- "A lady's imagination is very rapid; it jumps from admiration to love, from love to matrimony in a moment."
(Imajinasi perempuan itu sangat cepat; dari kagum bisa langsung jadi cinta, dari cinta langsung bisa terbayang pernikahan dalam sekejap.) - "There are very few who have heart enough to be really in love without encouragement.”
(Hanya sedikit orang yang cukup berani untuk benar-benar jatuh cinta tanpa adanya dorongan atau kepastian.) - "I am determined that only the deepest love will induce me into matrimony..."
(Aku sudah bertekad bahwa hanya cinta yang paling dalam yang akan membawaku ke pernikahan..) - "There is a stubbornness about me that can never bear to be frightened at the will of others. My courage always rises with every attempt to intimidate me."
(Ada keras kepala dalam diriku yang tidak bisa tunduk hanya karena ditakut-takuti orang lain. Justru setiap ada yang mencoba mengintimidasiku, keberanianku selalu meningkat.) - "Vanity and pride are different things, though the words are often used synonymously. A person may be proud without being vain. Pride relates more to our opinion of ourselves, vanity to what we would have others think of us."
(Kesombongan dan harga diri adalah dua hal yang berbeda, meskipun sering dianggap sama. Seseorang bisa memiliki harga diri tanpa menjadi sombong. Harga diri lebih berkaitan dengan penilaian kita terhadap diri sendiri, sedangkan kesombongan berkaitan dengan bagaimana kita ingin dilihat oleh orang lain.) - "Till this moment I never knew myself."
(Sampai saat ini, aku baru menyadari bahwa aku belum benar-benar mengenal diriku sendiri.) - "I could easily forgive his pride, if he had not mortified mine."
(Aku mungkin bisa dengan mudah memaafkan kesombongannya, jika saja dia tidak melukai harga diriku.) - "Those who do not complain are never pitied."
(Mereka yang tidak pernah mengeluh, tidak akan pernah dikasihani.) - "I never could be so happy as you. Till I have your disposition, your goodness, I never can have your happiness.”
(Aku takkan pernah bisa sebahagia dirimu. Selama aku belum memiliki watak dan kebaikan hatimu, aku takkan bisa merasakan kebahagiaan seperti milikmu.) - "It is very often nothing but our own vanity that deceives us.”
(Sangat sering, yang menipu kita sebenarnya tidak lain adalah kesombongan kita sendiri.) - "I declare after all there is no enjoyment like reading! How much sooner one tires of any thing than of a book! - When I have a house of my own, I shall be miserable if I have not an excellent library."
(Sungguh, tidak ada kenikmatan yang menandingi membaca! Orang bisa jauh lebih cepat bosan pada apa pun dibandingkan pada buku. Kelak saat aku punya rumah sendiri, aku akan merasa sengsara jika tidak memiliki perpustakaan yang baik.) - "Anger is not always wise."
(Kemarahan tidak selalu bijaksana.) - "The more I see of the world, the more am I dissatisfied with it; and every day confirms my belief of the inconsistency of all human characters, and of the little dependence that can be placed on the appearance of merit or sense.”
(Semakin banyak aku melihat dunia, semakin aku tidak puas dengannya; dan setiap hari semakin menguatkan keyakinanku bahwa watak manusia begitu tidak konsisten, serta bahwa penampilan kebajikan atau kecerdasan sering kali tidak bisa terlalu dipercaya.) - "You were disgusted with the women who were always speaking and looking, and thinking for your approbation alone. I roused, and interested you, because I was so unlike them.”
(Kamu muak pada perempuan-perempuan yang selalu berbicara, bersikap, dan berpikir hanya demi mendapatkan persetujuanmu. Aku justru menarik perhatianmu karena aku sangat berbeda dari mereka.) - "Follies and nonsense, whims and inconsistencies do divert me, I own, and I laugh at them whenever I can.”
(Aku akui, kebodohan, hal-hal konyol, tingkah aneh, dan ketidakkonsistenan justru menghiburku—dan aku akan menertawakannya kapan pun aku bisa.) - "She had a lively, playful disposition that delighted in anything ridiculous.”
(Ia memiliki sifat yang ceria dan suka bercanda, yang mudah terhibur oleh hal-hal konyol.) - "Nothing is more deceitful... than the appearance of humility.”
