ilustrasi menikmati hidup (pexels.com/RDNE Stock project)
Ada masa ketika standar hidup yang baik adalah menjadi seragam seperti yang dilakukan orang-orang. Memilih jurusan kuliah, mengejar jenjang karier untuk pekerjaan tertentu, atau menetapkan target hidup karena akan terdengar membanggakan di mata keluarga atau lingkungan. Bahkan saat membayangkan masa depan, yang muncul lebih dulu adalah pertanyaan, "Nanti orang lain bakal bilang apa, ya?" dibandingkan, "Aku sebenarnya mau hidup seperti apa?" Lama-kelamaan, kamu akan menjalani hidup yang terlihat aman layaknya orang lain, tetapi terasa tak sesuai untuk dirimu sendiri.
Ketika luka masa kecil mulai pulih, cara memandang masa depan ikut berubah. Kamu mulai berani mengakui bahwa definisi sukses setiap orang tidak harus sama. Mungkin kamu lebih memilih pekerjaan yang memberi waktu luang dibandingkan dengan jabatan yang bergengsi, ingin tinggal di kota yang lebih tenang, atau memiliki impian sederhana yang dulu terasa tidak cukup membanggakan untuk diucapkan. Bukan berarti kamu berhenti menghargai pendapat orang terdekat, tetapi keputusan yang diambil kini lebih banyak lahir dari keinginan kamu sendiri. Di titik inilah hidup tidak lagi sekadar memenuhi harapan orang lain, melainkan mulai benar-benar menjadi milikmu.
Proses sembuh dari luka masa kecil tidak selalu ditandai oleh perubahan yang signifikan. Sering kali, progresnya justru terlihat dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dulu terasa mustahil, tetapi kini mulai dilakukan tanpa banyak pergulatan batin. Kalau beberapa perubahan yang menandakan luka masa kecil mulai sembuh sudah dirasakan, mungkin perjalananmu untuk pulih sudah berjalan lebih jauh daripada yang selama ini kamu sadari. Dari semua perubahan itu, mana yang paling membuatmu merasa akhirnya bisa sembuh dari luka masa kecil?