Profil Nirmal Purja, Pendaki 14 Gunung Tertinggi di Dunia

- Pendaki Nepal Nirmal Purja dilaporkan meninggal bersama sembilan pendaki lain setelah longsoran salju menerjang ekspedisi Broad Peak di Pakistan pada 30 Juli 2026.
- Lahir di Distrik Myagdi dalam keluarga sederhana, Purja pernah menjadi Gurkha dan tercatat sebagai Gurkha pertama yang lolos ke Special Boat Service Inggris.
- Melalui Project Possible pada 2019, Purja menaklukkan 14 gunung di atas 8.000 meter dalam enam bulan enam hari; rekornya kemudian dipecahkan Kristin Harila dan Tenjen Sherpa pada 2023.
Dunia pendakian tengah berduka. Pendaki gunung asal nepal, Nirmal Purja, dikabarkan meninggal dunia dalam insiden badai salju di Pakistan. Purja dikenal sebagai sosok yang dikenal luas sebagai pemegang rekor pendakian tercepat 14 gunung tertinggi di dunia.
Kematiannya cukup mengejutkan banyak orang, terutama para pendaki. Sosok yang selama ini dikenal sebagai pendaki tangguh tersebut, harus mengembuskan napas terakhirnya ketika sedang melakukan aktivitas yang dicintainya, mendaki gunung.
Bagi para pendaki, sosok Purja bukan sekadar pemegang rekor dunia, melainkan seseorang yang sangat inspiratif. Berikut adalah profil singkat serta perjalanan mengharukan Purja sebagai pendaki.
1. Profil Nirmal Purja

Nirmal Purja lahir pada 25 Juli 1983 di Distrik Myagdi, Nepal. Masa kecil Purja dihabiskan di lingkungan pegunungan Himalaya yang serba sederhana, sehingga terbiasa menjalani kehidupan dengan berbagai keterbatasan ekonomi bersama keluarganya.
Sang ayah merupakan mantan anggota pasukan Gurkha, sementara ibunya bekerja sebagai petani. Kondisi tersebut membuat masa kecil Purja jauh dari kemewahan. Ia bahkan pernah menceritakan bahwa semasa kecilnya, ia tidak selalu memiliki alas kaki untuk dipakai.
Meski dibesarkan dalam kondisi yang sulit, pengalaman itu justru menempa ketangguhan dan semangat juangnya. Berbekal tekad yang kuat, Nirmal Purja berhasil mengukir prestasi hingga dikenal sebagai salah satu pendaki gunung paling berpengaruh di dunia.
2. Menjadi tentara sebelum dikenal sebagai pendaki

Sebelum memutuskan untuk menjadi pendaki profesional, Purja sebelumnya mengabdikan diri sebagai tentara. Ia bergabung dengan satuan militer Inggris yang terkenal dengan kedisiplinan dan keberaniaannya, Bridge of Gurkas pada tahun 2003.
Karier militernya pun tidak main-main, ia berhasil mencatatkan namanya dalam sejarah lantaran menjadi Gurkha pertama yang berhasil lolos ke Special Boat Service (SBS). Prestasi yang sangat membanggakan karena hanya diisi oleh pasukan khusus Angkatan Laut Kerajaan Inggris terbaik. Namun, di tengah karier cemerlangnya sebagai abdi negara, Purja ternyata memilih untuk meninggalkan itu semua demi mengejar mimpinya.
3. Berhasil pecahkan rekor pendakian tercepat 14 gunung tertinggi dunia

Berkarier bertahun-tahun sebagai anggota militer menumbuhkan rasa cintanya pada dunia pendakian. Pada 2012, ia mengunjungi Everest Base Camp dan memutuskan untuk menjadi pendaki profesional. Gunung pertama yang berhasil ia taklukkan adalah Lobuche East dengan ketinggian 6.119 meter.
Kemampuannya di dunia pendakian membawanya meraih penghargaan Member of the Order of the British Empire (MBE) dari Ratu Elizabeth II pada 2018. Setahun kemudian, ia mencetak rekor dunia lewat Project Possible dengan mendaki seluruh 14 gunung berketinggian di atas 8.000 meter hanya dalam waktu enam bulan enam hari.
Prestasi tersebut membuat nama Purja dikenal di seluruh dunia. Kisah perjuangannya kemudian diangkat menjadi film dokumenter Netflix 14 Peaks: Nothing Is Impossible, yang menampilkan perjalanan dan tekadnya dalam menaklukkan tantangan yang dianggap mustahil.
Namun, di tahun 2023, rekor tersebut direbut oleh pendaki asal Norwegia, Kristin Harila, bersama partner pendakiannya asal Nepal, Tenjen (Lama) Sherpa. Mereka berhasil menaklukkan seluruh 14 puncak dalam waktu 92 hari (atau sekitar 3 bulan dan 1 hari) .
4. Meninggal dunia dalam insiden longsoran salju di Pakistan

Rasa cinta Purja pada dunia pendakian seakan tak pernah padam. Pada akhir Juli 2026, Purja mengikuti ekspedisi ke Broad Peak di Pakistan bersama sembilan pendaki lainnya. Saat pendakian berlangsung pada 30 Juli, rombongan tersebut dilaporkan diterjang longsoran salju besar hingga seluruh anggota tim dinyatakan hilang.
Upaya pencarian kemudian dilakukan dengan bantuan drone. Dua hari berselang, seluruh korban berhasil ditemukan dan pihak penyelenggara ekspedisi mengabarkan bahwa Purja bersama sembilan pendaki lainnya telah meninggal dunia.
Kepergian Purja tentunya menjadi duka bagi semua, terutama para pendaki. Setelah berhasil menorehkan banyak prestasi di dunia pendakian, ia mengembuskan napas terakhirnya saat menjalani ekspedisi yang selama ini mencari bagian dari perjalanan hidupnya.






















