Quiet luxury sempat menjadi gambaran kemewahan yang kuat di kalangan anak muda. Gaya ini mengandalkan warna netral seperti krem dan beige, potongan rapi, bahan berkualitas, serta kesan mahal tanpa logo yang mencolok.
Benarkah Quiet Luxury mulai Ditinggalkan oleh Gen Z?

Belakangan, warna dan gaya yang lebih ekspresif mulai sering muncul di media sosial. Apakah quiet luxury mulai ditinggalkan oleh Gen Z? Atau, mereka hanya mengubah cara memaknai kemewahan? Simak ulasannya di bawah ini.
1. Gaya berpakaian Gen Z lebih ekspresif

ilustrasi earth tone outfit (pexels.com/cottonbro studio) Quiet luxury menawarkan penampilan yang rapi dan cenderung aman, tetapi gaya tersebut juga memiliki batas ketika diterapkan terus-menerus. Dominasi warna netral dan potongan pakaian yang sederhana dapat membuat pilihan busana terasa seragam, terutama ketika banyak orang menggunakan formula yang hampir sama untuk mendapatkan kesan elegan. Gen Z yang tumbuh dengan kebiasaan bereksperimen melalui media sosial kemudian mulai mencari cara berpakaian yang terasa lebih berbeda dari sekadar mengikuti satu estetika.
Perubahan tersebut terlihat dari kembalinya popularitas maximalism, yaitu gaya berpakaian ekspresif dengan menggunakan warna, motif, tekstur, dan aksesori dalam satu penampilan. Salah satu turunannya adalah printmaxxing, ketika berbagai motif digunakan secara lebih berani untuk menciptakan tampilan yang ramai dan menarik perhatian. Bagi sebagian Gen Z, pakaian bukan hanya alat untuk terlihat mahal, tetapi juga cara menunjukkan selera, suasana hati, dan karakter tanpa harus mengikuti aturan estetika tertentu.
Menariknya, pergeseran ini tidak berarti pakaian bergaya quiet luxury harus disingkirkan dari lemari. Celana bahan, kemeja putih, blazer, atau atasan polos tetap bisa digunakan, tetapi dipadukan dengan elemen yang lebih mencolok agar hasil akhirnya tidak terlalu formal atau seragam. Cara tersebut melahirkan gaya statement luxury, ketika pakaian dasar yang rapi dipertemukan dengan sepatu berwarna terang, perhiasan berdesain unik, motif ekspresif, atau aksesori yang langsung menarik perhatian.
2. Gen Z mulai terbuka soal kemampuan finansial

ilustrasi masalah finansial (pexels.com/Nicola Barts) Ada alasan lain yang membuat gaya hidup ala quiet luxury terasa semakin kurang relevan bagi sebagian Gen Z, yaitu kondisi finansial. Tampilan stealth wealth atau kemewahan yang sengaja dibuat tidak mencolok tetap membutuhkan barang dengan harga tinggi jika ingin mengikuti versi aslinya, sedangkan banyak anak muda harus berhadapan dengan biaya hidup yang semakin besar. Dalam situasi seperti ini, keinginan untuk terlihat mapan tidak selalu sejalan dengan kemampuan untuk mengeluarkan uang dalam jumlah besar demi pakaian dan barang tertentu.
Dari sinilah loud budgeting mendapat perhatian. Istilah tersebut menggambarkan kebiasaan menyampaikan kondisi keuangan secara terbuka, termasuk ketika seseorang memilih tidak membeli barang mahal, menolak ajakan yang tidak sesuai anggaran, atau mengatakan bahwa suatu pengeluaran memang belum masuk prioritas. Sikap tersebut berbeda dari keinginan untuk terlihat mampu membeli apa pun, karena kemampuan mengatur uang justru dianggap sesuatu yang tidak perlu disembunyikan demi mempertahankan citra.
Perubahan ini cukup menarik jika dikaitkan dengan cara Gen Z melihat penampilan. Mereka tetap bisa tampil rapi dan menarik tanpa harus membeli barang mahal hanya demi mendapatkan kesan tertentu. Pakaian lokal dengan harga lebih masuk akal, barang bekas berkualitas, atau kombinasi pakaian lama dengan aksesori baru dapat menghasilkan penampilan yang tetap memiliki karakter. Dengan begitu, gaya tidak lagi harus menjadi bukti kemampuan finansial, melainkan menjadi bagian dari cara seseorang mengatur uang sekaligus mengekspresikan diri.
3. Makna mewah mulai bergeser dari barang ke pengalaman

ilustrasi memilih pakaian (pexels.com/PNW Production) Perubahan cara berpakaian ternyata hanya satu bagian dari pergeseran yang lebih luas. Bagi sebagian Gen Z, kemewahan mulai dikaitkan dengan sesuatu yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti memiliki waktu luang, tidak terus-menerus dikejar pekerjaan, dapat beristirahat dengan nyaman, atau mempunyai kesempatan menikmati perjalanan tanpa jadwal yang terlalu padat. Dari sini muncul ketertarikan terhadap quiet living dan quietcation, yaitu gagasan untuk mencari ketenangan melalui kehidupan yang lebih sederhana atau perjalanan yang sengaja dibuat jauh dari hiruk-pikuk.
Pandangan tersebut membuat istilah mewah memiliki arti yang lebih personal. Jika sebelumnya kemewahan mudah diasosiasikan dengan pakaian mahal, hotel mewah, atau barang dari merek tertentu, sekarang pengalaman yang membuat seseorang merasa nyaman juga dapat dianggap bernilai. Pergeseran ini tidak berarti Gen Z berhenti menyukai barang bagus, tetapi prioritasnya menjadi lebih beragam karena kualitas hidup, waktu pribadi, dan pengalaman tidak kalah penting dibandingkan dengan kepemilikan barang.
Fenomena quiet luxury mulai ditinggalkan oleh Gen Z tidak serta-merta benar karena unsur dasarnya masih dapat ditemukan dalam pilihan pakaian berkualitas, warna netral, desain sederhana, dan perhatian terhadap kualitas barang, tetapi penerapannya menjadi lebih bebas serta tidak terpaku pada satu tampilan. Pada saat yang sama, ketertarikan terhadap produk lokal menunjukkan bahwa kualitas juga bisa dicari tanpa harus selalu mengandalkan merek mahal, sehingga kemewahan akhirnya lebih banyak ditentukan oleh pilihan pribadi daripada harga atau label yang melekat pada suatu barang.
Perubahan ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak sekadar mengganti satu tren dengan tren lainnya, tetapi sedang memperluas definisi tentang gaya hidup yang dianggap bernilai. Mereka bisa mengenakan pakaian sederhana pada satu hari dan tampil penuh warna pada hari berikutnya, memilih menabung daripada memaksakan pembelian, atau menganggap waktu tenang sebagai sesuatu yang lebih berharga daripada barang mahal. Jadi, quiet luxury mungkin memang tidak lagi sedominan sebelumnya, tetapi semangat di baliknya masih bisa bertahan dalam bentuk yang lebih bebas, personal, dan sesuai dengan kehidupan nyata Gen Z.
Referensi
"Gen Z Is Flipping the Off Switch on Quiet Luxury and Bringing Back Personality." Inclub Magazine. Diakses pada Agustus 2026.
"Why Luxury Needs to Rethink How It Speaks to Gen Z." Business of Fashion. Diakses pada Agustus 2026.
"Is “Quiet Saving” the New Trend? Why Gen Z Is Prioritising Stability Over Luxury in 2026." The Smart Investor. Diakses pada Agustus 2026.




















