Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Orang yang Cuek pada Isu Sosial Tidak Punya Empati?

4 min read
Benarkah Orang yang Cuek pada Isu Sosial Tidak Punya Empati?
ilustrasi media sosial (unsplash.com/Sweet Life)
  • Ketidaktahuan terhadap isu sosial tidak otomatis menandakan minim empati; penilaian bergantung pada sikap seseorang setelah menerima informasi tentang masalah tersebut.
  • Sikap empati lebih patut dipertanyakan ketika seseorang sudah memahami penderitaan atau ketidakadilan, tetapi menganggapnya bukan urusan pribadi dan menolak peduli.
  • Diam di media sosial bukan bukti tidak berempati, karena kepedulian dapat diwujudkan lewat bantuan nyata tanpa unggahan atau komentar publik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Saat isu sosial sedang ramai, biasanya terlihat jelas siapa yang ikut membahas dan siapa yang tetap menjalani hari seperti biasa. Ada yang membaca berita, mencari tahu apa yang terjadi, lalu ikut menyuarakan pendapat, sementara yang lain bahkan gak tahu kalau sedang ada persoalan besar.

Sikap yang kedua ini sering dianggap sebagai tanda seseorang gak punya empati, terutama ketika masalah yang dibicarakan menyangkut kehidupan banyak orang. Sebenarnya, apakah orang yang cuek pada isu sosial tidak punya empati? Penjelasan di bawah ini akan memaparkan apakah orang yang cuek pada isu sosial memang bisa langsung disebut gak punya empati.

  1. 1. Belum tahu isunya, jadi belum bisa langsung disebut nirempati

    ilustrasi ngobrol
    ilustrasi ngobrol (pexels.com/www.kaboompics.com)

    Orang yang gak mengikuti berita belum tentu tahu kalau sebuah masalah sedang terjadi. Misalnya, seseorang yang jarang membuka media sosial bisa saja gak mengetahui adanya bencana, konflik kebijakan, atau persoalan yang sedang ramai dibicarakan sampai ada orang yang memberitahunya. Dalam kondisi seperti ini, sulit menyebut dia gak punya empati hanya karena sebelumnya gak ikut membahas sesuatu yang memang belum dia ketahui.

    Penilaiannya baru bisa berbeda setelah informasi tersebut sampai kepadanya. Kalau setelah tahu dia ikut memahami keadaan atau setidaknya mengakui bahwa masalah tersebut serius, ketidaktahuan sebelumnya gak bisa dijadikan bukti bahwa dia nirempati. Sebaliknya, kalau sudah tahu tetapi langsung menolak untuk peduli, persoalannya sudah bukan lagi sekadar kurang informasi.

  2. 2. Tahu masalahnya, tetapi memilih gak peduli

    ilustrasi ngobrol
    ilustrasi ngobrol (pexels.com/RDNE Stock project)

    Sikapnya berbeda ketika seseorang sudah mengetahui ada orang lain yang sedang dirugikan, tetapi memang gak merasa perlu peduli. Dia membaca beritanya, memahami apa yang terjadi, bahkan mungkin melihat orang lain membicarakannya, tetapi memilih melewati begitu saja karena merasa itu bukan urusannya. Di sini, alasan “gak tahu” sudah gak bisa digunakan untuk menjelaskan sikap tersebut.

    Seseorang memang gak harus ikut menyampaikan pendapat tentang setiap isu yang muncul. Namun, ada perbedaan antara gak ingin berkomentar dan benar-benar menganggap penderitaan orang lain gak penting. Kalau seseorang tahu ada kelompok yang sedang mengalami masalah, tetapi reaksinya hanya “biarin saja, bukan urusanku”, sikap tersebut memang lebih masuk akal untuk dipertanyakan dari sisi empati.

