Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Penyebab Takut Latihan Mengendarai Motor dan Mobil

Penyebab Takut Latihan Mengendarai Motor dan Mobil
ilustrasi menyetir (pexels.com/Emre Kalyoncu)
  • Lalu lintas yang makin ramai, macet, dan berisiko kecelakaan membuat sebagian orang takut berlatih mengendarai kendaraan sendiri.
  • Motor roda dua dianggap rentan jatuh dan cedera, sementara pengalaman menyaksikan kecelakaan parah dapat memicu trauma serta ketakutan berkendara.
  • Ketiadaan kebutuhan mendesak, kenyamanan memakai transportasi umum atau diantar, serta takut menabrak orang membuat sebagian orang enggan belajar mengemudi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di usiamu sekarang yang sudah 17+, apakah kamu bisa mengendarai motor atau mobil? Saking umumnya orang zaman sekarang punya kendaraan pribadi, kedengarannya memang mustahil masih ada orang yang sama sekali tidak dapat berkendara. Dirimu pasti seketika bertanya-tanya, bagaimana caranya menjalani hari jika begitu?

Jangan-jangan dia tipe orang yang sangat manja dan ke mana pun minta diantar-jemput. Gak separah itu sih, sebenarnya. Tak sedikit, kok, orang yang tetap bisa beraktivitas normal tanpa perlu berkendara sendiri atau merepotkan orang lain.

Ada lebih banyak pilihan di zaman sekarang untuk sekadar berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Keengganan mereka buat latihan mengendarai motor atau mobil bukan semata-mata soal bisa beli kendaraannya atau gak. Ada penyebab takut latihan mengendarai motor dan mobil yang dirasakan seseorang. Beberapa di antaranya seperti di bawah ini.

  1. 1. Kondisi lalu lintas saat ini sangat ramai

    naik motor
    ilustrasi naik motor (pexels.com/Tiwi Riders)

    Kalau kamu mengalami atau menyaksikan melalui tayangan tentang situasi jalanan di tahun 1990-an, jelas terlihat perbedaannya. Zaman dulu gak seramai sekarang. Masih sedikit orang yang punya dan membawa kendaraan pribadi untuk aktivitas sehari-hari.

    Kebanyakan warga naik kendaraan umum seperti angkot dan bus kota. Meski begitu, jalan yang relatif kosong juga tidak lantas mendorong orang berkendara dengan kecepatan tinggi. Orang-orang seperti hidup dengan irama yang lebih lambat.

    Sementara sekarang, jumlah pengendara makin bertambah sampai jalanan macet. Begitu jalanan longgar sedikit, tiap orang langsung tancap gas seolah-olah dikejar setan. Risiko kecelakaan di jalan raya menjadi sangat tinggi. Beberapa orang melihat pemandangan begini saja ngeri. Apalagi kalau ia mesti berkendara sendiri.

  2. 2. Naik motor roda dua sangat rawan jatuh dan cedera

    Ilustrasi kecelakaan pada sepeda motor
    Ilustrasi kecelakaan pada sepeda motor (pexels.com/Miguel Guerra)

    Beberapa orang lebih memilih latihan berkendara untuk jenis kendaraan tertentu saja. Seperti mau latihan menyetir mobil, tapi gak dengan sepeda motor. Pasalnya, kendaraan roda dua sangat tidak stabil.

    Jangankan motor senggolan dengan kendaraan lain. Tidak ada angin dan hujan, terkadang pengendara dan motornya jatuh sendiri. Seperti roda menabrak lubang atau pengendara kurang dapat menjaga keseimbangan.

    Bagi beberapa orang, risiko kecelakaan saat mengendarai sepeda motor terlalu mengerikan. Lebih enak cuma dibonceng oleh orang lain yang memang sudah ahli mengendalikan motor. Atau, naik mobil yang lebih melindungi seluruh penumpang di dalamnya.

  3. 3. Tidak terdesak oleh kebutuhan

    mengemudi
    ilustrasi mengemudi (pexels.com/Airam Dato-on)

    Memangnya ada orang di zaman sekarang yang kurang butuh ke mana-mana naik kendaraan sendiri? Tentu saja ada. Terutama mereka yang aktivitas utamanya di dalam rumah. Bahkan bekerja pun dari rumah saja.