(Tidak ada yang lebih menipu daripada tampilan kerendahan hati.) - "There is, I believe, in every disposition a tendency to some particular evil—a natural defect, which not even the best education can overcome.”
(Aku percaya, dalam setiap watak selalu ada kecenderungan pada kelemahan tertentu—cacat alami yang bahkan pendidikan terbaik sekalipun tidak selalu bisa mengatasinya.) - "Yes, vanity is a weakness indeed. But pride—where there is a real superiority of mind, pride will be always under good regulation.”
(Ya, kesombongan memang suatu kelemahan. Tetapi harga diri—jika didasari keunggulan pikiran yang nyata—akan selalu tetap terjaga dan terkendali dengan baik.) - "It is particularly incumbent on those who never change their opinion, to be secure of judging properly at first.”
(Terutama bagi mereka yang tak pernah mengubah pendapatnya, penting untuk memastikan sejak awal bahwa penilaiannya memang sudah tepat.)
50 Quotes dari Buku Jane Austen, Ada yang Relate denganmu?

Intinya Sih
- Kumpulan kutipan dari karya Jane Austen menyoroti tema cinta, harga diri, dan pandangan hidup yang tajam namun elegan, mencerminkan karakter serta nilai sosial pada zamannya.
- Melalui novel seperti *Pride and Prejudice*, *Sense and Sensibility*, dan *Emma*, Austen menghadirkan refleksi tentang emosi manusia, keberanian perempuan, serta pencarian kebahagiaan sejati.
- Artikel ini mengajak pembaca menemukan kutipan yang paling “relate” dengan pengalaman pribadi, sekaligus mengenal sisi romantis dan satir khas tulisan Jane Austen.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Karya-karya Jane Austen dikenal bukan hanya karena kisah romansa klasiknya, tetapi juga karena kutipan-kutipannya yang tajam. Dari soal cinta, pernikahan, hingga cara memandang diri sendiri dan masyarakat. Kalimat-kalimat dalam novel Austen kerap sederhana namun mengena.
Lewat kumpulan quotes dari berbagai bukunya, kamu bisa menemukan potongan pemikiran yang romantis sampai satir khas Austen. Siapa tahu, ada satu atau dua kutipan yang terasa sangat dekat dengan pengalamanmu!
1. Quotes dari buku Pride & Prejudice

2. Quotes dari buku Sense and Sensibility

- “The more I know of the world, the more I am convinced that I shall never see a man whom I can really love. I require so much!”
(Semakin aku mengenal dunia, semakin aku yakin tak akan mudah menemukan pria yang benar-benar bisa kucintai. Standarku memang tinggi.) - “If I could but know his heart, everything would become easy.”
(Andai saja aku bisa tahu isi hatinya, semuanya pasti terasa jauh lebih mudah.) - “I wish, as well as everybody else, to be perfectly happy; but, like everybody else, it must be in my own way.”
(Aku juga ingin bahagia sempurna seperti orang lain—tapi tentu saja, dengan caraku sendiri.) - “Know your own happiness. You want nothing but patience — or give it a more fascinating name, call it hope.”
(Pahami apa yang membuatmu bahagia. Yang kamu butuhkan hanya kesabaran—atau kalau mau terdengar lebih indah, sebut saja harapan.) - “If a book is well written, I always find it too short.”
(Kalau sebuah buku ditulis dengan bagus, rasanya selalu terlalu cepat selesai.) - “To wish was to hope, and to hope was to expect.”
(Menginginkan berarti berharap, dan berharap berarti menanti sesuatu benar-benar terjadi.) - “Do not let the behavior of others destroy your inner peace.”
(Jangan biarkan sikap orang lain merusak ketenangan dalam dirimu.) - “Always resignation and acceptance. Always prudence and honour and duty. Elinor, where is your heart?”
(Selalu pasrah dan menerima. Selalu hati-hati, terhormat, dan penuh kewajiban. Elinor, sebenarnya di mana hatimu?) - “I never wish to offend, but I am so foolishly shy, that I often seem negligent, when I am only kept back by my natural awkwardness.”
(Aku tak pernah berniat menyinggung siapa pun, tapi aku pemalu sekali—sering terlihat cuek, padahal cuma terhambat oleh kikukku sendiri.) - “There is something so amiable in the prejudices of a young mind, that one is sorry to see them give way to the reception of more general opinions.”