  3. 3. Baru peduli kalau masalahnya menimpa diri sendiri

    ilustrasi pajak
    ilustrasi pajak (pexels.com/Leeloo The First)

    Ada pula orang yang baru menunjukkan kepedulian ketika persoalan yang sebelumnya dia abaikan akhirnya masuk ke kehidupannya sendiri. Ketika orang lain kehilangan pekerjaan, dia biasa saja, tetapi ketika dirinya terkena PHK, isu ketenagakerjaan mendadak terasa sangat penting. Begitu pula dengan persoalan lain seperti biaya pendidikan, harga kebutuhan pokok, transportasi, atau aturan tertentu yang baru dianggap merugikan setelah dirinya ikut terdampak.

    Kondisi seperti ini gak otomatis berarti seseorang sama sekali gak punya empati, tetapi bisa menunjukkan bahwa kepeduliannya sangat bergantung pada kepentingan pribadi. Dia lebih mudah memahami kesulitan setelah merasakan sendiri daripada ketika masalah tersebut dialami orang lain. Kalau seseorang hanya mau memperhatikan sebuah persoalan ketika dirinya terkena dampaknya, wajar kalau orang mempertanyakan seberapa jauh kepeduliannya terhadap orang lain.

  4. 4. Menganggap masalah orang lain sebagai “bukan urusan gue”

    ilustrasi ngobrol
    ilustrasi ngobrol (pexels.com/August de Richelieu)

    Kalimat “bukan urusan gue” bisa memiliki arti yang berbeda dari sekadar gak mengikuti berita. Orang yang gak mengikuti berita mungkin memang kurang tahu, sedangkan orang yang berkata demikian biasanya sudah mengetahui persoalannya, tetapi memilih tidak mau terlibat. Misalnya, dia tahu ada orang yang diperlakukan gak adil, tahu masalah tersebut bisa berdampak buruk, tetapi merasa gak perlu melakukan apa pun selama dirinya aman.

    Sikap seperti ini bisa menjadi masalah ketika seseorang sebenarnya mampu membantu, tetapi sengaja memilih berpaling karena merasa gak ada keuntungan yang dia dapatkan. Empati memang gak berarti harus turun tangan dalam semua persoalan, apalagi ketika seseorang memang gak punya kemampuan untuk membantu. Namun, sama sekali gak mau mengakui kesulitan orang lain hanya karena bukan dirinya yang mengalami adalah bentuk sikap abai yang berbeda dari sekadar cuek terhadap berita.

  5. 5. Gak banyak bicara, tetapi tetap melakukan sesuatu

    ilustrasi donasi
    ilustrasi donasi (pexels.com/Julia M Cameron)

    Di sisi lain, orang yang gak terlihat aktif membicarakan isu sosial belum tentu benar-benar gak peduli. Seseorang bisa saja gak membuat unggahan, gak ikut debat di kolom komentar, dan gak membagikan berita apa pun, tetapi tetap membantu ketika melihat orang lain membutuhkan pertolongan. Misalnya, dia memilih menyumbang ketika terjadi bencana, membantu tetangga yang kesulitan, atau ikut kegiatan penggalangan dana tanpa merasa perlu mengumumkannya di media sosial.

    Hal seperti ini berbeda dengan orang yang sudah tahu masalahnya, tetapi memang menolak untuk peduli. Empati gak harus selalu terlihat dalam bentuk opini yang panjang atau unggahan yang ramai. Karena itu, menilai seseorang hanya dari seberapa sering dia bersuara di media sosial juga bisa membuat penilaiannya keliru.

    Gak semua orang yang cuek pada isu sosial tidak punya empati, tetapi diam juga gak selalu berarti peduli. Perbedaannya terlihat ketika seseorang sudah tahu ada orang lain yang sedang menghadapi masalah dan bagaimana dia memilih bersikap setelah mengetahuinya. Menurutmu, kapan sikap cuek masih bisa dianggap biasa dan kapan sudah menunjukkan bahwa seseorang memang gak punya empati?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More