ilustrasi memilih pakaian (pexels.com/PNW Production)
Perubahan cara berpakaian ternyata hanya satu bagian dari pergeseran yang lebih luas. Bagi sebagian Gen Z, kemewahan mulai dikaitkan dengan sesuatu yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti memiliki waktu luang, tidak terus-menerus dikejar pekerjaan, dapat beristirahat dengan nyaman, atau mempunyai kesempatan menikmati perjalanan tanpa jadwal yang terlalu padat. Dari sini muncul ketertarikan terhadap quiet living dan quietcation, yaitu gagasan untuk mencari ketenangan melalui kehidupan yang lebih sederhana atau perjalanan yang sengaja dibuat jauh dari hiruk-pikuk.
Pandangan tersebut membuat istilah mewah memiliki arti yang lebih personal. Jika sebelumnya kemewahan mudah diasosiasikan dengan pakaian mahal, hotel mewah, atau barang dari merek tertentu, sekarang pengalaman yang membuat seseorang merasa nyaman juga dapat dianggap bernilai. Pergeseran ini tidak berarti Gen Z berhenti menyukai barang bagus, tetapi prioritasnya menjadi lebih beragam karena kualitas hidup, waktu pribadi, dan pengalaman tidak kalah penting dibandingkan dengan kepemilikan barang.
Fenomena quiet luxury mulai ditinggalkan oleh Gen Z tidak serta-merta benar karena unsur dasarnya masih dapat ditemukan dalam pilihan pakaian berkualitas, warna netral, desain sederhana, dan perhatian terhadap kualitas barang, tetapi penerapannya menjadi lebih bebas serta tidak terpaku pada satu tampilan. Pada saat yang sama, ketertarikan terhadap produk lokal menunjukkan bahwa kualitas juga bisa dicari tanpa harus selalu mengandalkan merek mahal, sehingga kemewahan akhirnya lebih banyak ditentukan oleh pilihan pribadi daripada harga atau label yang melekat pada suatu barang.
Perubahan ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak sekadar mengganti satu tren dengan tren lainnya, tetapi sedang memperluas definisi tentang gaya hidup yang dianggap bernilai. Mereka bisa mengenakan pakaian sederhana pada satu hari dan tampil penuh warna pada hari berikutnya, memilih menabung daripada memaksakan pembelian, atau menganggap waktu tenang sebagai sesuatu yang lebih berharga daripada barang mahal. Jadi, quiet luxury mungkin memang tidak lagi sedominan sebelumnya, tetapi semangat di baliknya masih bisa bertahan dalam bentuk yang lebih bebas, personal, dan sesuai dengan kehidupan nyata Gen Z.
Referensi
"Gen Z Is Flipping the Off Switch on Quiet Luxury and Bringing Back Personality." Inclub Magazine. Diakses pada Agustus 2026.
"Why Luxury Needs to Rethink How It Speaks to Gen Z." Business of Fashion. Diakses pada Agustus 2026.
"Is “Quiet Saving” the New Trend? Why Gen Z Is Prioritising Stability Over Luxury in 2026." The Smart Investor. Diakses pada Agustus 2026.