendalikan oleh pemerintahan totaliter dengan pengawasan hampir di setiap aspek kehidupan. Tokoh utamanya, Winston Smith, mulai mempertanyakan sistem tersebut dan mencoba menemukan ruang untuk berpikir secara bebas.

    Alurnya mungkin tidak langsung terasa seperti thriller modern, tetapi ketegangan perlahan meningkat seiring Winston semakin berani melawan aturan. 1984 layak dibaca ulang karena banyak gagasannya masih terasa relevan. Orwell tidak hanya bercerita tentang sebuah pemerintahan fiktif, tetapi juga mengeksplorasi bagaimana informasi dapat dimanipulasi dan bagaimana bahasa bisa digunakan untuk memengaruhi cara manusia berpikir.

  5. 5. “Slaughterhouse-Five” — Kurt Vonnegut

    Slaughterhouse-Five.
    Slaughterhouse-Five (penguinrandomhouse.com)

    Jika ada novel dalam daftar ini yang sebenarnya jauh dari kata membosankan, Slaughterhouse-Five adalah salah satunya. Kurt Vonnegut mencampurkan fiksi ilmiah, humor absurd, pengalaman perang, perjalanan waktu, hingga perenungan tentang kematian dalam satu cerita. Tokoh utamanya, Billy Pilgrim, mengalami kehidupan yang bergerak tidak linier sehingga pembaca bisa tiba-tiba berpindah dari satu periode waktu ke periode lainnya.

    Di balik keanehannya, Slaughterhouse-Five menyimpan pembahasan serius tentang kebebasan manusia. Vonnegut juga mampu menyelipkan humor di tengah situasi yang sangat gelap sehingga ceritanya tidak terasa terlalu berat. Dibandingkan dengan beberapa novel klasik lain, buku ini relatif mudah dibaca setelah pembaca terbiasa dengan strukturnya yang tidak biasa.

    Novel klasik memang tidak selalu bisa langsung dinikmati dalam sekali baca. Membaca ulang memberi kesempatan untuk menemukan makna yang mungkin dulu belum terlihat karena pengalaman dan sudut pandang kita sudah berubah. Dari kelima novel klasik yang terlihat boring tetapi layak dibaca ulang, mana yang ingin kamu beri kesempatan kedua?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More