(Ada sesuatu yang begitu menggemaskan dari prasangka khas anak muda, sampai rasanya sayang melihatnya hilang tergantikan cara pandang yang lebih umum.) - “It is not what we think or feel that makes us who we are. It is what we do. Or fail to do...”
(Bukan apa yang kita pikirkan atau rasakan yang menentukan diri kita, melainkan apa yang kita lakukan—atau justru gagal kita lakukan.) - “Life could do nothing for her, beyond giving time for a better preparation for death.”
(Hidup seakan tak lagi memberi apa-apa untuknya, selain waktu untuk bersiap menghadapi akhir.) - “Money can only give happiness where there is nothing else to give it.”
(Uang hanya bisa memberi kebahagiaan saat tak ada hal lain yang mampu memberikannya.) - “Sometimes one is guided by what they say of themselves, and very frequently by what other people say of them, without giving oneself time to deliberate and judge.”
(Terkadang kita percaya begitu saja pada apa yang orang katakan tentang dirinya—atau tentang orang lain—tanpa sempat menimbang dan menilai sendiri.) - “She was stronger alone; and her own good sense so well supported her, that her firmness was as unshaken, her appearance of cheerfulness as invariable, as, with regrets so poignant and so fresh, it was possible for them to be.”
(Sendiri justru membuatnya lebih kuat; akal sehatnya menopang dirinya dengan baik, sehingga keteguhannya tak goyah dan wajah cerianya tetap terjaga, meski penyesalan masih terasa begitu nyata.) - “to hope was to expect”
(Berharap berarti menanti sesuatu benar-benar terjadi.) - “...the more I know of the world, the more I am convinced that I shall never see a man whom I can really love.”
(Semakin aku mengenal dunia, semakin aku yakin tak mudah menemukan pria yang benar-benar bisa kucintai.) - “Yes, I found myself, by insensible degrees, sincerely fond of her; and the happiest hours of my life were what I spent with her.”
(Tanpa kusadari, perlahan aku sungguh menyayanginya—dan jam-jam paling bahagia dalam hidupku adalah saat bersamanya.) - “Pray, pray be composed, and do not betray what you feel to every body present”
(Tolong, tenangkan dirimu—jangan sampai semua orang di sini tahu apa yang sebenarnya kamu rasakan.) - “When so many hours have been spent convincing myself I am right, is there not some reason to fear I may be wrong?”
(Ketika sudah begitu lama meyakinkan diri bahwa aku benar, bukankah justru ada alasan untuk khawatir aku mungkin salah?)
3. Quotes dari buku Emma

- “If I loved you less, I might be able to talk about it more.”
(Kalau aku mencintaimu sedikit saja lebih ringan, mungkin aku justru bisa lebih banyak membicarakannya.) - “Silly things do cease to be silly if they are done by sensible people in an impudent way.”
(Hal konyol bisa terasa tak konyol lagi kalau dilakukan orang pintar dengan percaya diri—bahkan agak nekat.) - “I may have lost my heart, but not my self-control.”
(Boleh saja hatiku jatuh, tapi kendali diriku tidak ikut hilang.) - “I always deserve the best treatment because I never put up with any other.”
(Aku selalu pantas diperlakukan dengan baik, karena aku memang tak pernah mau menerima yang kurang dari itu.) - “There are people, who the more you do for them, the less they will do for themselves.”
(Ada orang yang semakin sering dibantu, justru semakin enggan berusaha untuk dirinya sendiri.) - “One half of the world cannot understand the pleasures of the other.”
(Setengah dunia tak akan pernah benar-benar memahami apa yang membuat setengah lainnya bahagia.) - “You must be the best judge of your own happiness.”
(Kamulah yang paling berhak menentukan apa yang membuatmu bahagia.) - “Without music, life would be a blank to me.”
(Tanpa musik, hidup rasanya kosong bagiku.) - “Better be without sense than misapply it as you do.”
(Lebih baik tak punya akal sama sekali daripada menggunakannya dengan cara yang salah seperti itu.) - “Vanity working on a weak head produces every sort of mischief.”
(Kesombongan di kepala yang lemah bisa menimbulkan berbagai macam masalah.)
Demikian ragam quotes dari beberapa buku karya Jane Austen. Buku mana nih yang paling relatable sama kamu?


















