Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Novel untuk Memahami Keputusan Seseorang Jadi Single
novel tentang lajang (dok. NYRB/Lolly Willowes | dok. Daunt Publishing/Rhine Journey)
  • Artikel menyoroti stigma terhadap lajang, padahal status ini bisa terjadi karena belum bertemu pasangan tepat atau karena hubungan romantis bukan lagi tujuan utama hidup.
  • Convenience Store Woman, Later Bloom, dan Lolly Willowes menggambarkan perempuan lajang yang menghadapi tekanan sosial, kegelisahan pribadi, hingga pencarian kenyamanan, kebebasan, dan kebahagiaan.
  • Gaining Ground dan Rhine Journey menawarkan perspektif berbeda tentang hidup sendiri: ada tokoh yang merengkuh kebebasan tanpa penyesalan, serta tokoh yang bergulat dengan amarah dan penyesalan masa lalu.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada stigma tertentu yang melekat pada seorang dengan status lajang. Mulai dari kesepian, hidupnya hampa, mudah marah, egois, sampai punya sifat buruk tertentu yang membuat mereka sulit menjalin hubungan asmara. Padahal, status lajang seseorang kerap kali tidak bisa dijelaskan. Bisa karena kebetulan belum bertemu orang yang tepat, atau memang seiring berjalannya waktu tidak lagi menjadikan pernikahan atau hubungan asmara sebagai tujuan akhir hidup.

Agar lebih bijak melihat seseorang yang memilih atau sedang melajang, bolehlah kamu baca lima novel berikut. Semua protagonisnya kebetulan perempuan, nih, pas buat kamu yang punya ketertarikan khusus pada isu-isu feminisme.

1. Convenience Store Woman (Sayaka Murata)

Convenience Store Woman karya Sayaka Murata (dok. Gramedia Pustaka Utama/Convenience Store Woman)

Keiko adalah perempuan 36 tahun yang “gagal” memenuhi ekspektasi sosial. Ia masih berstatus staf minimarket setelah 18 tahun bekerja, belum menikah, apalagi punya anak. Ini membuatnya tampak aneh di mata orang-orang di sekitarnya. Saat orang mulai menyenggol kehidupan personal dan karier Keiko, ia mencoba sekuat tenaga untuk mengikuti arahan orang. Sampai ia sadar kebahagiaan dan kenyamanan hidup itu sudah ia dapat selama ini, meski tak sejalan dengan standar masyarakat luas.

2. Later Bloom (Laurie D.R.)

Later Bloom karya Laurie D. R. (dok. Laurie D.R./Later Bloom)

Pada usia 28 tahun, Aubrey masih melajang. Ia bahkan belum pernah menjalin hubungan romantis seperti kebanyakan orang. Rasa gusar menghampirinya. Apakah ini salahnya karena tak memberi kesempatan pada seseorang yang pernah datang? Masih dihantui masa lalu, Aubrey memutuskan untuk pindah ke Nova Scotia untuk menjalankan bisnis penginapan bersama bibinya. Mungkin di sini jawaban akan tiba.

3. Lolly Willowes (Sylvia Townsend Warner)

Lolly Willowes karya Sylvia Townsend Warner (dok. NYRB/Lolly Willowes)

Laura adalah perempuan paruh baya yang selama ini tinggal bersama kerabatnya yang sudah berkeluarga. Ia dipanggil Bibi Lolly oleh keponakan-keponakannya. Semua baik-baik saja sampai Laura merasakan kejenuhan yang berbeda. Ia memutuskan untuk pergi dari rumah itu dan hidup sendiri di tengah hutan. Keputusannya dianggap gegabah dan bodoh, tetapi Laura justru menemukan kebahagiaan dan kebebasan sesungguhnya pada fase itu. Memadukan genre fantasi dan satire, ini novel yang bikin kamu berhenti menghakimi para jomblo.

4. Gaining Ground (Joan Barfoot)

Gaining Ground karya Joan Barfoot (dok. Faber & Faber/Gaining Ground)

Kalau pernah baca The Lost Daughter karya Elena Ferrante atau nonton adaptasi filmnya, kamu mungkin bisa menebak jalan cerita novel ini. Gaining Ground berkutat pada keputusan seorang perempuan meninggalkan suami dan anak-anaknya. Ia memutuskan untuk hidup sendiri di sebuah kabin dan merengkuh kebebasan yang selama ini tak pernah ia cecap. Namun, tidak seperti The Lost Daughter, novel ini tidak menceritakan penyesalan sang lakon. Ia memaksamu untuk melihat keputusan si lakon dengan lebih terbuka dan kritis, bukan menghakiminya sepihak.

5. Rhine Journey (Ann Schlee)

Rhine Journey karya Ann Schlee (dok. Daunt Publishing/Rhine Journey)

Rhine Journey agak lain. Elemen penyesalan dan amarahnya cukup lugas, tetapi menarik untuk dikupas. Premisnya tentang Charlotte, perempuan paruh baya yang belum pernah menikah. Satu hari saat melakoni perjalanan dengan kerabatnya, ia tak sengaja berpapasan dengan seseorang yang mengingatkannya kepada cinta masa lalunya. Dari sini gejolak batin menyeruak, memaksa kita untuk melihat perspektif seorang lajang yang menyesali pilihan dan prioritasnya bertahun-tahun lalu.

Tak semua lajang bersedih dan kesepian, tetapi tak semua pula sebenarnya melajang karena pilihan. Beragam perspektif dan kemungkinan dari kondisi ini berhasil dipotret dalam deretan novel di atas. Jadikan bahan untuk belajar jadi manusia yang lebih bijak, yuk!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article