Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
3 Penyebab Seseorang Gak Berani Mengambil Keputusan dalam Hidup
ilustrasi seseorang yang merasa gelisah (pexels.com/Alex Green)
  • Kesulitan mengambil keputusan pada usia dewasa dapat berawal dari masa kecil tanpa kesempatan belajar memilih, sehingga seseorang bingung saat diberi kebebasan menentukan jalan hidup.
  • Respons negatif berulang terhadap pilihan mandiri, terutama dari orang terdekat, bisa menurunkan kepercayaan diri dan membuat seseorang merasa tidak pantas menentukan keputusan sendiri.
  • Pengalaman salah mengambil keputusan dengan konsekuensi menyakitkan dapat menimbulkan trauma, sehingga ketakutan mengulangi kesalahan menghambat keberanian untuk memilih kembali.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kehidupan yang dijalani seseorang adalah rangkaian dari beragam keputusan yang diambilnya setiap saat. Keputusan yang diambil hari ini bisa memengaruhi kegiatan hari esok, dan seterusnya. Oleh sebab itu, diperlukan kemampuan analisis yang baik dan kebijaksanaan yang tinggi agar tidak salah dalam menentukan langkah.

Kendati begitu, ada juga yang mengalami kondisi berbeda. Sebagian orang ternyata tidak memiliki keberanian untuk mengambil keputusan untuk diri sendiri meski secara usia sudah dewasa. Lantas, apa yang menyebabkan terjadinya hal semacam ini? Temukan jawabannya dalam artikel berikut, ya!

1. Sejak kecil tidak pernah diajari untuk membuat keputusan sendiri

ilustrasi seseorang yang sedang bingung (pexels.com/Monstera)

Kepiawaian seseorang dalam menentukan setiap langkah hidupnya tentu tidak terjadi begitu saja. Sebelum sampai pada level tersebut, ada pengalaman panjang yang harus dilewati terlebih dahulu dan dimulai sejak usia dini. Prosesnya sama sekali tidak mudah karena terkadang harus menghadapi fase jatuh bangun yang sangat melelahkan.

Jika ada orang dewasa yang kesulitan untuk mengambil keputusan meski untuk dirinya sendiri, kemungkinan dia memang tidak pernah ada pengalaman dalam melakukan hal tersebut. Bisa saja bahwa sejak kecil, dia tidak pernah diberi kebebasan untuk memilih, entah karena semua telah disediakan dan tinggal menjalani, atau sebaliknya, sama sekali tidak ada pilihan, sehingga malah bingung saat diberi keleluasaan untuk menentukan jalannya sendiri. Kalau kasusnya begini, tentu perlu waktu untuk mulai belajar berani mengambil sebuah pilihan.

2. Selalu mendapatkan respons negatif setiap kali mengambil keputusan secara mandiri

ilustrasi merasa dihakimi (pexels.com/Yan Krukov)

Kalau pada poin pertama telah dijelaskan bahwa seseorang kesulitan dalam mengambil keputusan karena memang tidak pernah dilatih sejak kecil, poin kedua ini memberikan alasan yang berbeda. Seseorang ternyata juga dapat merasa takut dalam menentukan pilihan hidup bukan karena tidak pernah mencoba, lho. Dia sudah berusaha memilih, bahkan berkali-kali, tetapi pilihannya selalu direspons negatif, terutama oleh orang-orang yang seharusnya menjadi bagian dari support system kehidupannya.

Penolakan berulang seperti ini jelas membuat rasa percaya diri menjadi rendah. Orang itu akan memiliki keyakinan bahwa dirinya tidak pantas untuk membuat sebuah keputusan, sekali pun untuk kepentingan dirinya sendiri. Menyedihkan, bukan begitu?

3. Pernah merasakan konsekuensi menyakitkan akibat salah ambil keputusan

ilustrasi menyesal (pexels.com/Alex Green)

Alasan terakhir seseorang merasa takut dalam mengambil keputusan adalah adanya pengalaman menyakitkan. Orang itu awalnya baik-baik saja dan mampu memilih setiap langkah dengan tepat. Namun, ada masa di mana dia dihadapkan dengan pilihan besar yang akan memberikan dampak nyata dalam kehidupannya. Sayang sekali, ternyata dia gagal menentukan mana yang benar, sehingga harus merasakan konsekuensi yang menyakitkan.

Peristiwa seperti ini jelas menjadi trauma yang tidak mudah untuk disembuhkan. Tidak menutup kemungkinan, seseorang akan memerlukan proses yang lama untuk bangkit. Selama ketakutan akan terulangnya kesalahan yang sama itu masih membayangi, maka selama itu pula keberanian untuk mengambil keputusan belum akan muncul kembali.

Kalau kamu menemui orang dewasa yang tidak berani mengambil keputusan meski untuk dirinya sendiri, jangan lekas menghakimi, ya. Sebaliknya, cobalah mengerti keadaannya dan bila memungkinkan berikan bantuan sesuai kapasitasmu. Menunjukkan sedikit empati tidak akan membuatmu rugi, kan?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article