    Mereka menjadi kurang termotivasi untuk berlatih mengemudikan kendaraan apa pun. Soal belanja ini itu bisa pilih warung terdekat, bahkan belanja online. Jika pun mereka perlu bepergian agak jauh, ada kendaraan umum dan ojol.

    Pikir mereka, ngapain susah-susah latihan berkendaraan apabila dalam keseharian kemampuannya nyaris tak terpakai? Paling-paling lupa, atau ketika diberi kunci kendaraan pun menjadi ragu untuk membawanya. Bahkan beli kendaraan saja bukan prioritas buat mereka.

  4. 4. Sudah nyaman diantar ke sana kemari atau naik kendaraan umum

    berboncengan
    ilustrasi berboncengan (pexels.com/setengah lima sore)

    Karakter manusia memang agak sulit keluar dari zona nyaman. Termasuk soal membawa kendaraan sendiri, diantar jemput, atau naik kendaraan umum. Jika selama ini seseorang merasa kebutuhannya untuk bepergian sudah terfasilitasi oleh berbagai transportasi umum atau ada orang yang mengantar-jemput, pasti malas buat belajar nyetir.

    Ia tidak melihat adanya urgensi untuk latihan berkendara. Bahkan hitung-hitungan biaya bensin vs kendaraan umum atau ojol pun belum tentu mendorongnya buat latihan naik motor atau mobil. Selama dia masih bisa bayar, terasa bukan masalah.

  5. 5. Pengalaman melihat kecelakaan parah

    ilustrasi kecelakaan di jalan raya
    ilustrasi kecelakaan di jalan raya (pexels.com/Julien)

    Keluar dari rasa trauma memang tidak mudah. Apalagi, trauma menyaksikan langsung kecelakaan lalu lintas dengan kondisi korban yang sangat parah sehingga meninggal dunia di lokasi kejadian. Sekalipun ia dan korban tidak ada hubungan keluarga atau pertemanan, rasanya tetap takut.

    Kalau-kalau kecelakaan serupa menimpanya. Trauma tambah kuat apabila korban tewas dalam kecelakaan merupakan orang terdekatnya. Jangankan dia sendiri belajar berkendara. Ia cuma dibonceng atau disopiri oleh orang lain saja. Rasanya gak tenang.

    Boleh jadi dia sebenarnya masih berani buat latihan berkendara di medan yang relatif aman. Akan tetapi, ia takut bila nanti sewaktu-waktu di jalan ada kecelakaan yang melibatkan kendaraan lain, dia seketika syok dan gak bisa melakukan apa pun. Ia khawatir efek trauma padanya masih belum hilang, bahkan bertambah kuat.

  6. 6. Takut nabrak orang sampai meninggal atau cacat permanen

    jalan raya
    ilustrasi jalan raya (pexels.com/Anh lnarch)

    Penyebab takut latihan mengendarai motor dan mobil yang terakhir adalah takut nabrak orang sampai meninggal atau cacat permanen. Bukan hanya orang yang memiliki pengalaman menyaksikan kecelakaan fatal yang takut berlatih berkendara. Orang yang tidak memiliki pengalaman seperti itu pun masih bisa ketakutan untuk mencoba mengendalikan kendaraan apa pun. Pikirannya dihantui bayangan kalau-kalau ia menabrak orang sampai kondisinya kritis.

    Bahkan sekalipun dia tidak sedang berkendara dengan kecepatan tinggi. Mungkin ia hanya berkendara di kompleks permukiman, tapi tiba-tiba ada anak kecil berlari di tikungan. Atau menabrak orang atau pengendara sepeda ketika ia bermaksud memundurkan kendaraan. Buat sebagian orang, tak mudah membuang bayangan-bayangan menakutkan seperti di atas.

    Bagimu yang lincah ke sana kemari dengan berkendara sendiri, masih adanya orang yang sama sekali tak dapat mengendarai motor atau mobil barangkali terlihat tidak masuk akal. Namun, selama mereka bisa beraktivitas biasa tanpa menjadi beban bagi orang-orang di sekitarnya, tak perlu dipermasalahkan atau diejek. Dapat pula suatu saat nanti mereka berlatih ketika sudah merasa lebih membutuhkannya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More